Menyambut Ramadhan 1431 H : Kalam Al-Habib SalimKalam Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiry
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah Tuhan Pemberi karunia Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang mengajarkan Al-Qur’an, Sang pencipta insan dan mengajarkannya pengetahuan, Yang mewajibkan bagi kita di dalam agama Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan menjadikannya sebagai penghapus dosa-dosa dan peningkat derajat di surga yang paling tinggi. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada pemuka keturunan Adnan (yaitu Nabi Muhammad), yang terbaik dari bangsa manusia dan jin, serta semoga tercurahkan kepada keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Amma Ba’du. Telah datang kepada kita bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Bulan yang diturunkan di dalamnya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas segala sesuatu. Bulan yang Allah menjadikan puasa sebagai kewajiban dan shalat malam (Tarawih) sebagai penambah ibadah. Allah mengajarkan bahwa sesungguhnya jalan di bulan yang penuh berkah ini adalah dengan tekad yang kokoh untuk melakukan amal-amal kebajikan. Hendaknya kita melakukan shalat di malam pertama bulan Ramadhan 4 rekaat dimana dibaca untuk setiap rekaatnya 1 maqra (tempat tanda bacaan) dari surat Al-Fath (“Inna fatahna laka…”). Diriwayatkan oleh Al-Khatib Asy-Syirbini di dalam Tafsirnya dengan sanad yang bersambung kepada Nabi SAW bahwa barangsiapa yang melakukan hal tersebut di awal malam Ramadhan, maka ia akan menjalani kehidupannya setahun dalam kebaikan dan berkecukupan. Hendaknya engkau melakukan hal itu.
Wajib bagi seorang mukmin untuk menunaikan puasa Ramadhan dan menyuruh keluarga dan anak-anaknya untuk berpuasa ketika mereka berumur 10 tahun. Hendaknya melatih dan menggiatkan mereka untuk berpuasa ketika mereka sudah berumur 7 tahun. Apalagi kehidupan sekarang tampak semakin mudah. Jika udara panas, sudah ada alat pendingin. Jika udara dingin, sudah ada alat penghangat. Maka tidak ada alasan udara panas ataupun dingin yang menghambat seseorang untuk berpuasa. Ini merupakan suatu nikmat dari Allah untuk memuliakan hambaNya di akhir jaman.
Wajb bagi seorang mukmin untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan, dan tidak ada alasan yang membolehkan untuk tidak berpuasa kecuali alasan yang diatur oleh syariat seperti sakit dan lain-lain. Sebagaimana Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqoroh: 183 )
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Barangsiapa yang sakit, atau dalam keadaan bepergian, dapat mengganti (berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan di hari-hari yang lain. Allah menginginkan kepada kalian kemudahan dan tidak menginginkan kepada kalian kesulitan, dan hendaklah sempurnakan hitungannya dan agungkanlah Allah atas apa-apa yang Dia karuniakan kepada kalian. Semoga kalian menjadi orang-orang yang bersyukur” (QS. Al-Baqoroh: 185 )
Allah juga berfirman di ayat yang lain,
فمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barangsiapa yang sakit, atau dalam keadaan bepergian, dapat mengganti (berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan di hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 184 )
Tidak berpuasa pada siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur (alasan yang disyariatkan) maka termasuk dari dosa-dosa besar yang mengantarkan pelakunya masuk neraka Jahannam.
وأن يعلق بعراقيبه وتشقق أشداقه وتكسر أسنانه
“Terikat urat-uratnya, dihancurkan rahang-rahang mulutnya, dan dirontokkan gigi-giginya” (Diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dari Abi Umamah)
Untuk gigi-giginya yang dipakai mengunyah pada siang hari bulan Ramadhan, tidak ada balasan kecuali dirontokkan. Untuk rahang-rahang mulut yang dipakai untuk membantu mengunyah di siang hari bulan Ramadhan, tidak ada balasan kecuali dihancurkan. Oleh karena itu, hendaknya seorang mukmin berhati-hati untuk tidak berpuasa kecuali jika ada alasan yang dibolehkan oleh syariat.
Juga tidak diperbolehkan bagi seorang yang berpuasa untuk membantu orang yang sengaja meninggalkan puasa, seperti membuka rumah makan untuk mereka, ataupun memberikan kepada mereka uang yang bisa dianggap membantu mereka. Barangsiapa yang membantu seseorang yang sengaja meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, maka ia sama-sama mendapatkan dosa. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
من سَنَّ في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
“Barangsiapa yang menbuat sesuatu baru yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Barangsiapa yang mengadakan sesuatu baru yang jelek, maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (Riyadh Ash-Sholihin dari Jarir)
Hendaknya pula bagi setiap orang di bulan Ramadhan untuk menjaga puasanya dari sesuatu yang dapat membatalkan, seperti makan, minum, berhubungan badan (untuk suami istri), dan lain-lain. Untuk mengetahui ini, perlu untuk mempelajari ilmu Fiqih. Maka hendaklah engkau belajar ilmu Fiqih sehingga dapat mengetahui apa saja yang dapat membatalkan puasa. Selain itu wajib bagi seorang mukmin yang berpuasa untuk menjaga puasanya daripada hal-hal yang dapat membatalkan makna puasa, seperti menggunjing, mengadu domba, berbohong, melihat sesuatu dengan syahwat, dan bersumpah dusta. Hendaknya engkau menjauhi hal-hal tersebut dan menjaga dirimu daripada perbuatan-perbuatan itu.
Hendaknya pula engkau meraih pahala pada malam bulan Ramadhan dengan menjaga untuk shalat Tarawih, karena sesungguhnya ibadah shalat malam bulan Ramadhan merupakan sunnah muakkadah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,
من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”
Setiap malam bulan Ramadhan adalah penuh dengan keberkahan. Dan yang istimewa keberkahannya dalah malam Lailatul Qodar yang biasanya datang di malam ganjil sepuluh terakhir, dan biasanya terjadi pada malam 27. Hendaklah engkau menjaga ibadah shalat pada malam-malam bulan Ramadhan supaya engkau termasuk orang yang mendapatkan malam Lailatul Qodar. Allah berfirman,
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) di malam Lailatul Qodar. Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qodar: 1-4)
Maksudnya, jika engkau beribadah pada malam Lailatul Qodar, maka engkau tertulis beribadah selama seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Ini merupakan kesempatan dan pahala yang luar biasa yang bisa didapatkan seorang mukmin dengan keberkahan bulan Ramadhan.
Hendaklah pula pada bulan Ramadhan ini engkau menyambung tali silaturrahmi semampunya dan senantiasa berbakti kepada kedua orangtua. Hendaknya juga selalu berhati-hati daripada sesuatu yang dapat membatalkan puasa sampai selesainya bulan Ramadhan.
Kami bermohon kepada Allah agar memberikan keberkahan kepada kita semua di bulan Rajab dan Sya’ban, serta menyampaikan kita kepada bulan Ramadhan. Semoga Allah membantu kita dalam melaksanakan puasa dan shalat malam. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha berkuasa atas segala sesuatu, dan Yang Maha cepat mengabulkan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Segala puji Allah Tuhan sekalian alam.
[Disarikan dari http://rubat-tareem.net/?ID=697, dan diterjemahkan oleh Admin Bisyarah]
Mengadakan sambutan-sambutan peringatan Mawlid Junjungan Nabi s.a.w. adalah daripada seutama-utama amalan dan sebesar-besar qurbah, kerana bahawasanya ia adalah luahan atau ungkapan atau ekspresi atas kegembiraan dan kecintaan kepada baginda s.a.w. Cinta mahabbah kepada Junjungan Nabi s.a.w. adalah satu dasar daripada dasar-dasar keimanan.
17 Ogos 2010
Bilangan rakaat solat terawih ikut sunnah
Bilangan rakaat solat terawih ikut sunnah
Posted 16 Ogos 2010 by darululumonline in Sembang Hukum. Tinggalkan Komen
i
Rate This
Oleh Ustaz Zahazan Mohamed
Solat Tarawih boleh dibuat lapan atau 20 rakaat bergantung keputusan imam
Soalan:
SAYA ingin bertanya mengenai isu rakaat Tarawih yang sering diperkatakan apabila tibanya Ramadan. Mengikut apa yang saya fahami, bilangan rakaat Tarawih sebanyak 11 rakaat adalah sunnah. Tetapi mengapa imam Masjid Nabawi dan Masjidilharam melakukan 20 rakaat? Kenapa mereka berbeza dengan sunnah? Absyar,
Click Here
Terengganu
Jawapan:
AMAT malang bagi umat Islam sekiranya isu ini mengakibatkan perpecahan, perbalahan dan fitnah di kalangan umat Islam.
Kita tidak sepatutnya bersikap melampau atau jahil. Sesetengah umat Islam bersikap melampau dalam mengikut bilangan yang disebutkan oleh sunnah dan mengatakan tidak boleh melebihi angka itu. Mereka secara agresif mengutuk kumpulan yang melakukan lebih dari bilangan itu dengan mengatakan orang itu berdosa.
Ini satu sikap yang salah. Bagaimana ia boleh jadi berdosa sedangkan Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai solat malam, Baginda berkata ia dilakukan dua rakaat dan Baginda tidak menyebut bilangan tertentu. Oleh itu, Baginda hanya memberitahu cara melakukan solat, tetapi tidak bilangan rakaat.
Apa yang boleh dikatakan dan difahami, sesungguhnya perkara ini luas perbahasannya. Jika mampu, seseorang boleh melakukan 100 rakaat kemudian melakukan solat witir satu rakaat. Berhubung dengan sabda Baginda SAW: "Solatlah kamu sebagai mana kamu melihat aku solat," ini juga tidaklah bermaksud untuk menetapkan bilangan.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah mengerjakan solat mengikut cara Baginda mengerjakannya, bukan mengikut bilangan rakaat tertentu. Kecuali jika ada hadis yang secara jelas menyatakan bilangan rakaat itu.
Apabila imam sebuah masjid melakukan lapan rakaat, maka hendaklah kita mengikutinya. Begitu juga sekiranya dilakukan 20 rakaat, maka hendaklah juga kita mengikutinya supaya kita tidak terlepas ganjaran besar yang dijanjikan.
Bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmizi menyebut: "Sesiapa berdiri bersama imam sehingga tamat (selesai solat) ganjaran Qiamulail akan dicatat untuknya."
Ibnu Qudamah menyebut dalam al-Mughni iaitu: "Pandangan yang disenangi oleh Abu Abdullah (Imam Ahmad) ialah 20 rakaat. Ini juga adalah pandangan al-Thauri, Abu Hanifah dan Syafie. Imam Malik berkata, bilangan rakaatnya 36.
Bagi mereka yang mengatakan hanya lapan rakaat, iaitu mereka menjadikan dalil daripada hadis Riwayat Imam Bukhari daripada Abu Salamah bin Abdul Rahman, beliau bertanya Aisyah: "Bagaimana Rasulullah SAWsolat dalam bulan Ramadan?" Aisyah menjawab, "Baginda tidak melakukan solat melebihi sebelas rakaat pada bulan Ramadan dan masa-masa lain. Baginda akan solat empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda mengerjakan empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda akan menunaikan tiga rakaat. Aku bertanya, Ya Rasulullah, adakah engkau tidur sebelum witir? Baginda menjawab, Wahai Aisyah, mataku tidur, tetapi hatiku tidak."
Merujuk pandangan empat imam mengenai bilangan rakaat Tarawih, semua berpendapat bilangan lebih daripada 11 rakaat. Alasannya, mereka menganggap hadis itu bukan menentukan bilangan rakaat solat malam. Kalangan ulama pula berpendapat, jika imam mengerjakan solat panjang denganbilanganrakaat sedikit, mungkin mendatangkan perasaan tidak suka terhadap amalan itu. Jadi, kalangan imam hendak menjadikan solat lebih pendek dan bilangan rakaatnya bertambah.
Imam Suyuti mengatakan tidak ada dalil menunjukkan solat Tarawih 20 rakaat. Baginda mengerjakan tanpa menetapkan bilangan khusus.
Justeru, janganlah terkejut jika ada yang melakukan solat Tarawih sehingga 20 rakaat. Kalangan ulama dari generasi ke generasi sudah melakukannya dan semua pendapat ini adalah baik.
Wallahua'lam. http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/bilangan-rakaat-solat-terawih-ikut-sunnah/
Posted 16 Ogos 2010 by darululumonline in Sembang Hukum. Tinggalkan Komen
i
Rate This
Oleh Ustaz Zahazan Mohamed
Solat Tarawih boleh dibuat lapan atau 20 rakaat bergantung keputusan imam
Soalan:
SAYA ingin bertanya mengenai isu rakaat Tarawih yang sering diperkatakan apabila tibanya Ramadan. Mengikut apa yang saya fahami, bilangan rakaat Tarawih sebanyak 11 rakaat adalah sunnah. Tetapi mengapa imam Masjid Nabawi dan Masjidilharam melakukan 20 rakaat? Kenapa mereka berbeza dengan sunnah? Absyar,
Click Here
Terengganu
Jawapan:
AMAT malang bagi umat Islam sekiranya isu ini mengakibatkan perpecahan, perbalahan dan fitnah di kalangan umat Islam.
Kita tidak sepatutnya bersikap melampau atau jahil. Sesetengah umat Islam bersikap melampau dalam mengikut bilangan yang disebutkan oleh sunnah dan mengatakan tidak boleh melebihi angka itu. Mereka secara agresif mengutuk kumpulan yang melakukan lebih dari bilangan itu dengan mengatakan orang itu berdosa.
Ini satu sikap yang salah. Bagaimana ia boleh jadi berdosa sedangkan Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai solat malam, Baginda berkata ia dilakukan dua rakaat dan Baginda tidak menyebut bilangan tertentu. Oleh itu, Baginda hanya memberitahu cara melakukan solat, tetapi tidak bilangan rakaat.
Apa yang boleh dikatakan dan difahami, sesungguhnya perkara ini luas perbahasannya. Jika mampu, seseorang boleh melakukan 100 rakaat kemudian melakukan solat witir satu rakaat. Berhubung dengan sabda Baginda SAW: "Solatlah kamu sebagai mana kamu melihat aku solat," ini juga tidaklah bermaksud untuk menetapkan bilangan.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah mengerjakan solat mengikut cara Baginda mengerjakannya, bukan mengikut bilangan rakaat tertentu. Kecuali jika ada hadis yang secara jelas menyatakan bilangan rakaat itu.
Apabila imam sebuah masjid melakukan lapan rakaat, maka hendaklah kita mengikutinya. Begitu juga sekiranya dilakukan 20 rakaat, maka hendaklah juga kita mengikutinya supaya kita tidak terlepas ganjaran besar yang dijanjikan.
Bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmizi menyebut: "Sesiapa berdiri bersama imam sehingga tamat (selesai solat) ganjaran Qiamulail akan dicatat untuknya."
Ibnu Qudamah menyebut dalam al-Mughni iaitu: "Pandangan yang disenangi oleh Abu Abdullah (Imam Ahmad) ialah 20 rakaat. Ini juga adalah pandangan al-Thauri, Abu Hanifah dan Syafie. Imam Malik berkata, bilangan rakaatnya 36.
Bagi mereka yang mengatakan hanya lapan rakaat, iaitu mereka menjadikan dalil daripada hadis Riwayat Imam Bukhari daripada Abu Salamah bin Abdul Rahman, beliau bertanya Aisyah: "Bagaimana Rasulullah SAWsolat dalam bulan Ramadan?" Aisyah menjawab, "Baginda tidak melakukan solat melebihi sebelas rakaat pada bulan Ramadan dan masa-masa lain. Baginda akan solat empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda mengerjakan empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda akan menunaikan tiga rakaat. Aku bertanya, Ya Rasulullah, adakah engkau tidur sebelum witir? Baginda menjawab, Wahai Aisyah, mataku tidur, tetapi hatiku tidak."
Merujuk pandangan empat imam mengenai bilangan rakaat Tarawih, semua berpendapat bilangan lebih daripada 11 rakaat. Alasannya, mereka menganggap hadis itu bukan menentukan bilangan rakaat solat malam. Kalangan ulama pula berpendapat, jika imam mengerjakan solat panjang denganbilanganrakaat sedikit, mungkin mendatangkan perasaan tidak suka terhadap amalan itu. Jadi, kalangan imam hendak menjadikan solat lebih pendek dan bilangan rakaatnya bertambah.
Imam Suyuti mengatakan tidak ada dalil menunjukkan solat Tarawih 20 rakaat. Baginda mengerjakan tanpa menetapkan bilangan khusus.
Justeru, janganlah terkejut jika ada yang melakukan solat Tarawih sehingga 20 rakaat. Kalangan ulama dari generasi ke generasi sudah melakukannya dan semua pendapat ini adalah baik.
Wallahua'lam. http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/bilangan-rakaat-solat-terawih-ikut-sunnah/
Bilangan rakaat solat terawih ikut sunnah
Bilangan rakaat solat terawih ikut sunnah
Posted 16 Ogos 2010 by darululumonline in Sembang Hukum. Tinggalkan Komen
i
Rate This
Oleh Ustaz Zahazan Mohamed
Solat Tarawih boleh dibuat lapan atau 20 rakaat bergantung keputusan imam
Soalan:
SAYA ingin bertanya mengenai isu rakaat Tarawih yang sering diperkatakan apabila tibanya Ramadan. Mengikut apa yang saya fahami, bilangan rakaat Tarawih sebanyak 11 rakaat adalah sunnah. Tetapi mengapa imam Masjid Nabawi dan Masjidilharam melakukan 20 rakaat? Kenapa mereka berbeza dengan sunnah? Absyar,
Click Here
Terengganu
Jawapan:
AMAT malang bagi umat Islam sekiranya isu ini mengakibatkan perpecahan, perbalahan dan fitnah di kalangan umat Islam.
Kita tidak sepatutnya bersikap melampau atau jahil. Sesetengah umat Islam bersikap melampau dalam mengikut bilangan yang disebutkan oleh sunnah dan mengatakan tidak boleh melebihi angka itu. Mereka secara agresif mengutuk kumpulan yang melakukan lebih dari bilangan itu dengan mengatakan orang itu berdosa.
Ini satu sikap yang salah. Bagaimana ia boleh jadi berdosa sedangkan Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai solat malam, Baginda berkata ia dilakukan dua rakaat dan Baginda tidak menyebut bilangan tertentu. Oleh itu, Baginda hanya memberitahu cara melakukan solat, tetapi tidak bilangan rakaat.
Apa yang boleh dikatakan dan difahami, sesungguhnya perkara ini luas perbahasannya. Jika mampu, seseorang boleh melakukan 100 rakaat kemudian melakukan solat witir satu rakaat. Berhubung dengan sabda Baginda SAW: "Solatlah kamu sebagai mana kamu melihat aku solat," ini juga tidaklah bermaksud untuk menetapkan bilangan.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah mengerjakan solat mengikut cara Baginda mengerjakannya, bukan mengikut bilangan rakaat tertentu. Kecuali jika ada hadis yang secara jelas menyatakan bilangan rakaat itu.
Apabila imam sebuah masjid melakukan lapan rakaat, maka hendaklah kita mengikutinya. Begitu juga sekiranya dilakukan 20 rakaat, maka hendaklah juga kita mengikutinya supaya kita tidak terlepas ganjaran besar yang dijanjikan.
Bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmizi menyebut: "Sesiapa berdiri bersama imam sehingga tamat (selesai solat) ganjaran Qiamulail akan dicatat untuknya."
Ibnu Qudamah menyebut dalam al-Mughni iaitu: "Pandangan yang disenangi oleh Abu Abdullah (Imam Ahmad) ialah 20 rakaat. Ini juga adalah pandangan al-Thauri, Abu Hanifah dan Syafie. Imam Malik berkata, bilangan rakaatnya 36.
Bagi mereka yang mengatakan hanya lapan rakaat, iaitu mereka menjadikan dalil daripada hadis Riwayat Imam Bukhari daripada Abu Salamah bin Abdul Rahman, beliau bertanya Aisyah: "Bagaimana Rasulullah SAWsolat dalam bulan Ramadan?" Aisyah menjawab, "Baginda tidak melakukan solat melebihi sebelas rakaat pada bulan Ramadan dan masa-masa lain. Baginda akan solat empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda mengerjakan empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda akan menunaikan tiga rakaat. Aku bertanya, Ya Rasulullah, adakah engkau tidur sebelum witir? Baginda menjawab, Wahai Aisyah, mataku tidur, tetapi hatiku tidak."
Merujuk pandangan empat imam mengenai bilangan rakaat Tarawih, semua berpendapat bilangan lebih daripada 11 rakaat. Alasannya, mereka menganggap hadis itu bukan menentukan bilangan rakaat solat malam. Kalangan ulama pula berpendapat, jika imam mengerjakan solat panjang denganbilanganrakaat sedikit, mungkin mendatangkan perasaan tidak suka terhadap amalan itu. Jadi, kalangan imam hendak menjadikan solat lebih pendek dan bilangan rakaatnya bertambah.
Imam Suyuti mengatakan tidak ada dalil menunjukkan solat Tarawih 20 rakaat. Baginda mengerjakan tanpa menetapkan bilangan khusus.
Justeru, janganlah terkejut jika ada yang melakukan solat Tarawih sehingga 20 rakaat. Kalangan ulama dari generasi ke generasi sudah melakukannya dan semua pendapat ini adalah baik.
Wallahua'lam. http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/bilangan-rakaat-solat-terawih-ikut-sunnah/
Posted 16 Ogos 2010 by darululumonline in Sembang Hukum. Tinggalkan Komen
i
Rate This
Oleh Ustaz Zahazan Mohamed
Solat Tarawih boleh dibuat lapan atau 20 rakaat bergantung keputusan imam
Soalan:
SAYA ingin bertanya mengenai isu rakaat Tarawih yang sering diperkatakan apabila tibanya Ramadan. Mengikut apa yang saya fahami, bilangan rakaat Tarawih sebanyak 11 rakaat adalah sunnah. Tetapi mengapa imam Masjid Nabawi dan Masjidilharam melakukan 20 rakaat? Kenapa mereka berbeza dengan sunnah? Absyar,
Click Here
Terengganu
Jawapan:
AMAT malang bagi umat Islam sekiranya isu ini mengakibatkan perpecahan, perbalahan dan fitnah di kalangan umat Islam.
Kita tidak sepatutnya bersikap melampau atau jahil. Sesetengah umat Islam bersikap melampau dalam mengikut bilangan yang disebutkan oleh sunnah dan mengatakan tidak boleh melebihi angka itu. Mereka secara agresif mengutuk kumpulan yang melakukan lebih dari bilangan itu dengan mengatakan orang itu berdosa.
Ini satu sikap yang salah. Bagaimana ia boleh jadi berdosa sedangkan Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai solat malam, Baginda berkata ia dilakukan dua rakaat dan Baginda tidak menyebut bilangan tertentu. Oleh itu, Baginda hanya memberitahu cara melakukan solat, tetapi tidak bilangan rakaat.
Apa yang boleh dikatakan dan difahami, sesungguhnya perkara ini luas perbahasannya. Jika mampu, seseorang boleh melakukan 100 rakaat kemudian melakukan solat witir satu rakaat. Berhubung dengan sabda Baginda SAW: "Solatlah kamu sebagai mana kamu melihat aku solat," ini juga tidaklah bermaksud untuk menetapkan bilangan.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah mengerjakan solat mengikut cara Baginda mengerjakannya, bukan mengikut bilangan rakaat tertentu. Kecuali jika ada hadis yang secara jelas menyatakan bilangan rakaat itu.
Apabila imam sebuah masjid melakukan lapan rakaat, maka hendaklah kita mengikutinya. Begitu juga sekiranya dilakukan 20 rakaat, maka hendaklah juga kita mengikutinya supaya kita tidak terlepas ganjaran besar yang dijanjikan.
Bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmizi menyebut: "Sesiapa berdiri bersama imam sehingga tamat (selesai solat) ganjaran Qiamulail akan dicatat untuknya."
Ibnu Qudamah menyebut dalam al-Mughni iaitu: "Pandangan yang disenangi oleh Abu Abdullah (Imam Ahmad) ialah 20 rakaat. Ini juga adalah pandangan al-Thauri, Abu Hanifah dan Syafie. Imam Malik berkata, bilangan rakaatnya 36.
Bagi mereka yang mengatakan hanya lapan rakaat, iaitu mereka menjadikan dalil daripada hadis Riwayat Imam Bukhari daripada Abu Salamah bin Abdul Rahman, beliau bertanya Aisyah: "Bagaimana Rasulullah SAWsolat dalam bulan Ramadan?" Aisyah menjawab, "Baginda tidak melakukan solat melebihi sebelas rakaat pada bulan Ramadan dan masa-masa lain. Baginda akan solat empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda mengerjakan empat rakaat dan janganlah bertanya betapa khusyuk dan panjangnya solat-solat itu. Kemudian Baginda akan menunaikan tiga rakaat. Aku bertanya, Ya Rasulullah, adakah engkau tidur sebelum witir? Baginda menjawab, Wahai Aisyah, mataku tidur, tetapi hatiku tidak."
Merujuk pandangan empat imam mengenai bilangan rakaat Tarawih, semua berpendapat bilangan lebih daripada 11 rakaat. Alasannya, mereka menganggap hadis itu bukan menentukan bilangan rakaat solat malam. Kalangan ulama pula berpendapat, jika imam mengerjakan solat panjang denganbilanganrakaat sedikit, mungkin mendatangkan perasaan tidak suka terhadap amalan itu. Jadi, kalangan imam hendak menjadikan solat lebih pendek dan bilangan rakaatnya bertambah.
Imam Suyuti mengatakan tidak ada dalil menunjukkan solat Tarawih 20 rakaat. Baginda mengerjakan tanpa menetapkan bilangan khusus.
Justeru, janganlah terkejut jika ada yang melakukan solat Tarawih sehingga 20 rakaat. Kalangan ulama dari generasi ke generasi sudah melakukannya dan semua pendapat ini adalah baik.
Wallahua'lam. http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/bilangan-rakaat-solat-terawih-ikut-sunnah/
Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly
Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly
Saturday, 22 August 2009 18:16
Article Index
Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly
Halaman 2
All Pages
Page 1 of 2
Sesungguhnya ada tiga tingkatan puasa: biasa, khusus dan sangat khusus.
Puasa biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.
Sedang puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Jenis puasa demikian dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.
Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia sertajanji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, “Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6: 91).
Syarat-syarat Batin
Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya:
1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, “pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. ” (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”
2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur’an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, “Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, ‘Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong.”
Rasulullah saw. bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa’!” (H.r. Bukhari Muslim).
3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur’an Allah swt. berfirman, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal.” (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, “Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?” (Q.s. 5: 63).
Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, ‘Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka …” (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (H.r. at Tirmidzi).
4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.
Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan.
Bersabda Rasulullah saw, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!” (H.r. an Nasa’i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/puasa-sufi-imam-al-ghazaly/
Saturday, 22 August 2009 18:16
Article Index
Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly
Halaman 2
All Pages
Page 1 of 2
Sesungguhnya ada tiga tingkatan puasa: biasa, khusus dan sangat khusus.
Puasa biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.
Sedang puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Jenis puasa demikian dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.
Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia sertajanji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, “Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6: 91).
Syarat-syarat Batin
Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya:
1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, “pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. ” (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”
2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur’an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, “Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, ‘Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong.”
Rasulullah saw. bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa’!” (H.r. Bukhari Muslim).
3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur’an Allah swt. berfirman, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal.” (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, “Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?” (Q.s. 5: 63).
Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, ‘Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka …” (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (H.r. at Tirmidzi).
4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.
Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan.
Bersabda Rasulullah saw, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!” (H.r. an Nasa’i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/puasa-sufi-imam-al-ghazaly/
Tasawwuff Ramadhan dan Kemuliaan Cubaan
Tasawwuff Ramadhan dan Kemuliaan Cubaan
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن نصره ووالاه
Tasawwuff Ramadhan dan Kemuliaan Cubaan
“Barang siapa yang tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan halusnya kebaikan yang Dia berikan maka dia akan diikat dengan rantai cubaan”
Manusia ada dua jenis, iaitu manusia yang mengetahui (makrifat) kepada ALLAH kerana diberi احسان (nikmat-nikmat) dan manusia yang makrifat kepada ALLAH kerana diberi cubaan. Kedua jenis manusia ini, semua adalah atas kehendak ALLAH Subhanahu Wa Taala. ALLAH Subhanahu Wa Taala adalah dzat yang maha bijaksana sehingga akan memberi nikmat atau cubaan atas kehendak-Nya sendiri.
Mempercayai kewujudan Malaikat. Ia hanya menekankan keperluan semua pekerja dan muslim untuk merasa menyakini bahawa ada Malaikat yang mencatat semua perbuatan kita luar dan dalam.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Ertinya : Tiada satu lafaz pun yang engkau sebutkan, kecuali ada baginya malaikat Raqib dan Atid yang mencatat [Qaf : 18]
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(Surah Al-Qaf 2:269)
Semua makhluk diberi kebaikan baik muslim ataupun kafir, orang baik ataupun orang jahat. Sebagaimana firman ALLAH :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
20. Kepada masing-masing golongan baik golongan Ini maupun golongan itu[849] kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.
[849] yang dimaksud baik golongan Ini maupun golongan itu ialah mereka yang tersebut dalam ayat 18 dan 19 di atas.
[Surah Al-Isra' : 18-20]
Semua manusia memang diberi kenikmatan oleh ALLAH, namun ada yang diberi secara banyak dan ada yang sedikit. Ada yang diangkat dan ada yang direndahkan. Ini semua adalah untuk memberi ujian kepada manusia. Bagi yang diangkat ada yang berasa bersyukur serta memanjatkan kesyukuraan dengan bersikap qanaah dengan pemberiaan ALLAH SWT. Namun, ada juga bagi yang diangkat dengan darjat, masih merasa tidak mencukupi dan berasa sepi.
Manakala bagi yang merasa dirinya rendah atau direndahkan pangkatnya, tidak kurang yang memanjangkan kegembiraannya dengan tetap memberi sumbangan sedekah kepada yang memerlukan. Tidak kurang pula yang berasa rendah pangkat ini menghela nafas kecewa kenapa dia yang dijauhkan dari kenikmatan berpangkat.
Jadi, dunia saya dan tuan-tuan pijakkan kaki ini adalah cubaan bagi manusia. Orang yang diberi pangkat apakah masih ingat dengan bawahannya dan apakah orang yang menjadi bawahan mahu berterima kasih kepada atasannya. Inilah yang telah dijelaskan oleh ALLAH dalam surah Al-An’am : 165
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (165)
“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-An’am : 165]
Nikmat yang telah diberikan oleh ALLAH SUbhanahu Wa Taala kepada manusia memang berbeda-beda. Ada yang sangat disukai manusia dan ada yang kurang digemari sehingga ke tahap benci. Oleh karena itu setelah kita tahu bahawa semua yang diberi nikmat dengan kesukaan oleh ALLAH maka kita harus bersyukur. Sebagaimana firman ALLAH :
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ (60)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
[Surah Ar-Rahman : 60]
Lalu apakah kita memberi manfaat kepada ALLAH SUbhanahu Wa Taala sehingga ALLAH SUbhanahu Wa Taala memberi kebagusan, kenikmatan, kemewahan, ketenangan kepada kita? Tentu sahaja tidak, ALLAH SUbhanahu Wa Taala memberi nikmat tanpa menunggu adanya manfaat dari kita. Hal ini sangat berbeza dengan watak manusia. Manusia hanya akan senang kepada orang yang berbuat baik kepada mereka. Setuju ?
Orang yang mahu bersyukur kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala pasti akan diberi tambahan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala. Jadi احسان ALLAH diberi kepadanya adalah dua kali, pertama ALLAH memberi nikmat dan yang kedua ALLAH memberi tambahan jika manusia mahu bersyukur.
Ada orang yang tidak mahu bersyukur maka dia adalah orang yang sombong. Dia diberi mata, kaki, tangan, tapi tidak mahu bersyukur, paling hina dia sanggup menggunakan anggota yang dipinjamkannya oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala untuk dia melakukan maksiat. Orang ini adalah orang yang telah kalah dalam menghadapi nafsunya. Orang yang telah sombong maka situasi yang tidak disedarinya bahawa dia dalam keadaan berbahaya kerana ALLAH Subhanahu Wa Taala tidak akan mengampuninya. Dalam surah Al-An’am ayat 44, ALLAH Subhanahu Wa Taala telah berfirman :
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44)
44. “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami seksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
[Surah : Al-An’am : 44]
Mari kita merenung nasib Amerika Syarikat, sebuah negara yang kaya dengan majoriti penduduknya orang-orang kafir dan orang Islam hidup dalam kesengsaraan [Sila kaitkan dengan Negara Kita]. Ini tidak lain kerana ALLAH Subhanahu Wa Taala memberi cubaan kepada mereka. Mereka tidak ditumpaskan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala melalui bala tentera NYA, malah diberi pula dengan semua kenikmatan di dunia ini. Nah, gejala seks bebas itu nikmatkah? Lahir anak tiada berbapa dan beribu dikira kayu ukur ketamadunan? Atau bagaimana perlumbaan senjata mengakibatkan bencana di seluruh dunia? Bukankah di mana ada Amerika atau simbol-simboI terkenalnya seperti Mc Donalds, Coca Cola dan sebagainya, bumi tersebut akan dicemari penyakit al-wahan? nilah yang telah diisyaratkan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala dalam surah Al-An’am ayat 44 di atas. Yang difikirkan oleh Amerika hanyalah kemajuan dan keuntungan, dan ia dilihat oleh manusia dunia umumnya dengan mata kasar sebagai kayu ukur kemajuan peradaban insan. Tetapi tidak kepada manusia yang memandang dunia tidak lebih sebagai sebuah persinggahan.
Manusia tidak ingat kepada ALLAH kerana selalu hidup dengan kenikmatan, kemudahan dan kesenangan. Untuk itu ALLAH Subhanahu Wa Taala memberi cubaan agar manusia ingat kembali kepada-Nya. Nikmat itu ada dua, iaitu nikmat dhahir dan nikmat batin. Kedua nikmat tersebut adalah cubaan dari ALLAH Subhanahu Wa Taala. Kaya atau miskin, semuanya adalah cubaan. Ini semua dilakukan untuk melihat seberapa teguh keimanan seseorang kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala. Dalam surah [Al-Anbiya' : 35] telah dijelaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35)
35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Manusia diberi harta, kesihatan, dan nikmat, kesemuanya berupa cubaan. Jadi kita harus selalu bersyukur kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala. Ketika ini ramai orang yang tidak mahu bersyukur. Dan orang yang tidak mahu bersyukur akan mendapat cubaan berat daripada ALLAH Subhanahu Wa Taala berupa harta melimpah ruah, hati yang gundah semua ini diturunkan kepada si kaya dan si miskin yang hatinya jauh dari muraqabatullah. Inilah yang diisyarahkan oleh Ibnu Athaillah قيد إليه بسلاسل الامتحان.
“وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم”
Wallahu’alam
Melalui bimbingan ALLAH SWT Yang Maha Mulia :
Al-Faqir ila ALLAH Al-Qawwiy : Almukminun
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/tasawwuff-ramadhan-dan-kemuliaan-cubaan/
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن نصره ووالاه
Tasawwuff Ramadhan dan Kemuliaan Cubaan
“Barang siapa yang tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan halusnya kebaikan yang Dia berikan maka dia akan diikat dengan rantai cubaan”
Manusia ada dua jenis, iaitu manusia yang mengetahui (makrifat) kepada ALLAH kerana diberi احسان (nikmat-nikmat) dan manusia yang makrifat kepada ALLAH kerana diberi cubaan. Kedua jenis manusia ini, semua adalah atas kehendak ALLAH Subhanahu Wa Taala. ALLAH Subhanahu Wa Taala adalah dzat yang maha bijaksana sehingga akan memberi nikmat atau cubaan atas kehendak-Nya sendiri.
Mempercayai kewujudan Malaikat. Ia hanya menekankan keperluan semua pekerja dan muslim untuk merasa menyakini bahawa ada Malaikat yang mencatat semua perbuatan kita luar dan dalam.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Ertinya : Tiada satu lafaz pun yang engkau sebutkan, kecuali ada baginya malaikat Raqib dan Atid yang mencatat [Qaf : 18]
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(Surah Al-Qaf 2:269)
Semua makhluk diberi kebaikan baik muslim ataupun kafir, orang baik ataupun orang jahat. Sebagaimana firman ALLAH :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
20. Kepada masing-masing golongan baik golongan Ini maupun golongan itu[849] kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.
[849] yang dimaksud baik golongan Ini maupun golongan itu ialah mereka yang tersebut dalam ayat 18 dan 19 di atas.
[Surah Al-Isra' : 18-20]
Semua manusia memang diberi kenikmatan oleh ALLAH, namun ada yang diberi secara banyak dan ada yang sedikit. Ada yang diangkat dan ada yang direndahkan. Ini semua adalah untuk memberi ujian kepada manusia. Bagi yang diangkat ada yang berasa bersyukur serta memanjatkan kesyukuraan dengan bersikap qanaah dengan pemberiaan ALLAH SWT. Namun, ada juga bagi yang diangkat dengan darjat, masih merasa tidak mencukupi dan berasa sepi.
Manakala bagi yang merasa dirinya rendah atau direndahkan pangkatnya, tidak kurang yang memanjangkan kegembiraannya dengan tetap memberi sumbangan sedekah kepada yang memerlukan. Tidak kurang pula yang berasa rendah pangkat ini menghela nafas kecewa kenapa dia yang dijauhkan dari kenikmatan berpangkat.
Jadi, dunia saya dan tuan-tuan pijakkan kaki ini adalah cubaan bagi manusia. Orang yang diberi pangkat apakah masih ingat dengan bawahannya dan apakah orang yang menjadi bawahan mahu berterima kasih kepada atasannya. Inilah yang telah dijelaskan oleh ALLAH dalam surah Al-An’am : 165
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (165)
“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-An’am : 165]
Nikmat yang telah diberikan oleh ALLAH SUbhanahu Wa Taala kepada manusia memang berbeda-beda. Ada yang sangat disukai manusia dan ada yang kurang digemari sehingga ke tahap benci. Oleh karena itu setelah kita tahu bahawa semua yang diberi nikmat dengan kesukaan oleh ALLAH maka kita harus bersyukur. Sebagaimana firman ALLAH :
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ (60)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
[Surah Ar-Rahman : 60]
Lalu apakah kita memberi manfaat kepada ALLAH SUbhanahu Wa Taala sehingga ALLAH SUbhanahu Wa Taala memberi kebagusan, kenikmatan, kemewahan, ketenangan kepada kita? Tentu sahaja tidak, ALLAH SUbhanahu Wa Taala memberi nikmat tanpa menunggu adanya manfaat dari kita. Hal ini sangat berbeza dengan watak manusia. Manusia hanya akan senang kepada orang yang berbuat baik kepada mereka. Setuju ?
Orang yang mahu bersyukur kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala pasti akan diberi tambahan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala. Jadi احسان ALLAH diberi kepadanya adalah dua kali, pertama ALLAH memberi nikmat dan yang kedua ALLAH memberi tambahan jika manusia mahu bersyukur.
Ada orang yang tidak mahu bersyukur maka dia adalah orang yang sombong. Dia diberi mata, kaki, tangan, tapi tidak mahu bersyukur, paling hina dia sanggup menggunakan anggota yang dipinjamkannya oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala untuk dia melakukan maksiat. Orang ini adalah orang yang telah kalah dalam menghadapi nafsunya. Orang yang telah sombong maka situasi yang tidak disedarinya bahawa dia dalam keadaan berbahaya kerana ALLAH Subhanahu Wa Taala tidak akan mengampuninya. Dalam surah Al-An’am ayat 44, ALLAH Subhanahu Wa Taala telah berfirman :
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44)
44. “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami seksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
[Surah : Al-An’am : 44]
Mari kita merenung nasib Amerika Syarikat, sebuah negara yang kaya dengan majoriti penduduknya orang-orang kafir dan orang Islam hidup dalam kesengsaraan [Sila kaitkan dengan Negara Kita]. Ini tidak lain kerana ALLAH Subhanahu Wa Taala memberi cubaan kepada mereka. Mereka tidak ditumpaskan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala melalui bala tentera NYA, malah diberi pula dengan semua kenikmatan di dunia ini. Nah, gejala seks bebas itu nikmatkah? Lahir anak tiada berbapa dan beribu dikira kayu ukur ketamadunan? Atau bagaimana perlumbaan senjata mengakibatkan bencana di seluruh dunia? Bukankah di mana ada Amerika atau simbol-simboI terkenalnya seperti Mc Donalds, Coca Cola dan sebagainya, bumi tersebut akan dicemari penyakit al-wahan? nilah yang telah diisyaratkan oleh ALLAH Subhanahu Wa Taala dalam surah Al-An’am ayat 44 di atas. Yang difikirkan oleh Amerika hanyalah kemajuan dan keuntungan, dan ia dilihat oleh manusia dunia umumnya dengan mata kasar sebagai kayu ukur kemajuan peradaban insan. Tetapi tidak kepada manusia yang memandang dunia tidak lebih sebagai sebuah persinggahan.
Manusia tidak ingat kepada ALLAH kerana selalu hidup dengan kenikmatan, kemudahan dan kesenangan. Untuk itu ALLAH Subhanahu Wa Taala memberi cubaan agar manusia ingat kembali kepada-Nya. Nikmat itu ada dua, iaitu nikmat dhahir dan nikmat batin. Kedua nikmat tersebut adalah cubaan dari ALLAH Subhanahu Wa Taala. Kaya atau miskin, semuanya adalah cubaan. Ini semua dilakukan untuk melihat seberapa teguh keimanan seseorang kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala. Dalam surah [Al-Anbiya' : 35] telah dijelaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35)
35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Manusia diberi harta, kesihatan, dan nikmat, kesemuanya berupa cubaan. Jadi kita harus selalu bersyukur kepada ALLAH Subhanahu Wa Taala. Ketika ini ramai orang yang tidak mahu bersyukur. Dan orang yang tidak mahu bersyukur akan mendapat cubaan berat daripada ALLAH Subhanahu Wa Taala berupa harta melimpah ruah, hati yang gundah semua ini diturunkan kepada si kaya dan si miskin yang hatinya jauh dari muraqabatullah. Inilah yang diisyarahkan oleh Ibnu Athaillah قيد إليه بسلاسل الامتحان.
“وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم”
Wallahu’alam
Melalui bimbingan ALLAH SWT Yang Maha Mulia :
Al-Faqir ila ALLAH Al-Qawwiy : Almukminun
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/08/16/tasawwuff-ramadhan-dan-kemuliaan-cubaan/
12 Julai 2010
Majlis KL BERSELAWAT di Masjid Asy-Syakirin, KLCC
Majlis KL BERSELAWAT di Masjid Asy-Syakirin, KLCC
MASJID ASY-SYAKIRIN, KLCC
Salam, Majlis KL BERSELAWAT akan diadakan di Masjid Asy-Syakirin, KLCC pada 18 Julai 2010. Jumpa anda di sana! Menuju Mahabbah Rasulullah s.a.w!
http://wp.me/piAx4-2dG
MASJID ASY-SYAKIRIN, KLCC
Salam, Majlis KL BERSELAWAT akan diadakan di Masjid Asy-Syakirin, KLCC pada 18 Julai 2010. Jumpa anda di sana! Menuju Mahabbah Rasulullah s.a.w!
http://wp.me/piAx4-2dG
01 Julai 2010
MAJLIS SAMBUTAN SEMPENA ISRAK MIKRAJ - YBHG DATUK HASAN DIN AL-HAFIZ
SAMBUTAN SEMPENA ISRAK MIKRAJ - YBHG DATUK HASAN DIN AL-HAFIZ
MASJID AL-FALAH USJ 9 (MAF)
MAF akan mengadakan
BUAL BICARA ISLAM
pada :
9 Julai 2010 = 26 Rejab 1431
HARI JUMAAT
masa
SELEPAS MAGHRIB
ahli panel :
YBHG DATUK HASAN DIN AL-HAFIZ
(Mantan Pegawai Agama Istana Negara)
YBHG SYEIKH OTHMAN HAMZAH AL-MAQARI
(Mantan Imam Besar Masjid Negeri, Shah Alam)
tuan/puan semua dijemput hadir
http://wp.me/piAx4-27v
MASJID AL-FALAH USJ 9 (MAF)
MAF akan mengadakan
BUAL BICARA ISLAM
pada :
9 Julai 2010 = 26 Rejab 1431
HARI JUMAAT
masa
SELEPAS MAGHRIB
ahli panel :
YBHG DATUK HASAN DIN AL-HAFIZ
(Mantan Pegawai Agama Istana Negara)
YBHG SYEIKH OTHMAN HAMZAH AL-MAQARI
(Mantan Imam Besar Masjid Negeri, Shah Alam)
tuan/puan semua dijemput hadir
http://wp.me/piAx4-27v
24 Jun 2010
Menghayati keistimewaan bulan Rejab
Menghayati keistimewaan bulan Rejab
DIkirim oleh epondok di Jun 20, 2010
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN
Dengan izin Allah SWT, kita sudahpun berada di pertengahan bulan Rejab dalam tahun Hijrah 1431 ini. Jika diperhatikan, manusia berbeza-beza dalam menyambut kedatangan bulan Rejab setiap tahun.
Ada yang langsung tidak menyedari datang dan perginya Rejab kerana terlampau sibuk dan kurang peka pula pada perjalanan takwim Islam. Tidak kurang yang menyambut kedatangan Rejab dengan penuh gembira dan bersemangat serta mempertingkatkan amalan di dalamnya.
Ada pula yang menyambutnya dengan terlampau mempermasalahkan dan mempertikaikan keistimewaannya dan kewajaran menambahkan amalan padanya.
Kita merasakan bahawa mereka yang paling beruntung adalah mereka yang memahami dan mengenali Rejab serta menunaikan hak hari-harinya sebagaimana yang selayaknya tanpa melampau atau mencuaikan.
Bagi kebanyakan mereka yang meraikan kedatangan Rejab, bulan ini dirasakan begitu istimewa kerana ia menandakan hampir ketibaan tetamu agung, Ramadan al-Mubarak.
Ramadan sudah tentulah dirindui dan dinanti-nanti oleh setiap mereka yang beriman dan para pencinta Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Tempias kecintaan kita kepada Ramadan turut terkena pada Rejab dan Syaaban sebagai pengapit dan pendamping setia kepada Ramadan.
Keterkaitan dalam keberkatan bulan-bulan Rejab, Syaaban dan Ramadan terlihat dalam sepotong doa yang diriwayatkan oleh Anas r.a daripada Rasulullah SAW yang bererti, “Ya Allah, Berkatilah kami pada bulan Rejab dan Syaaban, serta panjangkanlah umur kami hingga sampai ke bulan Ramadan”. (diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam al-Syua’aab, Ibn Abi al-Dunya dan Ibn Sunniy).
Sebenarnya keistimewaan Rejab turut disebut di dalam al-Quran dengan menyenaraikannya sebagai salah satu daripada empat bulan haram. Allah berfirman yang maksud-Nya: Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…. (at-Taubah: 36)
Para ulama bersepakat Rejab adalah antara bulan yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam ayat ini dan beberapa ayat lain. Jelas bahawa Allah SWT sendiri di dalam al-Quran telah memuliakan bulan Rejab dengan mengisytiharkannya sebagai salah satu daripada bulan-bulan haram.
Mengikut pandangan yang masyhur di kalangan ulama, Allah SWT juga telah memuliakan bulan Rejab dengan berlakunya di antara peristiwa terpenting dalam sirah Nabi SAW iaitu peristiwa Israk dan Mikraj di dalamnya.
Sebagai golongan hamba-Nya yang terpilih, keistimewaan bulan Rejab tidak terlepas daripada pandangan ulama baik dahulu dan sekarang. Mereka telah menunjukkan contoh serta menggalakkan kita mempertingkatkan amalan dengan bersangka baik dengan Allah SWT bahawa dengan keberkatan bulan ini ganjaran amalan dan rahmat Allah SWT akan berlipat ganda. (Imam Ibn Jarir al-Tobari ada meriwayatkan pandangan Ibn Abbas r.a mengenai hal ini dalam tafsirnya).
Jika dikira hubungan Rejab, Syaaban dan Ramadan memang sesuailah kita lebih banyak berpuasa dan solat sunat, tilawah al-Quran, berzikir dan bersedekah sebagai membina momentum ke arah penghayatan Ramadan yang lebih cemerlang.
Sebahagian ulama menganjurkan kita membanyakkan istighfar di bulan Rejab dengan semangat al-Takhalliy iaitu untuk mengosongkan atau membersihkan diri kita. Ini disusuli penganjuran kita memperbanyakkan berselawat ke atas Nabi SAW di bulan Syaaban sebagai fasa al-Tahalliy yang bererti mengisi atau memperhiaskan diri sesudah diri kita dikosongkan dan dibersihkan dengan istighfar dan taubat.
Sesudah kita bersiap dengan membersih dan memperhiaskan diri barulah layak untuk kita bertaqarrub langsung dengan Allah SWT (al-Tajalliy) dengan memperbanyakkan tilawah al-Quran, sepanjang Ramadan.
Jika direnungi, anjuran para ulama ini sangat mendalam falsafah dan hikmahnya demi membantu kita menghayati bulan-bulan yang mulia ini dengan lebih bermakna.
Jika menjadi keyakinan setiap mukmin bahawa hidup dunia ini sebagai suatu ujian atau peperiksaan besar, maka Ramadan dan segala hari dan bulan yang istimewa dalam Islam bolehlah dianggap sebagai kelas-kelas tambahan atau ujian-ujian latihan. Ia akan mendorong kita sentiasa peka dan siap-siaga dalam mengharungi proses ujian tersebut.
Dengan segala kelemahan yang ada pada diri insan adalah sukar untuk menempah kejayaan dalam ujian kehidupan ini jika kita tidak dapat menumpang belas ihsan dan rahmat Ilahi. Dan sememangnya Allah SWT maha kaya dengan sifat rahim, ihsan dan adil serta segala sifat-sifat kesempurnaan.
Di antara gambaran ihsan dan keadilan Allah SWT bagi kita para hambanya yang diletakkan dalam ujian yang getir ini, kita tidaklah dibiarkan sendirian tanpa panduan. Selari dengan fitrah manusia sukakan kepelbagaian, silih-berganti hari dan bulan Islam berserta dengan kaitannya dengan sirah Nabi memberi ruang untuk kita memperkukuhkan tautan kita dengan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.
Di bulan Rejab ini banyak masjid, surau dan institusi mengambil peluang mengadakan ceramah dan majlis Israk Mikraj. Perbuatan ini jika dianggap sebagai suatu adat dan tradisi untuk menghimpunkan orang ramai bagi mendekatkan diri mereka dengan agama tanpa dianggap sebagai suatu pensyariatan adalah suatu amalan yang terpuji dan tidak bercanggah dengan mana-mana usul agama.
Malah para pendakwah dan mereka yang cintakan agama sepatutnya sentiasa mencari munasabah bagi menghimpun orang-ramai dalam majlis-majlis yang dipenuhi dengan penambahan ilmu, peringatan, doa dan zikir.
Inilah antara pandangan tokoh besar ulama dunia Islam, al-Muhaddith Dr. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani r.a dalam tulisan khususnya mengenai Israk dan Mikraj bertajuk al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khayr al-Bariyyah.
Beliau turut menegur golongan yang menentang penganjuran majlis sedemikian dengan katanya: “Memanfaatkan perhimpunan orang ramai dengan memberikan peringatan, petunjuk, nasihat dan mengarahkan mereka kepada kebaikan adalah lebih utama daripada menghalang, menolak dan mengingkari perhimpunan mereka dengan alasan yang tidak ke mana. Selama ini pun, apa yang dapat dilihat tegahan mereka tidak pun memberikan sebarang kesan”.
Sememangnya peristiwa Israk dan Mikraj menyajikan pelbagai pengajaran untuk memperkukuhkan lagi ikatan iman umat. Selain antara mukjizat besar yang membuktikan kenabian Nabi kita SAW, ia telah menjadi saat umat Islam dianugerahi ibadah solat sebagai Mikraj roh kepada Allah setiap hari.
Ia juga memperjelaskan keistimewaan kedudukan kita sebagai umat Nabi SAW dengan sebab menumpang keistimewaan dan keutamaan Nabi SAW yang menjadi Imam segala Nabi dan Rasul. Melalui peristiwa tersebut kita juga diperingatkan realiti kehidupan akhirat dengan balasan azab dan nikmat yang akhirnya meletakkan segala yang kita lalui dan punyai dalam kehidupan ini dalam perspektifnya yang sebenar.
Inilah sekadar segelintir perkara iktibar di sebalik kehadiran bulan Rejab dan peristiwa Israk dan Mikraj yang wajar diperincikan lagi dan diulang-ulangkan.
Malangnya ada juga penceramah yang kurang berhati-hati lalu dalam membicarakan tentang peristiwa ini turut membahaskan isu-isu kontroversi seperti mensabitkan tempat dan sifat bagi Allah SWT, Maha Suci Allah daripada menyerupai makhluknya.
Tokoh ulama mutakhir, Sheikh Yusuf al-Dijwi ada menegur tentang perkara ini dalam himpunan tulisan dan fatwanya.
Beliau menegaskan, adalah tidak wajar ayat-ayat mutashabihat berkaitan dengan isu ini dibicarakan kecuali di dalam majlis-majlis khusus di kalangan para ulama berdasarkan keperluan. (Maqalaat wa Fatawa al-Shaikh Yusuf al-Dijwi, (Kaherah, Dar al-Basoir, 2006) Jld 2, ms.724)
Semoga kita dikurniakan kesedaran, kesihatan, semangat dan himmah yang tinggi dalam naungan taufik untuk menunaikan hak setiap hari yang dikurniakan oleh Allah SWT kepada kita. Semoga bulan Rejab, Syaaban dan Ramadan kita tahun kita lebih baik daripada tahun sebelumnya.
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/06/21/menghayati-keistimewaan-bulan-rejab-2/
DIkirim oleh epondok di Jun 20, 2010
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN
Dengan izin Allah SWT, kita sudahpun berada di pertengahan bulan Rejab dalam tahun Hijrah 1431 ini. Jika diperhatikan, manusia berbeza-beza dalam menyambut kedatangan bulan Rejab setiap tahun.
Ada yang langsung tidak menyedari datang dan perginya Rejab kerana terlampau sibuk dan kurang peka pula pada perjalanan takwim Islam. Tidak kurang yang menyambut kedatangan Rejab dengan penuh gembira dan bersemangat serta mempertingkatkan amalan di dalamnya.
Ada pula yang menyambutnya dengan terlampau mempermasalahkan dan mempertikaikan keistimewaannya dan kewajaran menambahkan amalan padanya.
Kita merasakan bahawa mereka yang paling beruntung adalah mereka yang memahami dan mengenali Rejab serta menunaikan hak hari-harinya sebagaimana yang selayaknya tanpa melampau atau mencuaikan.
Bagi kebanyakan mereka yang meraikan kedatangan Rejab, bulan ini dirasakan begitu istimewa kerana ia menandakan hampir ketibaan tetamu agung, Ramadan al-Mubarak.
Ramadan sudah tentulah dirindui dan dinanti-nanti oleh setiap mereka yang beriman dan para pencinta Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Tempias kecintaan kita kepada Ramadan turut terkena pada Rejab dan Syaaban sebagai pengapit dan pendamping setia kepada Ramadan.
Keterkaitan dalam keberkatan bulan-bulan Rejab, Syaaban dan Ramadan terlihat dalam sepotong doa yang diriwayatkan oleh Anas r.a daripada Rasulullah SAW yang bererti, “Ya Allah, Berkatilah kami pada bulan Rejab dan Syaaban, serta panjangkanlah umur kami hingga sampai ke bulan Ramadan”. (diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam al-Syua’aab, Ibn Abi al-Dunya dan Ibn Sunniy).
Sebenarnya keistimewaan Rejab turut disebut di dalam al-Quran dengan menyenaraikannya sebagai salah satu daripada empat bulan haram. Allah berfirman yang maksud-Nya: Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…. (at-Taubah: 36)
Para ulama bersepakat Rejab adalah antara bulan yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam ayat ini dan beberapa ayat lain. Jelas bahawa Allah SWT sendiri di dalam al-Quran telah memuliakan bulan Rejab dengan mengisytiharkannya sebagai salah satu daripada bulan-bulan haram.
Mengikut pandangan yang masyhur di kalangan ulama, Allah SWT juga telah memuliakan bulan Rejab dengan berlakunya di antara peristiwa terpenting dalam sirah Nabi SAW iaitu peristiwa Israk dan Mikraj di dalamnya.
Sebagai golongan hamba-Nya yang terpilih, keistimewaan bulan Rejab tidak terlepas daripada pandangan ulama baik dahulu dan sekarang. Mereka telah menunjukkan contoh serta menggalakkan kita mempertingkatkan amalan dengan bersangka baik dengan Allah SWT bahawa dengan keberkatan bulan ini ganjaran amalan dan rahmat Allah SWT akan berlipat ganda. (Imam Ibn Jarir al-Tobari ada meriwayatkan pandangan Ibn Abbas r.a mengenai hal ini dalam tafsirnya).
Jika dikira hubungan Rejab, Syaaban dan Ramadan memang sesuailah kita lebih banyak berpuasa dan solat sunat, tilawah al-Quran, berzikir dan bersedekah sebagai membina momentum ke arah penghayatan Ramadan yang lebih cemerlang.
Sebahagian ulama menganjurkan kita membanyakkan istighfar di bulan Rejab dengan semangat al-Takhalliy iaitu untuk mengosongkan atau membersihkan diri kita. Ini disusuli penganjuran kita memperbanyakkan berselawat ke atas Nabi SAW di bulan Syaaban sebagai fasa al-Tahalliy yang bererti mengisi atau memperhiaskan diri sesudah diri kita dikosongkan dan dibersihkan dengan istighfar dan taubat.
Sesudah kita bersiap dengan membersih dan memperhiaskan diri barulah layak untuk kita bertaqarrub langsung dengan Allah SWT (al-Tajalliy) dengan memperbanyakkan tilawah al-Quran, sepanjang Ramadan.
Jika direnungi, anjuran para ulama ini sangat mendalam falsafah dan hikmahnya demi membantu kita menghayati bulan-bulan yang mulia ini dengan lebih bermakna.
Jika menjadi keyakinan setiap mukmin bahawa hidup dunia ini sebagai suatu ujian atau peperiksaan besar, maka Ramadan dan segala hari dan bulan yang istimewa dalam Islam bolehlah dianggap sebagai kelas-kelas tambahan atau ujian-ujian latihan. Ia akan mendorong kita sentiasa peka dan siap-siaga dalam mengharungi proses ujian tersebut.
Dengan segala kelemahan yang ada pada diri insan adalah sukar untuk menempah kejayaan dalam ujian kehidupan ini jika kita tidak dapat menumpang belas ihsan dan rahmat Ilahi. Dan sememangnya Allah SWT maha kaya dengan sifat rahim, ihsan dan adil serta segala sifat-sifat kesempurnaan.
Di antara gambaran ihsan dan keadilan Allah SWT bagi kita para hambanya yang diletakkan dalam ujian yang getir ini, kita tidaklah dibiarkan sendirian tanpa panduan. Selari dengan fitrah manusia sukakan kepelbagaian, silih-berganti hari dan bulan Islam berserta dengan kaitannya dengan sirah Nabi memberi ruang untuk kita memperkukuhkan tautan kita dengan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.
Di bulan Rejab ini banyak masjid, surau dan institusi mengambil peluang mengadakan ceramah dan majlis Israk Mikraj. Perbuatan ini jika dianggap sebagai suatu adat dan tradisi untuk menghimpunkan orang ramai bagi mendekatkan diri mereka dengan agama tanpa dianggap sebagai suatu pensyariatan adalah suatu amalan yang terpuji dan tidak bercanggah dengan mana-mana usul agama.
Malah para pendakwah dan mereka yang cintakan agama sepatutnya sentiasa mencari munasabah bagi menghimpun orang-ramai dalam majlis-majlis yang dipenuhi dengan penambahan ilmu, peringatan, doa dan zikir.
Inilah antara pandangan tokoh besar ulama dunia Islam, al-Muhaddith Dr. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani r.a dalam tulisan khususnya mengenai Israk dan Mikraj bertajuk al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khayr al-Bariyyah.
Beliau turut menegur golongan yang menentang penganjuran majlis sedemikian dengan katanya: “Memanfaatkan perhimpunan orang ramai dengan memberikan peringatan, petunjuk, nasihat dan mengarahkan mereka kepada kebaikan adalah lebih utama daripada menghalang, menolak dan mengingkari perhimpunan mereka dengan alasan yang tidak ke mana. Selama ini pun, apa yang dapat dilihat tegahan mereka tidak pun memberikan sebarang kesan”.
Sememangnya peristiwa Israk dan Mikraj menyajikan pelbagai pengajaran untuk memperkukuhkan lagi ikatan iman umat. Selain antara mukjizat besar yang membuktikan kenabian Nabi kita SAW, ia telah menjadi saat umat Islam dianugerahi ibadah solat sebagai Mikraj roh kepada Allah setiap hari.
Ia juga memperjelaskan keistimewaan kedudukan kita sebagai umat Nabi SAW dengan sebab menumpang keistimewaan dan keutamaan Nabi SAW yang menjadi Imam segala Nabi dan Rasul. Melalui peristiwa tersebut kita juga diperingatkan realiti kehidupan akhirat dengan balasan azab dan nikmat yang akhirnya meletakkan segala yang kita lalui dan punyai dalam kehidupan ini dalam perspektifnya yang sebenar.
Inilah sekadar segelintir perkara iktibar di sebalik kehadiran bulan Rejab dan peristiwa Israk dan Mikraj yang wajar diperincikan lagi dan diulang-ulangkan.
Malangnya ada juga penceramah yang kurang berhati-hati lalu dalam membicarakan tentang peristiwa ini turut membahaskan isu-isu kontroversi seperti mensabitkan tempat dan sifat bagi Allah SWT, Maha Suci Allah daripada menyerupai makhluknya.
Tokoh ulama mutakhir, Sheikh Yusuf al-Dijwi ada menegur tentang perkara ini dalam himpunan tulisan dan fatwanya.
Beliau menegaskan, adalah tidak wajar ayat-ayat mutashabihat berkaitan dengan isu ini dibicarakan kecuali di dalam majlis-majlis khusus di kalangan para ulama berdasarkan keperluan. (Maqalaat wa Fatawa al-Shaikh Yusuf al-Dijwi, (Kaherah, Dar al-Basoir, 2006) Jld 2, ms.724)
Semoga kita dikurniakan kesedaran, kesihatan, semangat dan himmah yang tinggi dalam naungan taufik untuk menunaikan hak setiap hari yang dikurniakan oleh Allah SWT kepada kita. Semoga bulan Rejab, Syaaban dan Ramadan kita tahun kita lebih baik daripada tahun sebelumnya.
http://pondokhabib.wordpress.com/2010/06/21/menghayati-keistimewaan-bulan-rejab-2/
10 Mei 2010
Sapa Kapiaq?????
Sapa Kapiaq?????
Kita diperintahkan oleh Allah SWT agar sentiasa menjaga adab dan menghormati Junjungan Nabi SAW. Sekali-kali kita tidak dibenarkan untuk menyakiti akan hati baginda yang suci. Maka kenapa, ada segelintir yang sanggup mengeluarkan kata-kata yang secara langsung mencarik kehormatan Junjungan Nabi SAW. Tanpa segan silu dan rasa bersalah, mereka memfatwakan bahawa ayahanda dan bonda Junjungan SAW yang mulia adalah kafir dan diazab dalam neraka.
Puak-puak ini mendakwa mereka mengikut hadits yang shohih, tetapi kenapa pula mereka meninggalkan ayat al-Quran. Tidakkah mereka mengetahui bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW wafat sebelum kerasulan Junjungan Nabi SAW. Adakah mereka lupa ayat Allah dalam surah al-Isra` ayat 15 yang berbunyi:-
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
” … Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah.”
Apakah mereka tidak mengetahui bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW wafat sebelum Baginda Muhammad SAW dinobatkan sebagai utusan Allah. Juga apa maslahatnya pada umat atau apa faedahnya kita menimbulkan isu yang boleh mencarik hati Junjungan Nabi SAW? Kalau kita tiada apa-apa yang elok dan molek hendak dikatakan berkaitan ayahanda dan bonda Junjungan SAW, bukankah elok kalau kita diam sahaja. … Allahu … Allah.
Inilah akibatnya apabila berhujjah dengan satu atau dua hadits tanpa melihat kepada ajaran Islam secara keseluruhan dan bersepadu, baik dari aspek aqidah, syariah dan lain-lainnya. Inilah akibat dari pembelajaran mereka berdasarkan ajaran memisah-misahkan Tawhid, akhirnya mata mereka jadi cemey sehingga tidak dapat melihat dengan sempurna. Tidakkah mereka melihat segala dalil yang ada dalam Islam seperti dalil ayat yang menunjukkan bahawa ahlul fatrah itu tidak diazab? Di manakah mereka meletakkan ayat tersebut. Mereka juga gagal memahami pandangan JUMHUR ULAMA berhubung isu tersebut, sehingga mereka bertindak khianat dengan memproklamir bahawa pendapat yang mereka pegangi itu adalah pendapat jumhur ulama sedangkan hakikatnya bukan begitu. Mereka juga tidak segan-segan menuduh bahawa pendapat yang menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan SAW sebagai selamat adalah pandangan Syi`ah.
Wahai ikhwah yang budiman, ketahuilah oleh kamu sekalian bahawa JUMHUR ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH merajihkan bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW setidak-tidaknya termasuk dalam golongan AHLUL FATRAH dan tidak diazab oleh Allah SWT. Inilah pendapat JUMHUR, manakala pendapat yang menyatakan mereka kafir itu adalah pendapat yang dhoif yang marjuh. Manakala penisbahan pendapat ini kepada Imam Abu Hanifah juga bermasalah, kerana dalam kebanyakan naskhah “Fiqhul Akbar” yang sampai kepada kita tidak pun ada pernyataan yang menghukumkan kafir ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW. Ramai ulama-ulama Hanafi, antara Syaikh Muhammad Zahid al-Kawthari rahimahUllah, telah menolak penisbahan pernyataan tersebut kepada Imam Abu Hanifah. Bahkan Mulla ‘Ali al-Qari yang dikatakan sebagai menyokong pernyataan tersebut pada permulaannya telah menarikbalik pernyataannya itu syarahnya atas kitab “asy-Syifa`”. Hal ini insya-Allah, akan kita tulis kemudian. Zaman kita sekarang ini, kalau ada yang berani dan tidak segan silu mengkafirkan ayahanda dan bonda Junjungan SAW maka biasanya mereka terdiri daripada kalangan pengikut dan pemuja anak Pak Wahab.
Sebenarnya, telah banyak penulisan ustaz-ustaz kita berhubung perkara ini, antaranya yang telah ditulis oleh al-Fadhil Sidi Abu Zahrah dalam blog beliau yang boleh dirujuk di sini. Di sini ese cuma nak menambahkan lagi khazanah ilmu kita dengan mendatangkan perkataan ulama-ulama lain berhubung perkara ini. Buat permulaannya ese, nukilkan perkataan Syaikh Manshur Ali Naashif yang berjodol “at-Taajul Jaami’ lil Ushuuli fi ahaaditsir Rasul shallaAllahu ‘alaihi wa sallam”, karya yang telah diberi pengiktirafan oleh ramai ulama besar. Bahkan ianya diberi kata sambutan oleh Mufti Mesir pada zamannya Syaikh Muhammad Bakhit dan juga Syaikh Yusuf ad-Dajwi rahimahumAllah. Pada halaman 382, beliau, rahimahUllah, menulis:-
“Ziarahnya Junjungan Nabi SAW ke kubur bonda baginda, iaitu as-Sayyidah Aminah binti Wahb rahimahAllah wa radhiya ‘anha. Dan tatkala Junjungan Nabi SAW berziarah ke kuburnya, baginda telah menangis kerana bondanya meninggal dunia sebelum kedatangan Islam dan memperolehi nikmatnya. Dan Allah ta`ala tidak mengizinkan NabiNya untuk memohon keampunan bonda baginda kerana untuk beristighfar memohon keampunan bagi seseorang memerlukan syarat orang tersebut hendaklah beragama Islam sedangkan bonda baginda wafat atas agama kaumnya. Ini tidaklah menafikan yang bonda baginda SAW itu masuk ke syurga kerana sesungguhnya beliau termasuk dalam kalangan AHLUL FATRAH, dan JUMHUR ULAMA berpandangan bahawa mereka (yakni ahlul fatrah) ini adalah golongan yang selamat dari azab Allah, sebagaimana firman Allah – Dan tiadalah Kami mengazabkan sesuatu kaum melainkan setelah diutuskan kepada mereka seorang rasul – iaitu kepada sekalian umat. Bahkan telah warid dan shohih di sisi pemuka-pemuka kasyaf bahawasanya Allah ta`ala telah menghidupkan kedua ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW setelah kerasulan baginda, lalu mereka berdua beriman dengan baginda, maka dari itu disimpulkan bahawasanya kedua mereka adalah daripada ahli syurga. Telah bersyair sebahagian ulama:-
Telah kuyakini yang ayahanda serta bonda Junjungan Nabi
Dihidupkan Tuhan al-Karimul Bari
Hingga atas kebenaran kerasulan baginda mereka bersaksi
Maka kejadian sedemikian itu tadi
Adalah suatu kemuliaan bagi Pilihan Allah Junjungan Nabi
Justru sesiapa yang mendhaifkan akan khabaran ini
Maka dialah yang lemah dan dari hakikat berlepas diri
Dan perkara ini (yakni perkara menghidupkan ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW) bukanlah sesuatu yang mustahil dan pelik (dinisbahkan kepada kekuasaan mutlak Allah, yakni ianya termasuk perkara yang mumkin dan bukannya mustahil). Maka kelebihan Allah itu luas dan kemuliaan yang dianugerahkan kepada kekasihNya adalah berlebih-lebih lagi dan jauh lebih luas.
Ulama-ulama kita seperti Imam as-Sayuthi dalam “Masalikul Hunafa` fi Walidayy al-Musthofa” menjelaskan bahawa pendapat rajih yang dipegang oleh Jumhur Ulama adalah setidak-tidaknya dengan 3 alasan, iaitu: (i) ayahanda bonda Junjungan termasuk ahlul fatrah; (ii) mereka atas agama al-Hanifiyyah dan tiada bukti mereka menyembah berhala; (iii) mereka dihidupkan sebentar oleh Allah dan menyatakan kesaksian mereka atas tawhid dan risalah. Dan Imam as-Sayuthi telah memenuhkan alasan-alasan ini dengan hujjah naqli baik berupa ayat-ayat al-Quran maupun hadits dan atsar. Silalah tuan-tuan telek akan hujjah beliau di sana. Maka tidak benar jika dikatakan bahawa pendapat yang menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan SAW selamat hanya beralasankan kepada hadits dhoif yang memberitakan tentang mereka dihidupkan sebentar.
Allahu … Allah, berhentilah daripada menyakiti hati Junjungan Nabi SAW dengan memburuk-burukkan ayahanda, bonda, kaum kerabat dan para sahabat baginda. Sesungguhnya kita tidak ada hak untuk memperkatakan apa-apa selain kebaikan bagi insan-insan yang telah dipilih Allah SWT untuk menjadi ayahanda, menjadi bonda, menjadi kerabat dan sahabatnya Junjungan Nabi SAW. Apakah Allah tersalah pilih ???? سبحان الله.
Akhirul kalam, maka tersebut dalam kitab “Tahqiiqul Maqaam ‘ala Kifaayatil ‘Awaam” kitab ilmu tawhid karangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar (baca betul-betul ya .. ” ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah” bukan ulama Syi`ah), Syaikhul Islam, Syaikhul Azhar, Syaikh Ibrahim al-Baijuri rahimahUllah, pada halaman 13, setelah beliau menerangkan pendapat yang RAJIH menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan Nabi adalah termasuk dalam kalangan AHLUL FATRAH YANG SELAMAT, menceritakan bahawa al-Qadhi Abu Bakar ibnul ‘Arabi rahimahUllah, salah seorang ulama besar Malikiyyah, telah ditanyai berhubung seseorang berkata yang ayahanda Junjungan Nabi SAW itu berada di neraka. Maka al-Qadhi telah menjawab bahawa orang tersebut adalah MAL`UUN (kalau bahasa kita kita kata “melaun” yakni orang yang kena laknat) kerana Allah ta`ala telah berfirman: ” Sesungguhnya orang – orang yang menyakiti Allah dan rasulNya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan bagi mereka azab siksa yang menghina.” Dan sebesar-besar perkara yang menyakiti Junjungan Nabi SAW adalah mengatakan bahawa ayahanda baginda berada di neraka.
Allahu … Allah, hentikan menyakiti Baginda Nabi SAW
Kita diperintahkan oleh Allah SWT agar sentiasa menjaga adab dan menghormati Junjungan Nabi SAW. Sekali-kali kita tidak dibenarkan untuk menyakiti akan hati baginda yang suci. Maka kenapa, ada segelintir yang sanggup mengeluarkan kata-kata yang secara langsung mencarik kehormatan Junjungan Nabi SAW. Tanpa segan silu dan rasa bersalah, mereka memfatwakan bahawa ayahanda dan bonda Junjungan SAW yang mulia adalah kafir dan diazab dalam neraka.
Puak-puak ini mendakwa mereka mengikut hadits yang shohih, tetapi kenapa pula mereka meninggalkan ayat al-Quran. Tidakkah mereka mengetahui bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW wafat sebelum kerasulan Junjungan Nabi SAW. Adakah mereka lupa ayat Allah dalam surah al-Isra` ayat 15 yang berbunyi:-
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
” … Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah.”
Apakah mereka tidak mengetahui bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW wafat sebelum Baginda Muhammad SAW dinobatkan sebagai utusan Allah. Juga apa maslahatnya pada umat atau apa faedahnya kita menimbulkan isu yang boleh mencarik hati Junjungan Nabi SAW? Kalau kita tiada apa-apa yang elok dan molek hendak dikatakan berkaitan ayahanda dan bonda Junjungan SAW, bukankah elok kalau kita diam sahaja. … Allahu … Allah.
Inilah akibatnya apabila berhujjah dengan satu atau dua hadits tanpa melihat kepada ajaran Islam secara keseluruhan dan bersepadu, baik dari aspek aqidah, syariah dan lain-lainnya. Inilah akibat dari pembelajaran mereka berdasarkan ajaran memisah-misahkan Tawhid, akhirnya mata mereka jadi cemey sehingga tidak dapat melihat dengan sempurna. Tidakkah mereka melihat segala dalil yang ada dalam Islam seperti dalil ayat yang menunjukkan bahawa ahlul fatrah itu tidak diazab? Di manakah mereka meletakkan ayat tersebut. Mereka juga gagal memahami pandangan JUMHUR ULAMA berhubung isu tersebut, sehingga mereka bertindak khianat dengan memproklamir bahawa pendapat yang mereka pegangi itu adalah pendapat jumhur ulama sedangkan hakikatnya bukan begitu. Mereka juga tidak segan-segan menuduh bahawa pendapat yang menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan SAW sebagai selamat adalah pandangan Syi`ah.
Wahai ikhwah yang budiman, ketahuilah oleh kamu sekalian bahawa JUMHUR ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH merajihkan bahawa ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW setidak-tidaknya termasuk dalam golongan AHLUL FATRAH dan tidak diazab oleh Allah SWT. Inilah pendapat JUMHUR, manakala pendapat yang menyatakan mereka kafir itu adalah pendapat yang dhoif yang marjuh. Manakala penisbahan pendapat ini kepada Imam Abu Hanifah juga bermasalah, kerana dalam kebanyakan naskhah “Fiqhul Akbar” yang sampai kepada kita tidak pun ada pernyataan yang menghukumkan kafir ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW. Ramai ulama-ulama Hanafi, antara Syaikh Muhammad Zahid al-Kawthari rahimahUllah, telah menolak penisbahan pernyataan tersebut kepada Imam Abu Hanifah. Bahkan Mulla ‘Ali al-Qari yang dikatakan sebagai menyokong pernyataan tersebut pada permulaannya telah menarikbalik pernyataannya itu syarahnya atas kitab “asy-Syifa`”. Hal ini insya-Allah, akan kita tulis kemudian. Zaman kita sekarang ini, kalau ada yang berani dan tidak segan silu mengkafirkan ayahanda dan bonda Junjungan SAW maka biasanya mereka terdiri daripada kalangan pengikut dan pemuja anak Pak Wahab.
Sebenarnya, telah banyak penulisan ustaz-ustaz kita berhubung perkara ini, antaranya yang telah ditulis oleh al-Fadhil Sidi Abu Zahrah dalam blog beliau yang boleh dirujuk di sini. Di sini ese cuma nak menambahkan lagi khazanah ilmu kita dengan mendatangkan perkataan ulama-ulama lain berhubung perkara ini. Buat permulaannya ese, nukilkan perkataan Syaikh Manshur Ali Naashif yang berjodol “at-Taajul Jaami’ lil Ushuuli fi ahaaditsir Rasul shallaAllahu ‘alaihi wa sallam”, karya yang telah diberi pengiktirafan oleh ramai ulama besar. Bahkan ianya diberi kata sambutan oleh Mufti Mesir pada zamannya Syaikh Muhammad Bakhit dan juga Syaikh Yusuf ad-Dajwi rahimahumAllah. Pada halaman 382, beliau, rahimahUllah, menulis:-
“Ziarahnya Junjungan Nabi SAW ke kubur bonda baginda, iaitu as-Sayyidah Aminah binti Wahb rahimahAllah wa radhiya ‘anha. Dan tatkala Junjungan Nabi SAW berziarah ke kuburnya, baginda telah menangis kerana bondanya meninggal dunia sebelum kedatangan Islam dan memperolehi nikmatnya. Dan Allah ta`ala tidak mengizinkan NabiNya untuk memohon keampunan bonda baginda kerana untuk beristighfar memohon keampunan bagi seseorang memerlukan syarat orang tersebut hendaklah beragama Islam sedangkan bonda baginda wafat atas agama kaumnya. Ini tidaklah menafikan yang bonda baginda SAW itu masuk ke syurga kerana sesungguhnya beliau termasuk dalam kalangan AHLUL FATRAH, dan JUMHUR ULAMA berpandangan bahawa mereka (yakni ahlul fatrah) ini adalah golongan yang selamat dari azab Allah, sebagaimana firman Allah – Dan tiadalah Kami mengazabkan sesuatu kaum melainkan setelah diutuskan kepada mereka seorang rasul – iaitu kepada sekalian umat. Bahkan telah warid dan shohih di sisi pemuka-pemuka kasyaf bahawasanya Allah ta`ala telah menghidupkan kedua ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW setelah kerasulan baginda, lalu mereka berdua beriman dengan baginda, maka dari itu disimpulkan bahawasanya kedua mereka adalah daripada ahli syurga. Telah bersyair sebahagian ulama:-
Telah kuyakini yang ayahanda serta bonda Junjungan Nabi
Dihidupkan Tuhan al-Karimul Bari
Hingga atas kebenaran kerasulan baginda mereka bersaksi
Maka kejadian sedemikian itu tadi
Adalah suatu kemuliaan bagi Pilihan Allah Junjungan Nabi
Justru sesiapa yang mendhaifkan akan khabaran ini
Maka dialah yang lemah dan dari hakikat berlepas diri
Dan perkara ini (yakni perkara menghidupkan ayahanda dan bonda Junjungan Nabi SAW) bukanlah sesuatu yang mustahil dan pelik (dinisbahkan kepada kekuasaan mutlak Allah, yakni ianya termasuk perkara yang mumkin dan bukannya mustahil). Maka kelebihan Allah itu luas dan kemuliaan yang dianugerahkan kepada kekasihNya adalah berlebih-lebih lagi dan jauh lebih luas.
Ulama-ulama kita seperti Imam as-Sayuthi dalam “Masalikul Hunafa` fi Walidayy al-Musthofa” menjelaskan bahawa pendapat rajih yang dipegang oleh Jumhur Ulama adalah setidak-tidaknya dengan 3 alasan, iaitu: (i) ayahanda bonda Junjungan termasuk ahlul fatrah; (ii) mereka atas agama al-Hanifiyyah dan tiada bukti mereka menyembah berhala; (iii) mereka dihidupkan sebentar oleh Allah dan menyatakan kesaksian mereka atas tawhid dan risalah. Dan Imam as-Sayuthi telah memenuhkan alasan-alasan ini dengan hujjah naqli baik berupa ayat-ayat al-Quran maupun hadits dan atsar. Silalah tuan-tuan telek akan hujjah beliau di sana. Maka tidak benar jika dikatakan bahawa pendapat yang menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan SAW selamat hanya beralasankan kepada hadits dhoif yang memberitakan tentang mereka dihidupkan sebentar.
Allahu … Allah, berhentilah daripada menyakiti hati Junjungan Nabi SAW dengan memburuk-burukkan ayahanda, bonda, kaum kerabat dan para sahabat baginda. Sesungguhnya kita tidak ada hak untuk memperkatakan apa-apa selain kebaikan bagi insan-insan yang telah dipilih Allah SWT untuk menjadi ayahanda, menjadi bonda, menjadi kerabat dan sahabatnya Junjungan Nabi SAW. Apakah Allah tersalah pilih ???? سبحان الله.
Akhirul kalam, maka tersebut dalam kitab “Tahqiiqul Maqaam ‘ala Kifaayatil ‘Awaam” kitab ilmu tawhid karangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar (baca betul-betul ya .. ” ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah” bukan ulama Syi`ah), Syaikhul Islam, Syaikhul Azhar, Syaikh Ibrahim al-Baijuri rahimahUllah, pada halaman 13, setelah beliau menerangkan pendapat yang RAJIH menyatakan ayahanda dan bonda Junjungan Nabi adalah termasuk dalam kalangan AHLUL FATRAH YANG SELAMAT, menceritakan bahawa al-Qadhi Abu Bakar ibnul ‘Arabi rahimahUllah, salah seorang ulama besar Malikiyyah, telah ditanyai berhubung seseorang berkata yang ayahanda Junjungan Nabi SAW itu berada di neraka. Maka al-Qadhi telah menjawab bahawa orang tersebut adalah MAL`UUN (kalau bahasa kita kita kata “melaun” yakni orang yang kena laknat) kerana Allah ta`ala telah berfirman: ” Sesungguhnya orang – orang yang menyakiti Allah dan rasulNya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan bagi mereka azab siksa yang menghina.” Dan sebesar-besar perkara yang menyakiti Junjungan Nabi SAW adalah mengatakan bahawa ayahanda baginda berada di neraka.
Allahu … Allah, hentikan menyakiti Baginda Nabi SAW
Jangan sakiti Rasulullah
Jangan sakiti Rasulullah
Oleh SYEIKH MUHAMMAD FUAD KAMALUDIN AL-MALIKI
SESIAPAPUN akan merasa sedih dan terguris hati jika keburukan kedua ibu bapanya disebut-sebut di hadapannya kalaupun ia suatu yang benar dan bukan sekadar tuduhan. Inilah fitrah hubungan kasih dan sayang yang ada di antara seseorang itu dengan ibu bapa kandungnya.
Keburukan apakah yang lebih besar daripada kekufuran dan kekufuran siapakah yang lebih jelas daripada Abu Lahab sehingga celaan Allah SWT terhadapnya terakam jelas di dalam al-Quran. Tetapi apabila sampai ke telinga Nabi SAW bahawa ada sahabat yang mengungkit tentang kekufuran dan penentangan Abu Lahab di hadapan anak perempuannya yang Muslim, Nabi SAW telah melarang dan menegur perbuatan itu dengan sabdanya, "Jangan engkau mencerca mereka yang mati, lalu engkau menyakiti mereka yang hidup." (Riwayat al-Tirmizi).
Jika itulah sikap Nabi SAW dalam kes Abu Lahab, bagaimanakah pula jika ibu dan ayah Nabi SAW sendiri yang disebut dan diungkit sebagai kufur dan berada dalam neraka? Adakah Nabi SAW tidak terguris hati atau merasa disakiti, tanpa mengira apa pun niat si penyebut? Lebih buruk lagi keadaannya jika diinsafi bahawa pandangan yang ibu dan ayah Nabi itu kufur adalah tidak benar dan bercanggah dengan pandangan jumhur ulama umat ini. Maka kenyataan tersebut turut merupakan suatu pendustaan dalam isu yang begitu dekat dengan kekasih Allah SWT dan makhluk-Nya yang paling mulia.
Malangnya, akhir-akhir ini, telah beberapa kali dakwaan bahawa ibu dan bapa Nabi SAW itu kufur dan berada dalam neraka di ketengahkan dalam masyarakat kita secara terbuka dalam media perdana oleh para pendakwah yang popular dan dikenali ramai. Dalam keadaan begitu, tidak mustahil akan ramai ahli masyarakat yang tidak berkeahlian akan mudah terpengaruh, lantas sama-sama mengulangi kalimah yang pastinya menyakiti Nabi SAW itu. Mahukah kita jika umat Islam di Malaysia sampai terhitung sebagai tidak peka dengan apa yang menyakiti Nabi SAW? Bukankah ini boleh mengundang kemurkaan Allah dan Rasul-Nya?
Isu Yang Tak Patut Ditimbulkan
Jika diteliti secara insaf, sebenarnya tidak terdapat satu sebab pun yang munasabah untuk isu status ibu dan bapa Nabi SAW kita ungkit dan ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat kita. Jika tidak ditimbulkan isu ini, masyarakat kita amnya mempunyai tanggapan yang sangat mulia terhadap ibu dan bapa Nabi SAW. Sikap ini adalah sikap yang lebih tepat dan berasas, seperti yang akan kita huraikan. Kalau pun ada yang bertanggapan bahawa ini adalah suatu sikap yang bercanggah dengan hadis, apakah isu ini menepati keutamaan yang begitu tinggi dan mendesak sehingga perlu ditimbulkan. Adakah selama ini dengan memuliakan ibu dan bapa Nabi SAW telah begitu merugikan dan memundurkan Islam dan umatnya di Malaysia?
Selain kerana tiada keperluan jelas untuk ditimbulkan, isu ini juga tidak patut ditimbulkan secara terbuka kerana untuk benar-benar menganggapnya secara adil menuntut kajian dan penelitian ilmiah khusus. Kenapalah kita perlu menyibukkan masyarakat awam dengan persoalan-persoalan yang tidak mudah atau tidak mampu untuk mereka sikapi dengan adil?
Sebenarnya, isu ini ada persamaan dengan beberapa isu-isu agama yang sifatnya kompleks dan boleh mengelirukan yang suka ditimbulkan oleh segelintir penceramah akhir-akhir ini. Walaupun kita sangat keberatan membahaskannya, tetapi apabila sudah ada yang menimbulkannya secara terbuka maka wajiblah pula penjelasan dibuat agar masyarakat tidak keliru dan tersalah faham. Pendek kata ia sudah menjadi suatu kemungkaran dan kezaliman ilmiah yang wajib dicegah dan dibetulkan.
Fahaman Yang Lebih Sejahtera
Pandangan yang mendakwa ibu dan bapa Nabi SAW adalah kufur dan berada dalam neraka sebenarnya berpunca daripada dua hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam salah satunya, Nabi SAW bersabda bahawa Baginda tidak diizinkan oleh Allah memohon keampunan bagi ibu Baginda tetapi diizinkan menziarahi kuburnya. Dalam hadis kedua, Nabi SAW diriwayatkan menjawab pertanyaan seorang lelaki tentang nasib bapanya dengan menjawab bahawa ayah lelaki tersebut dan ayah Baginda sendiri berada dalam neraka. Walaupun sahih dari segi sanadnya tetapi jumhur ulama berpendapat bahawa teks hadis-hadis ini tidak boleh difahami secara zahir semata-mata. Ia adalah suatu yang biasa berlaku dalam kita berinteraksi dengan hadis. Bukan hanya kesahihan sanad menjadi penentuan hukum daripada sesuatu hadis. Terdapat juga kaedah-kaedah tertentu dalam memahami teks hadis itu sendiri yang perlu dipatuhi.
Berdasarkan kaedah-kaedah dalam memahami teks hadis, hadis-hadis di atas sebenarnya tidak mendokong kesimpulan bahawa ibu dan bapa Nabi SAW kufur dan diazab. Pertamanya, makna zahir hadis-hadis ini tidak boleh dipegang kerana ia bertentangan dengan nas-nas al-Quran dan hadis-hadis lain. Antaranya, ayat-ayat dan hadis yang mensabitkan bahawa Nabi SAW adalah berasal daripada keturunan yang mulia dan terpelihara seperti ayat 219, surah al-Syu'ara' yang bermaksud, "dan (Allah melihat) pergerakanmu di antara orang-orang yang sujud". Ibnu 'Abbas r.a, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Tabrani dan Abu Nuaim serta dalam tafsir-tafsir al-Tabari dan al-Qurtubi, berpendapat bahawa ayat ini bermaksud bahawa Nabi SAW telah berpindah dari satu sulbi ke satu sulbi di kalangan nenek moyang yang sujud dan beriman. Hal ini disokong oleh hadis-hadis yang merakamkan bahawa Nabi SAW pernah memuji atau berbangga dengan ibu bapa dan keturunannya, sedangkan adalah tidak wajar Nabi SAW melakukan demikian jika mereka itu syirik atau kufur.
Maksud zahir hadis-hadis ini juga bertentangan dengan nas-nas al-Quran berkenaan kaedah bahawa Allah SWT tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum dikirimkan para rasul-Nya untuk menyampaikan agama yang benar (al-Israa':15, al-An'aam:131, al-Syu'araa', al-Nisaa':165). Terdapat pula ayat-ayat yang menafikan bahawa terdapat rasul yang dikirim kepada kaum Nabi Muhammad SAW sebelum kebangkitan Baginda (Saba':44, al-Qasas:46). Maka kesimpulan yang lebih tepat adalah kedua-dua ibu dan bapa Nabi SAW sama ada beriman dengan peninggalan risalah rasul-rasul yang terdahulu ataupun tergolong dalam kalangan Ahlul Fatrah, iaitu mereka yang berada di zaman yang tiada rasul, menyebabkan mereka secara prinsipnya tidak akan diazab.
Ada juga pandangan ulama yang mentakwilkan makna 'abi' dalam hadis kedua yang zahirnya bermaksud 'ayah' kepada Abu Talib atau Abu Lahab, bapa-bapa saudara Nabi SAW dan bukannya Abdullah, bapa Baginda SAW.
Penggunaan panggilan sebegini memang berlaku dalam bahasa Arab dan dalam al-Quran sendiri dalam kes Nabi Ibrahim AS (al-An'aam : 74). Ada juga pandangan ulama bahawa kedua-dua hadis Riwayat Muslim itu memang perlu ditakwilkan kerana makna zahirnya bercanggah. Jika ibu Nabi SAW benar-benar kafir, Nabi SAW tidak akan diizinkan Allah SWT untuk menziarahi kuburnya.
Kita juga telah menyentuh bagaimana mengatakan ibu dan bapa Nabi SAW berada di dalam neraka akan menyakiti Nabi SAW. Menyakiti Nabi dengan apa cara sekalipun adalah jelas diancam di dalam al-Quran dengan laknat Allah SWT di dunia dan akhirat serta dijanjikan dengan siksa yang pedih dan hina (al-Tawbah:61 dan al-Ahzab:57). Melihat betapa besarnya kesalahan ini, tidak hairanlah Saidina Umar bin Abdul Aziz dilaporkan telah mengancam seorang pegawainya yang mengatakan ibu dan bapa Nabi SAW musyrik dengan hukuman dipotong lidahnya, dipotong tangan dan kakinya dan dipancung kepalanya. Lalu pegawai itu dilarang memegang apa-apa jawatan sepanjang khilafahnya.(Tarikh Ibn 'Asakir). Imam al-Alusi (m.1127H) pula dalam Tafsir Ruh al-Maaninya ada memberi amaran keras, "Aku bimbangkan kekufuran terhadap seseorang yang menuduh ibu dan ayah Nabi SAW (kufur) (Jilid 11, ms.207).
Perincian dan huraian lanjut tentang pandangan para ulama yang membela ibu dan bapa Nabi SAW boleh didapati dalam beberapa kitab termasuk kitab-kitab khusus karangan Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Masalik al-Hunafa dan al-Ta'dzim wal Minnah, kitab al-Hujaj al-Wadhihaat karya ulama' Makkah, Al-'Allamah Sayyid Ishaq Azzuz, kitab Sadad al-Din oleh Imam al-Barzanji, kitab Hadyu al-Nairain karya al-Allamah Prof.Dr.Judah al-Mahdi dari Universiti al-Azhar Mesir dan fatwa Mufti Mesir, Al-Syeikh Dr.Ali Jum'ah dalam koleksi fatwanya, al-Bayan. Insya-Allah dalam masa terdekat, kami akan mengeluarkan terjemahan dan sedutan daripada kitab-kitab ini dalam bahasa Melayu.
Jelas daripada perbahasan ringkas kita ini bahawa, jika kita mahu, ruang untuk kita mempertahankan keimanan dan terselamatnya ibu dan bapa Nabi SAW yang mulia adalah luas terbentang. Kalaulah bersangka baik itu terpuji, maka apakah lagi situasi yang lebih utama untuk kita bersangka baik selain dalam isu ini yang membabitkan hak kekasih dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah SWT. Ia juga sebenarnya adalah sangka baik kita terhadap Allah SWT sendiri yang Maha Kaya lagi Berkuasa untuk meletakkan zuriat kekasih-Nya dalam rantaian keturunan hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Di sebalik episod yang sangat mengguris hati ini, mungkin ada beberapa hikmah dan pengajaran yang perlu diambil. Para penceramah yang giat mengisi ruang dakwah di tengah masyarakat mestilah sangat berhati-hati dalam memilih kandungan dan mesej dakwah mereka. Ini kerana, bersama populariti dan kemasyhuran itu datangnya amanah yang dipertanggungjawabkan. Bagi masyarakat pula, di zaman ledakan informasi ini yang turut menyaksikan informasi agama turut tersebar tanpa kawalan, mereka perlulah lebih berhati-hati dalam mempercayai apa yang mereka baca dan dengar. Maklumat agama yang keluar di akhbar, terdengar di radio, tersiar di TV dan popular di internet tidaklah semestinya dijamin betul dan benar. Dalam bab agama, janganlah kita malas mengkaji dan mempastikan kerana akhirat kitalah yang jadi pertaruhannya. Isu ini juga adalah satu contoh jelas bagaimana sikap terlalu merujuk kepada Sunnah tanpa berpandukan kaedah dan panduan para ulama muktabar adalah sikap yang silap dan merbahaya. Janganlah kita mudah terbawa-bawa dengan sesetengah aliran yang mendakwa sebagai menjuarai Sunnah sedangkan hakikatnya mereka sering menzalimi Sunnah dan yang empunya Sunnah SAW. Semoga Allah SWT menjadikan kita di kalangan mereka yang sentiasa menggembirakan dan mempertahankan kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW.
Penulis ialah Ali Majlis Agama Islam Negeri Sembilan dan Penasihat Yayasan Sofa Negeri Sembilan
Oleh SYEIKH MUHAMMAD FUAD KAMALUDIN AL-MALIKI
SESIAPAPUN akan merasa sedih dan terguris hati jika keburukan kedua ibu bapanya disebut-sebut di hadapannya kalaupun ia suatu yang benar dan bukan sekadar tuduhan. Inilah fitrah hubungan kasih dan sayang yang ada di antara seseorang itu dengan ibu bapa kandungnya.
Keburukan apakah yang lebih besar daripada kekufuran dan kekufuran siapakah yang lebih jelas daripada Abu Lahab sehingga celaan Allah SWT terhadapnya terakam jelas di dalam al-Quran. Tetapi apabila sampai ke telinga Nabi SAW bahawa ada sahabat yang mengungkit tentang kekufuran dan penentangan Abu Lahab di hadapan anak perempuannya yang Muslim, Nabi SAW telah melarang dan menegur perbuatan itu dengan sabdanya, "Jangan engkau mencerca mereka yang mati, lalu engkau menyakiti mereka yang hidup." (Riwayat al-Tirmizi).
Jika itulah sikap Nabi SAW dalam kes Abu Lahab, bagaimanakah pula jika ibu dan ayah Nabi SAW sendiri yang disebut dan diungkit sebagai kufur dan berada dalam neraka? Adakah Nabi SAW tidak terguris hati atau merasa disakiti, tanpa mengira apa pun niat si penyebut? Lebih buruk lagi keadaannya jika diinsafi bahawa pandangan yang ibu dan ayah Nabi itu kufur adalah tidak benar dan bercanggah dengan pandangan jumhur ulama umat ini. Maka kenyataan tersebut turut merupakan suatu pendustaan dalam isu yang begitu dekat dengan kekasih Allah SWT dan makhluk-Nya yang paling mulia.
Malangnya, akhir-akhir ini, telah beberapa kali dakwaan bahawa ibu dan bapa Nabi SAW itu kufur dan berada dalam neraka di ketengahkan dalam masyarakat kita secara terbuka dalam media perdana oleh para pendakwah yang popular dan dikenali ramai. Dalam keadaan begitu, tidak mustahil akan ramai ahli masyarakat yang tidak berkeahlian akan mudah terpengaruh, lantas sama-sama mengulangi kalimah yang pastinya menyakiti Nabi SAW itu. Mahukah kita jika umat Islam di Malaysia sampai terhitung sebagai tidak peka dengan apa yang menyakiti Nabi SAW? Bukankah ini boleh mengundang kemurkaan Allah dan Rasul-Nya?
Isu Yang Tak Patut Ditimbulkan
Jika diteliti secara insaf, sebenarnya tidak terdapat satu sebab pun yang munasabah untuk isu status ibu dan bapa Nabi SAW kita ungkit dan ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat kita. Jika tidak ditimbulkan isu ini, masyarakat kita amnya mempunyai tanggapan yang sangat mulia terhadap ibu dan bapa Nabi SAW. Sikap ini adalah sikap yang lebih tepat dan berasas, seperti yang akan kita huraikan. Kalau pun ada yang bertanggapan bahawa ini adalah suatu sikap yang bercanggah dengan hadis, apakah isu ini menepati keutamaan yang begitu tinggi dan mendesak sehingga perlu ditimbulkan. Adakah selama ini dengan memuliakan ibu dan bapa Nabi SAW telah begitu merugikan dan memundurkan Islam dan umatnya di Malaysia?
Selain kerana tiada keperluan jelas untuk ditimbulkan, isu ini juga tidak patut ditimbulkan secara terbuka kerana untuk benar-benar menganggapnya secara adil menuntut kajian dan penelitian ilmiah khusus. Kenapalah kita perlu menyibukkan masyarakat awam dengan persoalan-persoalan yang tidak mudah atau tidak mampu untuk mereka sikapi dengan adil?
Sebenarnya, isu ini ada persamaan dengan beberapa isu-isu agama yang sifatnya kompleks dan boleh mengelirukan yang suka ditimbulkan oleh segelintir penceramah akhir-akhir ini. Walaupun kita sangat keberatan membahaskannya, tetapi apabila sudah ada yang menimbulkannya secara terbuka maka wajiblah pula penjelasan dibuat agar masyarakat tidak keliru dan tersalah faham. Pendek kata ia sudah menjadi suatu kemungkaran dan kezaliman ilmiah yang wajib dicegah dan dibetulkan.
Fahaman Yang Lebih Sejahtera
Pandangan yang mendakwa ibu dan bapa Nabi SAW adalah kufur dan berada dalam neraka sebenarnya berpunca daripada dua hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam salah satunya, Nabi SAW bersabda bahawa Baginda tidak diizinkan oleh Allah memohon keampunan bagi ibu Baginda tetapi diizinkan menziarahi kuburnya. Dalam hadis kedua, Nabi SAW diriwayatkan menjawab pertanyaan seorang lelaki tentang nasib bapanya dengan menjawab bahawa ayah lelaki tersebut dan ayah Baginda sendiri berada dalam neraka. Walaupun sahih dari segi sanadnya tetapi jumhur ulama berpendapat bahawa teks hadis-hadis ini tidak boleh difahami secara zahir semata-mata. Ia adalah suatu yang biasa berlaku dalam kita berinteraksi dengan hadis. Bukan hanya kesahihan sanad menjadi penentuan hukum daripada sesuatu hadis. Terdapat juga kaedah-kaedah tertentu dalam memahami teks hadis itu sendiri yang perlu dipatuhi.
Berdasarkan kaedah-kaedah dalam memahami teks hadis, hadis-hadis di atas sebenarnya tidak mendokong kesimpulan bahawa ibu dan bapa Nabi SAW kufur dan diazab. Pertamanya, makna zahir hadis-hadis ini tidak boleh dipegang kerana ia bertentangan dengan nas-nas al-Quran dan hadis-hadis lain. Antaranya, ayat-ayat dan hadis yang mensabitkan bahawa Nabi SAW adalah berasal daripada keturunan yang mulia dan terpelihara seperti ayat 219, surah al-Syu'ara' yang bermaksud, "dan (Allah melihat) pergerakanmu di antara orang-orang yang sujud". Ibnu 'Abbas r.a, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Tabrani dan Abu Nuaim serta dalam tafsir-tafsir al-Tabari dan al-Qurtubi, berpendapat bahawa ayat ini bermaksud bahawa Nabi SAW telah berpindah dari satu sulbi ke satu sulbi di kalangan nenek moyang yang sujud dan beriman. Hal ini disokong oleh hadis-hadis yang merakamkan bahawa Nabi SAW pernah memuji atau berbangga dengan ibu bapa dan keturunannya, sedangkan adalah tidak wajar Nabi SAW melakukan demikian jika mereka itu syirik atau kufur.
Maksud zahir hadis-hadis ini juga bertentangan dengan nas-nas al-Quran berkenaan kaedah bahawa Allah SWT tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum dikirimkan para rasul-Nya untuk menyampaikan agama yang benar (al-Israa':15, al-An'aam:131, al-Syu'araa', al-Nisaa':165). Terdapat pula ayat-ayat yang menafikan bahawa terdapat rasul yang dikirim kepada kaum Nabi Muhammad SAW sebelum kebangkitan Baginda (Saba':44, al-Qasas:46). Maka kesimpulan yang lebih tepat adalah kedua-dua ibu dan bapa Nabi SAW sama ada beriman dengan peninggalan risalah rasul-rasul yang terdahulu ataupun tergolong dalam kalangan Ahlul Fatrah, iaitu mereka yang berada di zaman yang tiada rasul, menyebabkan mereka secara prinsipnya tidak akan diazab.
Ada juga pandangan ulama yang mentakwilkan makna 'abi' dalam hadis kedua yang zahirnya bermaksud 'ayah' kepada Abu Talib atau Abu Lahab, bapa-bapa saudara Nabi SAW dan bukannya Abdullah, bapa Baginda SAW.
Penggunaan panggilan sebegini memang berlaku dalam bahasa Arab dan dalam al-Quran sendiri dalam kes Nabi Ibrahim AS (al-An'aam : 74). Ada juga pandangan ulama bahawa kedua-dua hadis Riwayat Muslim itu memang perlu ditakwilkan kerana makna zahirnya bercanggah. Jika ibu Nabi SAW benar-benar kafir, Nabi SAW tidak akan diizinkan Allah SWT untuk menziarahi kuburnya.
Kita juga telah menyentuh bagaimana mengatakan ibu dan bapa Nabi SAW berada di dalam neraka akan menyakiti Nabi SAW. Menyakiti Nabi dengan apa cara sekalipun adalah jelas diancam di dalam al-Quran dengan laknat Allah SWT di dunia dan akhirat serta dijanjikan dengan siksa yang pedih dan hina (al-Tawbah:61 dan al-Ahzab:57). Melihat betapa besarnya kesalahan ini, tidak hairanlah Saidina Umar bin Abdul Aziz dilaporkan telah mengancam seorang pegawainya yang mengatakan ibu dan bapa Nabi SAW musyrik dengan hukuman dipotong lidahnya, dipotong tangan dan kakinya dan dipancung kepalanya. Lalu pegawai itu dilarang memegang apa-apa jawatan sepanjang khilafahnya.(Tarikh Ibn 'Asakir). Imam al-Alusi (m.1127H) pula dalam Tafsir Ruh al-Maaninya ada memberi amaran keras, "Aku bimbangkan kekufuran terhadap seseorang yang menuduh ibu dan ayah Nabi SAW (kufur) (Jilid 11, ms.207).
Perincian dan huraian lanjut tentang pandangan para ulama yang membela ibu dan bapa Nabi SAW boleh didapati dalam beberapa kitab termasuk kitab-kitab khusus karangan Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Masalik al-Hunafa dan al-Ta'dzim wal Minnah, kitab al-Hujaj al-Wadhihaat karya ulama' Makkah, Al-'Allamah Sayyid Ishaq Azzuz, kitab Sadad al-Din oleh Imam al-Barzanji, kitab Hadyu al-Nairain karya al-Allamah Prof.Dr.Judah al-Mahdi dari Universiti al-Azhar Mesir dan fatwa Mufti Mesir, Al-Syeikh Dr.Ali Jum'ah dalam koleksi fatwanya, al-Bayan. Insya-Allah dalam masa terdekat, kami akan mengeluarkan terjemahan dan sedutan daripada kitab-kitab ini dalam bahasa Melayu.
Jelas daripada perbahasan ringkas kita ini bahawa, jika kita mahu, ruang untuk kita mempertahankan keimanan dan terselamatnya ibu dan bapa Nabi SAW yang mulia adalah luas terbentang. Kalaulah bersangka baik itu terpuji, maka apakah lagi situasi yang lebih utama untuk kita bersangka baik selain dalam isu ini yang membabitkan hak kekasih dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah SWT. Ia juga sebenarnya adalah sangka baik kita terhadap Allah SWT sendiri yang Maha Kaya lagi Berkuasa untuk meletakkan zuriat kekasih-Nya dalam rantaian keturunan hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Di sebalik episod yang sangat mengguris hati ini, mungkin ada beberapa hikmah dan pengajaran yang perlu diambil. Para penceramah yang giat mengisi ruang dakwah di tengah masyarakat mestilah sangat berhati-hati dalam memilih kandungan dan mesej dakwah mereka. Ini kerana, bersama populariti dan kemasyhuran itu datangnya amanah yang dipertanggungjawabkan. Bagi masyarakat pula, di zaman ledakan informasi ini yang turut menyaksikan informasi agama turut tersebar tanpa kawalan, mereka perlulah lebih berhati-hati dalam mempercayai apa yang mereka baca dan dengar. Maklumat agama yang keluar di akhbar, terdengar di radio, tersiar di TV dan popular di internet tidaklah semestinya dijamin betul dan benar. Dalam bab agama, janganlah kita malas mengkaji dan mempastikan kerana akhirat kitalah yang jadi pertaruhannya. Isu ini juga adalah satu contoh jelas bagaimana sikap terlalu merujuk kepada Sunnah tanpa berpandukan kaedah dan panduan para ulama muktabar adalah sikap yang silap dan merbahaya. Janganlah kita mudah terbawa-bawa dengan sesetengah aliran yang mendakwa sebagai menjuarai Sunnah sedangkan hakikatnya mereka sering menzalimi Sunnah dan yang empunya Sunnah SAW. Semoga Allah SWT menjadikan kita di kalangan mereka yang sentiasa menggembirakan dan mempertahankan kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW.
Penulis ialah Ali Majlis Agama Islam Negeri Sembilan dan Penasihat Yayasan Sofa Negeri Sembilan
29 April 2010
Majlis Maulid & Ta'lim Darul Murtadza
Majlis Maulid & Ta'lim Darul Murtadza
8.30 - Solat Isya'
9.00 - Bacaan Maulid Addiya'ulami'
Bacaan Qasidah
Syarahan
Doa'
Jamuan
LAIN-LAIN MAJLIS ILMU :
1. Pengajian Di Ba’alawi KL Minggu Ini : http://wp.me/piAx4-1Bm
2. Jadual Pengajian Kitab Bersama Tuan Guru KH Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari : http://wp.me/piAx4-1Co
3. Majlis Maulidur Rasul SAW & Haul Al-Syeikh Abd Qadir Al-Jilani : http://wp.me/piAx4-1A6
4. Majlis Ilmu Dari Buku Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad : http://wp.me/piAx4-1zt
5. Kunjungan Sayyidi al-Arifbillah al-Murobbi asy-Syarif Yusuf bin Muhyiddin : http://wp.me/piAx4-1Cq
6. ZIARAH DAKWAH HABIB UMAR KE INDONESIA : http://wp.me/piAx4-1Cs
8.30 - Solat Isya'
9.00 - Bacaan Maulid Addiya'ulami'
Bacaan Qasidah
Syarahan
Doa'
Jamuan
LAIN-LAIN MAJLIS ILMU :
1. Pengajian Di Ba’alawi KL Minggu Ini : http://wp.me/piAx4-1Bm
2. Jadual Pengajian Kitab Bersama Tuan Guru KH Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari : http://wp.me/piAx4-1Co
3. Majlis Maulidur Rasul SAW & Haul Al-Syeikh Abd Qadir Al-Jilani : http://wp.me/piAx4-1A6
4. Majlis Ilmu Dari Buku Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad : http://wp.me/piAx4-1zt
5. Kunjungan Sayyidi al-Arifbillah al-Murobbi asy-Syarif Yusuf bin Muhyiddin : http://wp.me/piAx4-1Cq
6. ZIARAH DAKWAH HABIB UMAR KE INDONESIA : http://wp.me/piAx4-1Cs
26 April 2010
Majlis Maulidur Rasul SAW & Haul Al-Syeikh Abd Qadir Al-Jilani
Majlis Maulidur Rasul SAW & Haul Al-Syeikh Abd Qadir Al-Jilani
Jenis: Pendidikan – Kuliah
Tarikh: 15hb Mei 2010
Masa: 5.00 ptg – 9.00 ptg
Lokasi: Masjid Negara, KL
SILA KLIK GAMBAR UNTUK PAPARAN LEBIH JELAS :
Dikirim dalam Majlis Ilmu
Jenis: Pendidikan – Kuliah
Tarikh: 15hb Mei 2010
Masa: 5.00 ptg – 9.00 ptg
Lokasi: Masjid Negara, KL
SILA KLIK GAMBAR UNTUK PAPARAN LEBIH JELAS :
Dikirim dalam Majlis Ilmu
15 April 2010
Persembahan Almawlid di Pasar Seni KL 17/04/2010
Persembahan Almawlid di Pasar Seni KL 17/04/2010
LAIN-LAIN MAJLIS ILMU :
1.Pengajian Kitab Bersama Tuan Guru KH Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari an-Nadwi : http://wp.me/piAx4-1sT
2. FORUM PERDANA PENGIMARAHAN MASJID : http://wp.me/piAx4-1s8
3. Majlis Haul Tokoh -Tokoh Ulama Kg kuala Tekal ke 14 : http://wp.me/piAx4-1lq
Posted
LAIN-LAIN MAJLIS ILMU :
1.Pengajian Kitab Bersama Tuan Guru KH Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari an-Nadwi : http://wp.me/piAx4-1sT
2. FORUM PERDANA PENGIMARAHAN MASJID : http://wp.me/piAx4-1s8
3. Majlis Haul Tokoh -Tokoh Ulama Kg kuala Tekal ke 14 : http://wp.me/piAx4-1lq
Posted
23 Mac 2010
Majlis Maulid Bulanan
Majlis Maulid Bulanan
Majlis Ta'lim Darul Murtadza pimpinan Habib Ali Zainal Abidin Alhamid akan mengadakan Maulid Bulanan pada 26/3/2010 bertempat di Masjid Baitul Aman, Jalan Damai, Off Jalan Ampang, KL.Tetamu kehormat kali ini merupakan Habib Sheikh Alhabsyi (Munsib Alhabsyi - Hauthah, Hadramaut, Yemen). Acaranya adalah seperti berikut:-
8.30 - Solat Isya'
9.00 - Bacaan Maulid Addiya'ulami'
Bacaan Qasidah
Syarahan
Doa'
Jamuan
http://pondokhabib.wordpress.com/
Majlis Ta'lim Darul Murtadza pimpinan Habib Ali Zainal Abidin Alhamid akan mengadakan Maulid Bulanan pada 26/3/2010 bertempat di Masjid Baitul Aman, Jalan Damai, Off Jalan Ampang, KL.Tetamu kehormat kali ini merupakan Habib Sheikh Alhabsyi (Munsib Alhabsyi - Hauthah, Hadramaut, Yemen). Acaranya adalah seperti berikut:-
8.30 - Solat Isya'
9.00 - Bacaan Maulid Addiya'ulami'
Bacaan Qasidah
Syarahan
Doa'
Jamuan
http://pondokhabib.wordpress.com/
15 Mac 2010
Artikel2 Mawlid Nabi
1.ESOK MAJLIS BERSAMA AD-DAIE - HABIB MUNZIR BIN FUAD AL-MUSAWA : http://wp.me/piAx4-179
2.Pandangan NU/Nahdlatul Ulama tentang Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma’na Bid’ah : http://wp.me/piAx4-1de
3.Mengapa Mempertikaikan Maulid? - Syeikh. Fuad Kamaluddin : http://wp.me/piAx4-1bf
4.Sambutan Maulidurrasul.Hukum dan Perbahasan. : http://wp.me/piAx4-1aC
5.Hukum Menyambut Maulidul Rasul -Ustaz Rashidi : http://wp.me/piAx4-ne
6.Mengapa Menyambut Maulidur Rasul ? : http://wp.me/piAx4-1ap
7.Mengapa sambut Maulid Nabi-Yayasan Sofa : http://wp.me/piAx4-1at
8.Tanda Cinta Kepada Rasulullah : http://wp.me/piAx4-1an
9.Maulid Nabi SAW : http://wp.me/piAx4-1a6
10.Mengenai Maulid Nabawi : http://wp.me/piAx4-19X
11.Memperingati Manusia Agung : http://wp.me/piAx4-19L
12.Risalah sambut Maulidurrasul s.a.w : http://wp.me/piAx4-19J
13.Mawlid - Fatwa Ibnu Taimiyyah : http://wp.me/piAx4-mq
14.Mawlid - al-Qardhawi : http://wp.me/piAx4-mo
15.Marhaban Ya HabibAllah : http://wp.me/piAx4-19r
2.Pandangan NU/Nahdlatul Ulama tentang Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma’na Bid’ah : http://wp.me/piAx4-1de
3.Mengapa Mempertikaikan Maulid? - Syeikh. Fuad Kamaluddin : http://wp.me/piAx4-1bf
4.Sambutan Maulidurrasul.Hukum dan Perbahasan. : http://wp.me/piAx4-1aC
5.Hukum Menyambut Maulidul Rasul -Ustaz Rashidi : http://wp.me/piAx4-ne
6.Mengapa Menyambut Maulidur Rasul ? : http://wp.me/piAx4-1ap
7.Mengapa sambut Maulid Nabi-Yayasan Sofa : http://wp.me/piAx4-1at
8.Tanda Cinta Kepada Rasulullah : http://wp.me/piAx4-1an
9.Maulid Nabi SAW : http://wp.me/piAx4-1a6
10.Mengenai Maulid Nabawi : http://wp.me/piAx4-19X
11.Memperingati Manusia Agung : http://wp.me/piAx4-19L
12.Risalah sambut Maulidurrasul s.a.w : http://wp.me/piAx4-19J
13.Mawlid - Fatwa Ibnu Taimiyyah : http://wp.me/piAx4-mq
14.Mawlid - al-Qardhawi : http://wp.me/piAx4-mo
15.Marhaban Ya HabibAllah : http://wp.me/piAx4-19r
10 Mac 2010
08 Mac 2010
Mengapa Mempertikaikan Maulid? - Sy. Fuad
Mengapa Mempertikaikan Maulid? - Sy. Fuad
Alhamdulillah. Setinggi pujian kita rafa`kan ke hadrat Allah Rabbul Jalil di atas limpahan nikmatnya kita dipertemukan dan dapat melalui hari-hari bulan Rabi` al-Awwal tahun ini yang menyuburkan ingatan dan ikatan kasih kita dengan kekasihNya, Nabi kita, Sayyiduna Muhammad SAW. Nampaknya sambutan umat Islam di serata pelusuk dunia terhadap hari dan bulan kelahiran Nabi SAW tetap segar dan bersemangat. Di negara kita sendiri, pelbagai bentuk sambutan yang diadakan di pelbagai peringkat mendapat sokongan dengan kehadiran begitu ramai anggota masyarakat. Masih banyak lagi majlis yang dijadualkan dalam masa terdekat sehingga mungkin melimpah keluar bulan Rabi` al-Awwal. Semua ini adalah suatu nikmat dan kurniaan istimewa daripada Allah SWT bagi umat dan negara kita. Kita berdoa agar umat Islam di Malaysia akan sentiasa terkedepan dalam mengagungkan, menyanjung, mempertahankan dan membuktikan kecintaan kita terhadap Sayyiduna Muhammad SAW yang semuanya merupakan inti dan hakikat sambutan Maulid Nabi.Kita berdoa agar sambutan Maulid Nabi di negara kita akan terus meriah dan lebih semarak walaupun terdapat suara-suara yang nampaknya tidak senang dan kelihatan seolah-olah alahan (alergik) dengan sambutan Maulid. Pada tahun ini, suara-suara ini turut ‘menumpang’ isu pembatalan perarakan sambutan Maulid di salah sebuah negeri. Sebenarnya, saban tahun, apabila datang sahaja bulan Maulid, ada sahaja suara-suara, yang nampaknya bersumber daripada orang-orang yang sama, yang mempermasalahkan, mempertikaikan dan tidak senang dengan Maulid. Sikap tidak senang ini disuarakan pada pelbagai tahap dan dengan pelbagai ibarat. Ada yang menafikan adanya keistimewaan atau fadhilat Maulid Nabi SAW dan membanding-bandingkannya dengan keutamaan Nuzul Quran. Ada yang mengungkit-ungkit bahawa sambutan Maulid tidak pernah dibuat oleh Nabi SAW dan para sahabatnya (maksud Bid`ah yang sesat). Ada pula yang memilih musim Maulid ini untuk menulis dan menekankan tentang soal keinsanan Nabi Muhammad SAW. Dan ada juga yang mempertikaikan cara dan kaedah sambutan itu diadakan. Mereka yang faham dan mengenali suara-suara ini tidaklah terlalu terperanjat walaupun tetap menepuk dahi dan mengurut dada kerana sedih dan kesal dengan kekeliruan yang cuba dijaja dan kedegilan sikap yang ditonjolkan. Mereka yang kurang mengerti dan memahami pula mungkin sedikit-sebanyak akan terkeliru dan timbul kesangsian terhadap sambutan Maulid. Apatah lagi jika isu ini turut bercampur dan bertindan dengan isu dan sentimen politik kepartian.
Bukanlah terlalu besar isunya, jikalau yang dipertikaikan tentang Maulid ini adalah kaedah dan cara sambutannya. Prinsip-prinsip Islam dalam menentukan kaedah dan cara dalam sesuatu amalan sudah ada pada kita. Yang haram dan halal sudah jelas dalam Islam, manakala yang syubhah eloklah dijauhi. Kita turut diajar berlapang dada dalam persoalan yang statusnya masih khilaf. Kita juga dilarang mempertikaikan niat orang lain serta perlu bersangka baik sesama Islam. Berbekalkan sikap ini soal-soal rinci seperti berarak atau tidak, pembaziran, percampuran dan batas aurat, lafaz dan bacaan selawat, berkompang dalam masjid dan sebagainya dapat kita sikapi tanpa menimbulkan banyak masalah.
Malangnya, sebahagian suara-suara yang alahan Maulid ini turut mempertikaikan prinsip dan hukum Maulid serta kewajaran dan kebijaksanaan menganjurkannya dari sisi Islam. Ini adalah soal yang lebih besar dan mendasar. Kegelinciran kaki dalam hal ini boleh melibatkan soal-soal besar termasuklah menyakiti Nabi SAW, tidak beradab dengan Baginda SAW, menentang syiar Islam, menyesatkan para ulama dan umat Islam, memecahkan kesatuan umat dan seumpamanya. Tidak hairanlah seorang tokoh ulama Yaman, al-Allamah Abu Abdullah `Alawi al-Yamani turut memperuntukkan bab khusus tentang persoalan Maulid dalam kitabnya yang bertajuk Intabih Diinuka fi Khotrin (Awas, Agamu Dalam Bahaya!). Memang, jika tidak berhati-hati, kata-kata dan perbuatan kita dalam bab Maulid ini boleh membahayakan dan mengancam agama kita sebenarnya.
Jika diteliti, ada beberapa kerangka faham agama tertentu yang dipegangi oleh mereka yang alahan Maulid ini yang akhirnya menyebabkan mereka bersikap begitu. Kerangka faham agama yang sama juga menyebabkan mereka turut mempermasalahkan dan berbeza sikap dengan majoriti umat dalam soal-soal tertentu seperti fiqh bermazhab, tasawuf, dan beberapa isu-isu khilafiyyah. Kita boleh menyimpulkan kerangka faham agama mereka ini kepada beberapa fahaman utama :
Pertamanya : fahaman mereka yang ganjil berkenaan prinsip dan konsep Bid`ah. Mereka tidak mahu menerima pandangan ulama-ulama muktabar yang membahagikan Bid`ah kepada yang sesat dan yang terpuji. Bagi mereka semua Bid`ah dalam hal agama adalah sesat. Mereka keras berpegang dengan tafsiran literal dan sempit kepada hadis yang berkaitan persoalan Bid`ah ini.
Kedua : mereka terlalu menekankan sikap Ittiba` (mematuhi) dalam sikap mereka terhadap Nabi SAW dan Sunnahnya. Seterusnya, secara langsung atau tidak mereka ini sering mempertentangkan Ittiba` dengan sikap-sikap lain kita terhadap Nabi seperti Hubb (mengasihi) Ta`dzim (mengagungkan), Tasyaffu` (memohon syafaat), Tabarruk (mengambil berkat), Tawassul (mengambil sebagai perantaraan) dan seumpamanya.
Ketiga : mereka berpegang serta bertaklid kuat dengan fahaman dan tafsiran beberapa tokoh ulama khalaf tertentu yang akhirnya telah diolah dan terolah menjadi suatu aliran terasing daripada arus perdana Umat. Berbekalkan fahaman-fahaman dalam aliran ini yang telah mereka angkat ke tahap doktrin dan memang disebarkan secara indoktrinasi (secara perbincangan sebelah pihak serta tidak saksama ataupun objektif), mereka ini rata-rata bersikap lebih pesimistik dan cenderung mempertikaikan tafsiran para ulama lain selain daripada beberapa ulama yang menjadi ikutan mereka.
Jika direnungi fahaman-fahaman asas mereka ini maka tidak hairanlah mereka ini cenderung menolak Maulid. Sebaliknya, mereka yang mendokong Maulid tidak perlu mengambil-kira pandangan ini kerana asas-asas fahamannya ternyata berbeza dengan arus perdana Umat. Pertamanya, di sisi majoriti umat, sambutan Maulid adalah paling kurangpun dikira sebagai Bid`ah Hassanah. Malah ada pandangan menyatakan bahawa ia termasuk sunnah yang dimulakan oleh Nabi SAW sendiri berdasarkan hadis yang menyebut bahawa kelahirannya pada hari Isnin menjadi salah satu asas Baginda SAW berpuasa sunat pada hari-hari tersebut, “Padanya (hari Isnin) aku dilahirkan dan padanya (hari Isnin wahyu pertama) diturunkan kepadaku.”( Syarah Sohih Muslim, Imam Nawawi Jld 8 H: 235)
Majoriti umat juga tidak melihat konsep Ittiba`, Hubb, Ta`dzim, Tasyaffu`, Tabarruk dan Tawassul sebagai konsep-konsep yang bercanggahan antara satu sama lain. Malah semuanya adalah sebahagian dan selari dengan dasar mematuhi dan mentaati Nabi SAW kerana konsep-konsep ini tidaklah dilarang atau bercanggah dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.
Merujuk kepada asas fahaman mereka yang ketiga, majoriti Umat Islam telah mewarisi khazanah fahaman agama meliputi ketiga-tiga cabang utamanya Aqidah/Tauhid, Shariah/Fiqh dan Akhlak/Tasawwuf daripada generasi demi generasi ulama-ulama pilihan dalam suatu kerangka yang kemas dan sistematik. Para pemuka ulama Umat dalam kerangka ini rata-ratanya tidak menolak dan mendokong Maulid sehingga boleh dianggap terdapat sebentuk Ijma` Sukuti (ijma` senyap) tentang sambutan Maulid Nabi selepas ia mula dianjurkan secara besar-besaran.
Dalam kehangatan kita cuba mendaulatkan dan menyanjung Nabi SAW di musim Maulid tahun ini, seorang penulis kolum telah memilih untuk membahaskan isu keinsanan para Rasul AS mengikut fahaman yang tersendiri. Pemilihan masa dan cara penulisan tulisan tersebut nampaknya cuba menghantar beberapa mesej yang bercanggah dengan sambutan Maulid Nabi SAW. Antara mesejnya adalah, keinsanan Nabi SAW ditonjolkan agar tumpuan diberikan terhadap al-Quran dan bukan diri Nabi SAW. Mukjizat yang berkaitan dengan diri Nabi SAW cuba dikecilkan kononnya untuk mengelakkan pelampauan dalam memuji Nabi SAW. Olahan sebegini terhadap mukjizat peribadi Nabi SAW turut dimaksudkan untuk mempermasalahkan keistimewaan yang boleh dikurniakan oleh Allah SWT kepada insan-insan pilihannya yang lain seperti Irhas dan Karamah.
Seperti biasa, kolumnis tersebut membawa beberapa dalil al-Quran dan Hadis untuk mendokong `tesis’nya itu. Cuma, jika diperhalusi, kesemua dalil-dalil ini telah ditafsirkan dan diletakkan dalam kerangka yang sesuai dengan kecenderungan penulis. Misalnya, ketika memetik ayat 110, Surah al-Kahfi yang bermaksud, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku...” penulis tidak pula menegaskan bahawa walaupun Nabi SAW itu insan, tetapi sebagai insan yang menerima wahyu Baginda SAW bukanlah sama dengan insan biasa. Menerima wahyu adalah tugas berat dan istimewa dan Rasulullah SAW telah dipilih serta dipersiapkan lebih awal untuk proses itu. Setelah Baginda SAW menerima wahyu pula, Baginda SAW terus-menerus meningkat keistimewaannya dan tidak sama sekali boleh di samakan dengan insan biasa.
Penulis turut menukilkan ayat-ayat yang menegaskan bahawa mukjizat Nabi SAW hanya berlaku dengan izin Allah SWT. Isu ini tidak pernah dipertikaikan oleh mereka yang mengagungkan Nabi SAW. Dalam menjulang Nabi SAW, para ulama dan umat Islam arus perdana tetap melakukannya dalam kerangka tauhid. Mereka tetap mengembalikan segala keistimewaan Baginda SAW kepada izin, ketentuan dan iradah Allah SWT.
Kolumnis ini juga memetik hadis dimana Baginda SAW melarang kita daripada memujinya berlebihan seperti orang Kristian memuji Nabi Isa AS. Tetapi beliau tidak menyatakan pandangan para ulama yang rata-rata memahami hadis tersebut sebagai larangan bersyarat. Dilarang memuji Nabi SAW, jika pujian tersebut sampai ke tahap mengatakan Nabi Muhammad SAW sebagai anak Allah dan lain-lain dakwaan melampau Kristian tentang Nabi Isa AS. Adapun pujian setinggi manapun, selagi tidak sampai ke tahap itu, memang layak dan sesuai dengan ketinggian dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW disisi Allah SWT.
Kolumnis tidak pula membawa dalil-dalil al-Quran dan Hadis yang menjulang dan memuji Nabi SAW. Tidak juga merujuk kepada sikap dan perbuatan para Sahabat RA dalam memuliakan dan membesarkan Nabi SAW. Para Sahabat RA, merupakan generasi yang paling memahami dan menjiwai al-Quran dan Sunnah tetapi apa yang mereka lakukan dalam memuliakan Nabi SAW adalah jauh melebihi apa yang kita lakukan di dalam atau di luar majlis-majlis Maulid yang kita anjurkan.
Seperti beberapa tulisan sebelum ini, kolumnis ini juga memberi gambaran yang buruk terhadap hubungan antara murid dan guru dalam dunia kerohanian Islam. Beliau mengajak pembaca untuk menilai dunia yang begitu dimuliakan oleh para ulama Islam ini dengan merujuk kepada fenomena yang berlaku dalam kumpulan-kumpulan ajaran sesat yang menisbahkan diri kepada dunia Tasawwuf dan Tarekat. Ini bukanlah sikap yang jujur mahupun ilmiyyah dalam menilai ajaran dan fahaman arus perdana dalam dunia tersebut.
Sebenarnya kecenderungan memperkecilkan mukjizat dan khususiyyah Nabi SAW serta Karamah para ulama-awliya’ pewaris Baginda SAW, adalah suatu percubaan meletakkan semua orang di martabat yang sama dalam Islam. Tindakan menyamaratakan (levelling) semua orang dalam Islam ini adalah jelas bercanggah dengan ajaran Islam bahkan dengan fitrah alam. Ia akan mengakibatkan hilangnya autoriti dalam Islam yang akan menghakis keutuhan keseluruhan Islam itu sendiri. Akhirnya sesiapa sahaja boleh cuba bercakap bagi mewakili Islam. Sikap menafikan keistimewaan mereka yang benar-benar istimewa dalam Islam ini adalah lebih buruk dan bahaya jika ia merupakan strategi licik untuk menggantikan tempat para tokoh-tokoh ikutan muktabar umat selama ini dengan ikutan terhadap tokoh-tokoh aliran dan kelompok sendiri.
Latarbelakang isu ini adalah perasaan kasih dan membesarkan Nabi SAW yang dikongsi dan disepakati semua. Oleh itu, rasanya dalam isu yang satu ini, hasil perbincangan ringkas di atas, tidaklah sepatutnya begitu sukar untuk mereka yang tidak terlalu keras sikapnya untuk bersama-sama bersikap positif terhadap sambutan Maulid Nabi SAW.
Bagi mereka yang selama ini memang mendokong Maulid, mereka sewajarnya lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh meraikan dan menyambutnya. Tinggal lagi mereka harus sentiasa mempertingkatkan tahap kefahaman dan penghayatan mereka dalam sambutan Maulid yang mereka amalkan. Kaedah dan caranya harus dimuhasabah agar benar-benar berkesan serta diberkati agar matlamat-matlamat tertinggi di sebalik sambutan Maulid dapat dicapai dan dijelmakan.
Bagi segelintir orang-orang agama yang cenderung menentang dan alahan kepada Maulid, kita mencadangkan kepada mereka bahawa sudah ada banyak hujah dan asas ilmiyyah untuk membolehkan mereka melunakkan sikap mereka dalam bab Maulid ini. Kalaupun mereka masih enggan menyambutnya, ambillah serendah-rendah sikap yang terhormat dengan menganggapnya sebagai isu yang masih khilaf didalam Islam. Maka tidaklah wajib malah dilarang bagi mereka untuk mengingkari pandangan yang berbeza dalam mana-mana isu khilafiyyah. Adalah lebih terlarang untuk mengingkari Maulid jika ia akan menimbulkan ketegangan dan memecahkan kesatuan umat. Jika kebetulan mereka ini turut merupakan orang-orang politik yang bergerak di gelanggang politik pilihanraya, adalah terlebih wajar mereka melunakkan sikap dan tidak terlalu alahan terhadap Maulid. Bersikap keras terhadap Maulid hanya akan mengurangkan keyakinan umat Islam terhadap kepimpinan mereka.
Bagi muslimin-muslimat yang dari kalangan awam yang masih keliru dan ragu-ragu dengan perbahasan yang kita kemukakan disini kita menyeru agar mereka terus mengkaji dengan saksama, bersyura dan beristikharah. Rujuklah tulisan dan pandangan ulama muktabar yang lebih terperinci berkenaan isu ini. Kita akui bahawa tidak sesuai di ruangan ini untuk kita menulis secara terlalu terperinci mahupun terlalu berterus-terang. Inilah sekurang-kurangnya yang wajib mereka lakukan kalau mereka mahu turut terjun ke gelanggang urusan para ulama dan mereka yang mengkhusus dalam ilmu-ilmu Islam. Itu pun dengan menjaga adab-adabnya dan dengan tetap akur bahawa isu-isu agama adalah satu bidang yang kepakaran yang menuntut pengkhususan seperti bidang-bidang pengkhususan yang lain. Jika mereka tidak sanggup dan memangpun mereka tidak dituntut mengkaji seperti para ulama mengkaji, maka mereka sepatutnya mengikut pandangan muktabar sama ada yang telah diangkat sebagai fatwa rasmi ataupun tidak. Itu adalah sikap yang lebih selamat dan sejahtera bagi agama mereka.
Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin al-Maliki, Ahli Majlis Agama Islam Negeri Sembilan dan Penasihat Yayasan Sofa Negeri Sembilan.
Bukanlah terlalu besar isunya, jikalau yang dipertikaikan tentang Maulid ini adalah kaedah dan cara sambutannya. Prinsip-prinsip Islam dalam menentukan kaedah dan cara dalam sesuatu amalan sudah ada pada kita. Yang haram dan halal sudah jelas dalam Islam, manakala yang syubhah eloklah dijauhi. Kita turut diajar berlapang dada dalam persoalan yang statusnya masih khilaf. Kita juga dilarang mempertikaikan niat orang lain serta perlu bersangka baik sesama Islam. Berbekalkan sikap ini soal-soal rinci seperti berarak atau tidak, pembaziran, percampuran dan batas aurat, lafaz dan bacaan selawat, berkompang dalam masjid dan sebagainya dapat kita sikapi tanpa menimbulkan banyak masalah.
Malangnya, sebahagian suara-suara yang alahan Maulid ini turut mempertikaikan prinsip dan hukum Maulid serta kewajaran dan kebijaksanaan menganjurkannya dari sisi Islam. Ini adalah soal yang lebih besar dan mendasar. Kegelinciran kaki dalam hal ini boleh melibatkan soal-soal besar termasuklah menyakiti Nabi SAW, tidak beradab dengan Baginda SAW, menentang syiar Islam, menyesatkan para ulama dan umat Islam, memecahkan kesatuan umat dan seumpamanya. Tidak hairanlah seorang tokoh ulama Yaman, al-Allamah Abu Abdullah `Alawi al-Yamani turut memperuntukkan bab khusus tentang persoalan Maulid dalam kitabnya yang bertajuk Intabih Diinuka fi Khotrin (Awas, Agamu Dalam Bahaya!). Memang, jika tidak berhati-hati, kata-kata dan perbuatan kita dalam bab Maulid ini boleh membahayakan dan mengancam agama kita sebenarnya.
Kerangka Fikir Menolak Maulid
Jika diteliti, ada beberapa kerangka faham agama tertentu yang dipegangi oleh mereka yang alahan Maulid ini yang akhirnya menyebabkan mereka bersikap begitu. Kerangka faham agama yang sama juga menyebabkan mereka turut mempermasalahkan dan berbeza sikap dengan majoriti umat dalam soal-soal tertentu seperti fiqh bermazhab, tasawuf, dan beberapa isu-isu khilafiyyah. Kita boleh menyimpulkan kerangka faham agama mereka ini kepada beberapa fahaman utama :
Pertamanya : fahaman mereka yang ganjil berkenaan prinsip dan konsep Bid`ah. Mereka tidak mahu menerima pandangan ulama-ulama muktabar yang membahagikan Bid`ah kepada yang sesat dan yang terpuji. Bagi mereka semua Bid`ah dalam hal agama adalah sesat. Mereka keras berpegang dengan tafsiran literal dan sempit kepada hadis yang berkaitan persoalan Bid`ah ini.
Kedua : mereka terlalu menekankan sikap Ittiba` (mematuhi) dalam sikap mereka terhadap Nabi SAW dan Sunnahnya. Seterusnya, secara langsung atau tidak mereka ini sering mempertentangkan Ittiba` dengan sikap-sikap lain kita terhadap Nabi seperti Hubb (mengasihi) Ta`dzim (mengagungkan), Tasyaffu` (memohon syafaat), Tabarruk (mengambil berkat), Tawassul (mengambil sebagai perantaraan) dan seumpamanya.
Ketiga : mereka berpegang serta bertaklid kuat dengan fahaman dan tafsiran beberapa tokoh ulama khalaf tertentu yang akhirnya telah diolah dan terolah menjadi suatu aliran terasing daripada arus perdana Umat. Berbekalkan fahaman-fahaman dalam aliran ini yang telah mereka angkat ke tahap doktrin dan memang disebarkan secara indoktrinasi (secara perbincangan sebelah pihak serta tidak saksama ataupun objektif), mereka ini rata-rata bersikap lebih pesimistik dan cenderung mempertikaikan tafsiran para ulama lain selain daripada beberapa ulama yang menjadi ikutan mereka.
Jika direnungi fahaman-fahaman asas mereka ini maka tidak hairanlah mereka ini cenderung menolak Maulid. Sebaliknya, mereka yang mendokong Maulid tidak perlu mengambil-kira pandangan ini kerana asas-asas fahamannya ternyata berbeza dengan arus perdana Umat. Pertamanya, di sisi majoriti umat, sambutan Maulid adalah paling kurangpun dikira sebagai Bid`ah Hassanah. Malah ada pandangan menyatakan bahawa ia termasuk sunnah yang dimulakan oleh Nabi SAW sendiri berdasarkan hadis yang menyebut bahawa kelahirannya pada hari Isnin menjadi salah satu asas Baginda SAW berpuasa sunat pada hari-hari tersebut, “Padanya (hari Isnin) aku dilahirkan dan padanya (hari Isnin wahyu pertama) diturunkan kepadaku.”( Syarah Sohih Muslim, Imam Nawawi Jld 8 H: 235)
Majoriti umat juga tidak melihat konsep Ittiba`, Hubb, Ta`dzim, Tasyaffu`, Tabarruk dan Tawassul sebagai konsep-konsep yang bercanggahan antara satu sama lain. Malah semuanya adalah sebahagian dan selari dengan dasar mematuhi dan mentaati Nabi SAW kerana konsep-konsep ini tidaklah dilarang atau bercanggah dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.
Merujuk kepada asas fahaman mereka yang ketiga, majoriti Umat Islam telah mewarisi khazanah fahaman agama meliputi ketiga-tiga cabang utamanya Aqidah/Tauhid, Shariah/Fiqh dan Akhlak/Tasawwuf daripada generasi demi generasi ulama-ulama pilihan dalam suatu kerangka yang kemas dan sistematik. Para pemuka ulama Umat dalam kerangka ini rata-ratanya tidak menolak dan mendokong Maulid sehingga boleh dianggap terdapat sebentuk Ijma` Sukuti (ijma` senyap) tentang sambutan Maulid Nabi selepas ia mula dianjurkan secara besar-besaran.
Keinsanan Rasulullah SAW
Dalam kehangatan kita cuba mendaulatkan dan menyanjung Nabi SAW di musim Maulid tahun ini, seorang penulis kolum telah memilih untuk membahaskan isu keinsanan para Rasul AS mengikut fahaman yang tersendiri. Pemilihan masa dan cara penulisan tulisan tersebut nampaknya cuba menghantar beberapa mesej yang bercanggah dengan sambutan Maulid Nabi SAW. Antara mesejnya adalah, keinsanan Nabi SAW ditonjolkan agar tumpuan diberikan terhadap al-Quran dan bukan diri Nabi SAW. Mukjizat yang berkaitan dengan diri Nabi SAW cuba dikecilkan kononnya untuk mengelakkan pelampauan dalam memuji Nabi SAW. Olahan sebegini terhadap mukjizat peribadi Nabi SAW turut dimaksudkan untuk mempermasalahkan keistimewaan yang boleh dikurniakan oleh Allah SWT kepada insan-insan pilihannya yang lain seperti Irhas dan Karamah.
Seperti biasa, kolumnis tersebut membawa beberapa dalil al-Quran dan Hadis untuk mendokong `tesis’nya itu. Cuma, jika diperhalusi, kesemua dalil-dalil ini telah ditafsirkan dan diletakkan dalam kerangka yang sesuai dengan kecenderungan penulis. Misalnya, ketika memetik ayat 110, Surah al-Kahfi yang bermaksud, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku...” penulis tidak pula menegaskan bahawa walaupun Nabi SAW itu insan, tetapi sebagai insan yang menerima wahyu Baginda SAW bukanlah sama dengan insan biasa. Menerima wahyu adalah tugas berat dan istimewa dan Rasulullah SAW telah dipilih serta dipersiapkan lebih awal untuk proses itu. Setelah Baginda SAW menerima wahyu pula, Baginda SAW terus-menerus meningkat keistimewaannya dan tidak sama sekali boleh di samakan dengan insan biasa.
Penulis turut menukilkan ayat-ayat yang menegaskan bahawa mukjizat Nabi SAW hanya berlaku dengan izin Allah SWT. Isu ini tidak pernah dipertikaikan oleh mereka yang mengagungkan Nabi SAW. Dalam menjulang Nabi SAW, para ulama dan umat Islam arus perdana tetap melakukannya dalam kerangka tauhid. Mereka tetap mengembalikan segala keistimewaan Baginda SAW kepada izin, ketentuan dan iradah Allah SWT.
Kolumnis ini juga memetik hadis dimana Baginda SAW melarang kita daripada memujinya berlebihan seperti orang Kristian memuji Nabi Isa AS. Tetapi beliau tidak menyatakan pandangan para ulama yang rata-rata memahami hadis tersebut sebagai larangan bersyarat. Dilarang memuji Nabi SAW, jika pujian tersebut sampai ke tahap mengatakan Nabi Muhammad SAW sebagai anak Allah dan lain-lain dakwaan melampau Kristian tentang Nabi Isa AS. Adapun pujian setinggi manapun, selagi tidak sampai ke tahap itu, memang layak dan sesuai dengan ketinggian dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW disisi Allah SWT.
Kolumnis tidak pula membawa dalil-dalil al-Quran dan Hadis yang menjulang dan memuji Nabi SAW. Tidak juga merujuk kepada sikap dan perbuatan para Sahabat RA dalam memuliakan dan membesarkan Nabi SAW. Para Sahabat RA, merupakan generasi yang paling memahami dan menjiwai al-Quran dan Sunnah tetapi apa yang mereka lakukan dalam memuliakan Nabi SAW adalah jauh melebihi apa yang kita lakukan di dalam atau di luar majlis-majlis Maulid yang kita anjurkan.
Seperti beberapa tulisan sebelum ini, kolumnis ini juga memberi gambaran yang buruk terhadap hubungan antara murid dan guru dalam dunia kerohanian Islam. Beliau mengajak pembaca untuk menilai dunia yang begitu dimuliakan oleh para ulama Islam ini dengan merujuk kepada fenomena yang berlaku dalam kumpulan-kumpulan ajaran sesat yang menisbahkan diri kepada dunia Tasawwuf dan Tarekat. Ini bukanlah sikap yang jujur mahupun ilmiyyah dalam menilai ajaran dan fahaman arus perdana dalam dunia tersebut.
Sebenarnya kecenderungan memperkecilkan mukjizat dan khususiyyah Nabi SAW serta Karamah para ulama-awliya’ pewaris Baginda SAW, adalah suatu percubaan meletakkan semua orang di martabat yang sama dalam Islam. Tindakan menyamaratakan (levelling) semua orang dalam Islam ini adalah jelas bercanggah dengan ajaran Islam bahkan dengan fitrah alam. Ia akan mengakibatkan hilangnya autoriti dalam Islam yang akan menghakis keutuhan keseluruhan Islam itu sendiri. Akhirnya sesiapa sahaja boleh cuba bercakap bagi mewakili Islam. Sikap menafikan keistimewaan mereka yang benar-benar istimewa dalam Islam ini adalah lebih buruk dan bahaya jika ia merupakan strategi licik untuk menggantikan tempat para tokoh-tokoh ikutan muktabar umat selama ini dengan ikutan terhadap tokoh-tokoh aliran dan kelompok sendiri.
Sikap Yang Sepatutnya
Latarbelakang isu ini adalah perasaan kasih dan membesarkan Nabi SAW yang dikongsi dan disepakati semua. Oleh itu, rasanya dalam isu yang satu ini, hasil perbincangan ringkas di atas, tidaklah sepatutnya begitu sukar untuk mereka yang tidak terlalu keras sikapnya untuk bersama-sama bersikap positif terhadap sambutan Maulid Nabi SAW.
Bagi mereka yang selama ini memang mendokong Maulid, mereka sewajarnya lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh meraikan dan menyambutnya. Tinggal lagi mereka harus sentiasa mempertingkatkan tahap kefahaman dan penghayatan mereka dalam sambutan Maulid yang mereka amalkan. Kaedah dan caranya harus dimuhasabah agar benar-benar berkesan serta diberkati agar matlamat-matlamat tertinggi di sebalik sambutan Maulid dapat dicapai dan dijelmakan.
Bagi segelintir orang-orang agama yang cenderung menentang dan alahan kepada Maulid, kita mencadangkan kepada mereka bahawa sudah ada banyak hujah dan asas ilmiyyah untuk membolehkan mereka melunakkan sikap mereka dalam bab Maulid ini. Kalaupun mereka masih enggan menyambutnya, ambillah serendah-rendah sikap yang terhormat dengan menganggapnya sebagai isu yang masih khilaf didalam Islam. Maka tidaklah wajib malah dilarang bagi mereka untuk mengingkari pandangan yang berbeza dalam mana-mana isu khilafiyyah. Adalah lebih terlarang untuk mengingkari Maulid jika ia akan menimbulkan ketegangan dan memecahkan kesatuan umat. Jika kebetulan mereka ini turut merupakan orang-orang politik yang bergerak di gelanggang politik pilihanraya, adalah terlebih wajar mereka melunakkan sikap dan tidak terlalu alahan terhadap Maulid. Bersikap keras terhadap Maulid hanya akan mengurangkan keyakinan umat Islam terhadap kepimpinan mereka.
Bagi muslimin-muslimat yang dari kalangan awam yang masih keliru dan ragu-ragu dengan perbahasan yang kita kemukakan disini kita menyeru agar mereka terus mengkaji dengan saksama, bersyura dan beristikharah. Rujuklah tulisan dan pandangan ulama muktabar yang lebih terperinci berkenaan isu ini. Kita akui bahawa tidak sesuai di ruangan ini untuk kita menulis secara terlalu terperinci mahupun terlalu berterus-terang. Inilah sekurang-kurangnya yang wajib mereka lakukan kalau mereka mahu turut terjun ke gelanggang urusan para ulama dan mereka yang mengkhusus dalam ilmu-ilmu Islam. Itu pun dengan menjaga adab-adabnya dan dengan tetap akur bahawa isu-isu agama adalah satu bidang yang kepakaran yang menuntut pengkhususan seperti bidang-bidang pengkhususan yang lain. Jika mereka tidak sanggup dan memangpun mereka tidak dituntut mengkaji seperti para ulama mengkaji, maka mereka sepatutnya mengikut pandangan muktabar sama ada yang telah diangkat sebagai fatwa rasmi ataupun tidak. Itu adalah sikap yang lebih selamat dan sejahtera bagi agama mereka.
Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin al-Maliki, Ahli Majlis Agama Islam Negeri Sembilan dan Penasihat Yayasan Sofa Negeri Sembilan.
http://pondokhabib.wordpress.com/
01 Mac 2010
Mengapa Menyambut Maulidur Rasul ?
Mengapa Menyambut Maulidur Rasul ?
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Perkara Khilafiyyah, Soal Jawab Untuk Faham
Jika ada mereka yang bertanyakan mengapa menyambut maulidul rasul. Maka jawapannya begini :
1. Dalil-dalil umum dari Al Quran yang dijadikan hujjah oleh Ulamak yang membenarkan :
فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.
(Surah al A’raf 157)
Di dalam ayat ini dengan tegas menyatakan bahawa orang yang memuliakan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beruntung. Merayakan maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya.
ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُۚ
Bahawa Aku adalah berserta kamu (memerhati segala-galanya). Demi sesungguhnya jika kamu dirikan sembahyang, serta kamu tunaikan zakat dan kamu beriman dengan segala Rasul (utusanKu) dan kamu muliakan mereka dan kamu pinjamkan Allah (dengan sedekah dan berbuat baik pada jalanNya) secara pinjaman yang baik (bukan kerana riak dan mencari keuntungan dunia), sudah tentu Aku akan ampunkan dosa-dosa kamu, dan Aku akan masukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.
(Surah al Ma’idah ayat 12)
Erti “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka” (Tafsir Tabari, juz VI halaman 151) Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakan Nabi.
2. Saya ingin menyemaikan perasaan cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam. Di kala ramai orang yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada baginda. Bukankah rasuluLlah bersabda begini :
“Belum sempurna iman seseorang dari kamu. kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya.”
(Riwayat Muslim juz 11, hlm 15)
Ahh.. bukankah kita sendiri meraikan ulang tahun kelahiran sendiri ? Ibu dan ayah. Bahkan ada pula golongan yang meraikan kelahiran ‘mujaddid’ mereka sendiri ? Jika kita sendiri pun menyambut hari ulang tahun perkahwinan, hari lahir diri dan juga orang lain. Mengapa kita tidak menyambut hari kelahiran manusia agung yang pengutusannya ke muka bumi ini memberi rahmat kepada sekalian alam ?
Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam :
“Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, “Demi Allah subahanahu wa ta’ala, engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang wahai Umar.”
(Hadith Riwayat Bukhari, Sohih Bukhari, vol 6 hlmn 2445)
3. Maulidul Rasul itu tidak pernah dibuat oleh RasuluLLah dan ia bid’ah sesat ?
Ada dalil umum bagaimana RasuluLlah sendiri pernah menyebut mengenai hari-hari kebesaran contohnya :
Bahawasanya Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, maka Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam mendapati di situ orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi bertanya kepada orang Yahudi itu: Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura ?
Jawab mereka : ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Fir’aun dan pada hari itu Musa dibebaskan, kami puasa kerana bersyukur kepada Tuhan. Maka RasuluLlah bersabda : Kami lebih patut menghormati Musa dibanding kamu”
(Hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
Banyak sebenarnya perkara yang tidak pernah dibuat oleh RasuluLlah tetapi dilakukan oleh sahabat dan para salafussoleh melalui ijtihad mereka dalam perkara ibadah contoh yang senaraikan oleh bekas Mufti Iraq iaitu Sheikh Abdul Malik Abdul Rahman as Sa’adi :
1. Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam pernah menyamakan (qiyas) hukum menunaikan haji dan berpuasa untuk seorang yang telah mati dengan hutang terhadap hamba ALlah yang ia wajib tunaikan. (Fath al Bari, jld 4, m.s 64)
Walaupun ini tidak dianggap hukum yang telah ditetapkan oleh qiyas tetapi dengan nas, kerana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam diberi kebenaran untuk mengeluarkan hukum, tetapi ini sebenarnya baginda telah membuka satu peluang atau laluan atau pintu kepada umatnya secara umum akan keharusan menggunakan qiyas. Terutama di dalam persoalan ibadah khusus kerana haji dan puasa adalah di antara bentuk ibadah.
2. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).
3. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (Lihat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)
4. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)
5. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)
6. Sebilangan besar pada ulama berpendapat, menyapu tangan sampai ke siku ketika tayammum adalah wajib diqiyaskan dengan membasuh kedua tangan ketika berwudhuk. (Lihat Mughni al Muhtaj:1/99 dan al Mughni: 1/204)
7. Bagi ulama yang berpendapat bahawa solat sunat sebelum Solat Jumaat adalah sunat muakkad mengqiyaskan dengan solat sunat sebelum Zohor. Manakala sebilangan ulama lain di antaranya Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim berpendapat bahaya ia adalah sunat (sunat mutlak bukannya sunat muakkad) mengqiyaskannya dengan solat sunat hari raya yang tidak ada solat sunat (muakkad) sebelum solat tersebut. ((Al Fatawa: 24/194)
8. Sesetengah ulama bermazhab Hanafi mengqiyaskan air yang banyak yang tidak terjejas apabila jatuh najis ke dalamnya dengan air laut dari segi banyaknya. (al Mushili, al Ikhtiyar: 1/14)
9. Para ulama bermazhab Hambali mengharuskan ganti dengan memberi makanan sebagai kaffarat bunuh (yang tidak sengaja), kerana mengqiyaskannya dengan kaffarat zihar dan kaffarat jimak pada siang hari Ramadhan (Al Mughni: 8/97)
10. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)
11. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)
12. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)
13. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)
14. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)
15. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)
Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.
Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :
“Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.
Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:
“Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.
Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).
Menurut Al A’raj:
“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”
. (Fath al Bari: 3/52)
Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.
4. Adakah contoh para salafussoleh yang menyambut maulidul Rasul ?
Prof Dr Ali Jum’ah iaitu Mufti Mesir menjawab begini :
Telah menjadi kebolehan (keharusan) dan tradisi di kalangan salafussoleh sejak abad ke 4 dan ke 5 merayakan peringatan maulid nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan pelbagai ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca al Quran, berzikir, melantunkan puisi-puisi dan puji-pujian tentang rasuluLlah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seperti : Al Hafizh Ibnu Jauzi, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah, al Hafizh Al Hebatusi, Al Hafizh Ibnu Hajar dan Penutup Huffazh (para penghafaz hadith dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al Suyuthi.
5. Ulamak lain yang membenarkan ?
Dalam kitab al Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan huraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang yang beriman.
Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang Maulid Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :
Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan emreka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.
Imam Abu Syamah berkata :
Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk
(I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.
Ya Allah jadikanlah kami senantiasa menyintai Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam
Sumber rujukan :
1. Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
2. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia
3. As Shiekh al Hafiz Abu al Fadl AbduLlah al Siddiq al Ghumari, Makna Sebenar Bid’ah Satu Penjelasan Rapi, Cetakan 2007, Middle East Global (M) Sdn. Bhd, Selangor.
4. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur
http://pondokhabib.wordpress.com/
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Perkara Khilafiyyah, Soal Jawab Untuk Faham
Jika ada mereka yang bertanyakan mengapa menyambut maulidul rasul. Maka jawapannya begini :
1. Dalil-dalil umum dari Al Quran yang dijadikan hujjah oleh Ulamak yang membenarkan :
فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.
(Surah al A’raf 157)
Di dalam ayat ini dengan tegas menyatakan bahawa orang yang memuliakan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beruntung. Merayakan maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya.
ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُۚ
Bahawa Aku adalah berserta kamu (memerhati segala-galanya). Demi sesungguhnya jika kamu dirikan sembahyang, serta kamu tunaikan zakat dan kamu beriman dengan segala Rasul (utusanKu) dan kamu muliakan mereka dan kamu pinjamkan Allah (dengan sedekah dan berbuat baik pada jalanNya) secara pinjaman yang baik (bukan kerana riak dan mencari keuntungan dunia), sudah tentu Aku akan ampunkan dosa-dosa kamu, dan Aku akan masukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.
(Surah al Ma’idah ayat 12)
Erti “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka” (Tafsir Tabari, juz VI halaman 151) Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakan Nabi.
2. Saya ingin menyemaikan perasaan cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam. Di kala ramai orang yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada baginda. Bukankah rasuluLlah bersabda begini :
“Belum sempurna iman seseorang dari kamu. kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya.”
(Riwayat Muslim juz 11, hlm 15)
Ahh.. bukankah kita sendiri meraikan ulang tahun kelahiran sendiri ? Ibu dan ayah. Bahkan ada pula golongan yang meraikan kelahiran ‘mujaddid’ mereka sendiri ? Jika kita sendiri pun menyambut hari ulang tahun perkahwinan, hari lahir diri dan juga orang lain. Mengapa kita tidak menyambut hari kelahiran manusia agung yang pengutusannya ke muka bumi ini memberi rahmat kepada sekalian alam ?
Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam :
“Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, “Demi Allah subahanahu wa ta’ala, engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang wahai Umar.”
(Hadith Riwayat Bukhari, Sohih Bukhari, vol 6 hlmn 2445)
3. Maulidul Rasul itu tidak pernah dibuat oleh RasuluLLah dan ia bid’ah sesat ?
Ada dalil umum bagaimana RasuluLlah sendiri pernah menyebut mengenai hari-hari kebesaran contohnya :
Bahawasanya Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, maka Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam mendapati di situ orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi bertanya kepada orang Yahudi itu: Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura ?
Jawab mereka : ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Fir’aun dan pada hari itu Musa dibebaskan, kami puasa kerana bersyukur kepada Tuhan. Maka RasuluLlah bersabda : Kami lebih patut menghormati Musa dibanding kamu”
(Hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
Banyak sebenarnya perkara yang tidak pernah dibuat oleh RasuluLlah tetapi dilakukan oleh sahabat dan para salafussoleh melalui ijtihad mereka dalam perkara ibadah contoh yang senaraikan oleh bekas Mufti Iraq iaitu Sheikh Abdul Malik Abdul Rahman as Sa’adi :
1. Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam pernah menyamakan (qiyas) hukum menunaikan haji dan berpuasa untuk seorang yang telah mati dengan hutang terhadap hamba ALlah yang ia wajib tunaikan. (Fath al Bari, jld 4, m.s 64)
Walaupun ini tidak dianggap hukum yang telah ditetapkan oleh qiyas tetapi dengan nas, kerana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam diberi kebenaran untuk mengeluarkan hukum, tetapi ini sebenarnya baginda telah membuka satu peluang atau laluan atau pintu kepada umatnya secara umum akan keharusan menggunakan qiyas. Terutama di dalam persoalan ibadah khusus kerana haji dan puasa adalah di antara bentuk ibadah.
2. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).
3. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (Lihat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)
4. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)
5. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)
6. Sebilangan besar pada ulama berpendapat, menyapu tangan sampai ke siku ketika tayammum adalah wajib diqiyaskan dengan membasuh kedua tangan ketika berwudhuk. (Lihat Mughni al Muhtaj:1/99 dan al Mughni: 1/204)
7. Bagi ulama yang berpendapat bahawa solat sunat sebelum Solat Jumaat adalah sunat muakkad mengqiyaskan dengan solat sunat sebelum Zohor. Manakala sebilangan ulama lain di antaranya Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim berpendapat bahaya ia adalah sunat (sunat mutlak bukannya sunat muakkad) mengqiyaskannya dengan solat sunat hari raya yang tidak ada solat sunat (muakkad) sebelum solat tersebut. ((Al Fatawa: 24/194)
8. Sesetengah ulama bermazhab Hanafi mengqiyaskan air yang banyak yang tidak terjejas apabila jatuh najis ke dalamnya dengan air laut dari segi banyaknya. (al Mushili, al Ikhtiyar: 1/14)
9. Para ulama bermazhab Hambali mengharuskan ganti dengan memberi makanan sebagai kaffarat bunuh (yang tidak sengaja), kerana mengqiyaskannya dengan kaffarat zihar dan kaffarat jimak pada siang hari Ramadhan (Al Mughni: 8/97)
10. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)
11. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)
12. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)
13. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)
14. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)
15. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)
Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.
Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :
“Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.
Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:
“Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.
Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).
Menurut Al A’raj:
“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”
. (Fath al Bari: 3/52)
Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.
4. Adakah contoh para salafussoleh yang menyambut maulidul Rasul ?
Prof Dr Ali Jum’ah iaitu Mufti Mesir menjawab begini :
Telah menjadi kebolehan (keharusan) dan tradisi di kalangan salafussoleh sejak abad ke 4 dan ke 5 merayakan peringatan maulid nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan pelbagai ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca al Quran, berzikir, melantunkan puisi-puisi dan puji-pujian tentang rasuluLlah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seperti : Al Hafizh Ibnu Jauzi, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah, al Hafizh Al Hebatusi, Al Hafizh Ibnu Hajar dan Penutup Huffazh (para penghafaz hadith dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al Suyuthi.
5. Ulamak lain yang membenarkan ?
Dalam kitab al Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan huraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang yang beriman.
Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang Maulid Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :
Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan emreka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.
Imam Abu Syamah berkata :
Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk
(I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.
Ya Allah jadikanlah kami senantiasa menyintai Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam
Sumber rujukan :
1. Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
2. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia
3. As Shiekh al Hafiz Abu al Fadl AbduLlah al Siddiq al Ghumari, Makna Sebenar Bid’ah Satu Penjelasan Rapi, Cetakan 2007, Middle East Global (M) Sdn. Bhd, Selangor.
4. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur
http://pondokhabib.wordpress.com/
Langgan:
Catatan (Atom)

