10 Februari 2010

Habib Ali bin Soleh Alatas: Pelantun Diba’ dari Bekasi

Habib Ali bin Soleh Alatas: Pelantun Diba’ dari Bekasi




Ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulullah itu ia hafal di luar kepala.



Dari sebuah toko kaset di Jalan Kartini, salah satu sudut kota Bekasi, terdengar lantunan Maulid yang mendayu berlanggam hadhrami, berirama khas Hadramaut. Syair tersebut, meski sangat populer, tak cukup akrab di telinga muhibin, yang lebih sering mendengar maulid Simthud Durar, yaitu Maulid Diba’. Sang pelantun seorang habib bersuara emas asal Bekasi yang sering kali melantunkannya tanpa sedikit pun membaca. Ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulullah itu ia hafal di luar kepala. Tak tanggung-tanggung, empat buah album kaset maulid, ratib, dan selawat telah diluncurkannya sejak tahun 1993 lalu.



Figur kita, yang kerap tampak di perhelatan spiritual para habib, kali ini adalah Habib Ali bin Soleh Alatas, ulama yang kental berdialek Betawi, pengasuh Majelis Taklim Ar-Ridwan, Bekasi Kidul. Ihwal kepiawaian Habib Ali membaca maulid karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i ini berasal dari sang kakek, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, generasi pertama habaib yang menjejakkan kaki di Bekasi, dan ayahnya, Habib Soleh bin Abdullah Alatas.



Sang ayah, Habib Soleh Alatas, adalah kemenakan sekaligus menantu Habib Muhammad bin Muhsin Alatas. Sebelum menetap di Bekasi, ia pernah merantau ke Jambi, dan sempat menikah dengan seorang gadis yang memberinya lima orang anak. Beberapa tahun kemudian, Habib Soleh kemudian menetap di Bekasi dan mendirikan majelis taklim Ar-Ridwan, yang diasuhnya hingga wafat pada malam Kamis, 10 Muharam, atau 23 Januari tahun 1975.



Di Bekasi, Habib Soleh menikah dengan putri pamannya, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, Syarifah Nur, yang kemudian memberinya tujuh orang putra-putri. Habib Ali sendiri lahir pada tahun 1950, putra sulung pasangan tersebut.



Dari sang mertua pula Habib Soleh pertama kali belajar melantunkan bait-bait maulid Ad-Diba’i, yang kemudian diturunkan kepada semua putra-putrinya. Meski kemudian hanya Habib Ali yang mewarisi kepiawaian sang ayahanda, menghafal dan melantunkan maulid Diba’.



Ketika Habib Soleh wafat pada 10 Muharam atau 23 Januari 1975, Habib Ali pun mulai sering diminta membaca maulid Diba’ di berbagai tempat. Ia juga melanjutkan kebiasaan sang Ayah, membaca maulid tersebut setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Dari seringnya membaca, Habib Ali pun akhirnya hafal di luar kepala.



Berbincang dengan ulama yang satu ini memang terasa segar. Derai tawa renyah sering mengiringi ungkapan-ungkapannya yang penuh hikmah. Di beranda rumahnya di Jalan Kartini/Mayor Oking, Bekasi Kidul, Habib Ali bertutur tentang perjalanan hidupnya.



Habib Ali bin Soleh Alatas mulai belajar agama kepada sang ayah, yang menurutnya sangat keras dalam mendidik. Selain itu, di waktu kecil, ia juga mengaji fikih kepada mualim Mu’thi dan belajar membaca Al-Quran kepada Ustaz Muhammad Ali, guru ngaji setempat. Ketika beranjak dewasa, secara intensif Habib Ali mengikuti pengajian Habib Abdurrahman Asegaf, Bukitduri.



Ayahnya, Habib Soleh, sangat menekankan pendidikan keluarga pada bidang akhlak dan moralitas. Menurut Habib Ali, abanya sering sekali mengatakan, “Orang berilmu belum tentu berakhlak, tetapi orang yang berakhlak sudah tentu berilmu. Biar ilmunya banyak kalau akhlaknya rendah, rendah derajatnya. Dan sebaliknya, biarpun sedikit ilmunya tetapi tinggi akhlaknya, tinggi pula derajatnya.”



Habib Ali kemudian mengutip perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak, yang sering diucapkan sang aba waktu mengajarnya, “Kalau ente berjalan di tempat terbuka waktu hujan sambil membawa payung, kehujanan nggak? Ya tetep kehujanan, kecuali kalau payungnya dibuka dan dipakai.”

Akhlak, tandas Habib Ali, adalah wujud pengamalan ilmu, dan saat ini banyak orang yang ke mana-mana membawa ilmu tetapi tidak pernah memakainya. “Bukankah Rasulullah sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak umatnya?” ungkap Habib Ali. Orang yang belajar tetapi tanpa akhlak dan ihtiram, penghormatan terhadap ilmu, tidak akan mendapat berkah.



Dari perkawinannya dengan Syarifah Lu’lu binti Abdullah Alatas, Habib Ali dikaruniai tujuh orang anak. Beberapa tahun lalu hatinya sempat gundah, saat putra sulungnya, penghafal Diba’ yang diharapkan akan meneruskan jejaknya, meninggal. Ia baru lega, ketika mengetahui bahwa Abdullah, anak keempatnya yang baru pulang dari Hadramaut, ternyata juga sudah menguasai maulid Diba’ dan siap meneruskan jejaknya.

Dalam mendidik putra-putrinya, Habib Ali memang cukup demokrat. Ia tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi ini-itu. “Biar anak yang memilih jalannya sendiri, orangtua tinggal mendukung. Yang penting mereka tetap berada di jalan Allah,” tuturnya. Seyogianya orangtua, tambah Habib Ali, tidak mendidik anak agar takut kepada mereka, melainkan agar secara sadar dan ikhlas menghormati.



Mulai Rekaman

Tahun 1990, Habib Ali bin Soleh Alatas diminta oleh Radio Asyafi’iyyah, Jatiwaringin, untuk membacakan maulid Diba’ dan disyiarkan secara luas. Langgam, irama maulidnya, yang khas, segera menarik perhatian para pendengar. Sejak itu pula undangan membaca maulid Diba’ semakin membanjir. Bahkan pada tahun 1993, ia diminta rekaman oleh perusahaan Virgo Record.



Setelah album perdananya, berturut-turut permintaan rekaman berdatangan dari Naviri Record dan beberapa studio rekaman lain, untuk melantunkan ratib, Simthud Durar, dan terakhir kumpulan selawat yang diiringi organ tunggal. Sebagian album kaset tersebut hingga kini masih terpajang rapi di etalase toko minyak wangi dan peralatan muslim miliknya yang tak terlalu jauh dari rumah.



Dengan kepiawaiannya, banyak orang yang meminta Habib Ali mengajari pembacaan maulid Diba’ secara khusus. Namun, keterbatasan waktunya, yang padat dengan kegiatan mengajar dan berdakwah, membuat Habib Ali belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Di luar aktivitas mengasuh majelis taklim peninggalan sang ayah, ia juga mengajar di beberapa majelis taklim di Pengasinan, Kemayoran, Cikuning, Pondok Kelapa, dan Jatimakmur, Bekasi. Ia, tuturnya merendah, ingin mengamalkan sedikit ilmunya, seraya berharap keberkahan.



Kanker Payudara

Kini, anggota jemaah pengajian Habib Ali mencapai seribuan orang, termasuk pengajian setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Ia mengaku materi pengajiannya sangat ringan dan mudah dicerna, karena kebanyakan tentang akhlak dan perilaku sehari-hari.



Materi yang paling sering diangkatnya adalah persoalan keluarga. Ini karena ia mulai sangat khawatir dengan kondisi anak-anak zaman sekarang. Misalnya motivasi sekolah yang lebih kepada nilai ijazah daripada pengamalan dan keberkahan ilmu.



Faktor terbesar yang menunjang proses demoralisasi ini, ungkap Habib Ali berapi-api, adalah keteledoran orangtua yang seharusnya menjadi murabbi, pendidik, bagi anak-anaknya. Kesalahan itu biasanya dimulai dari penyerahan pengasuhan anak kepada baby sitter atau orang lain, yang tentu tidak akan sebaik ibu kandungnya. Lalu ditambah dengan dirampasnya rezeki anak yang paling mendasar, yang telah diamanatkan Allah melalui orangtua, pemberian ASI.



Belakangan, karena alasan berkarier atau kesibukan, banyak orangtua yang tidak mau terlalu lama terbebani tugas menyusui. Ibu-ibu pun kemudian mempercepat penghentian pemberian ASI dan menggantinya dengan susu sapi. Padahal, menurut konsep Al-Quran, anak mempunyai hak disusui oleh ibunya selama dua tahun.



“Bukankah ini sebuah kezaliman orangtua terhadap anak?” tambah Habib Ali keras. “Maka jangan salahkan anak, jika setelah besar berbuat zalim kepada orangtuanya.” Akhirnya, ketika tidak menyukuri rezeki alami yang diberikan Allah, kaum perempuan pun mulai menuai peringatan dan azab, dengan datangnya berbagai macam penyakit, seperti kanker payudara.



Dakwah Bil Hal

Materi-materi sederhana memang selalu ditekankan Habib yang selalu berusaha memberikan contoh dalam kebaikan ini, setiap kali mengajar. “Justru karena sederhana, sering disepelekan,” ungkapnya. Habib yang masih tampak energik ini juga menambahkan, “Padahal konsep baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, atau dalam bahasa kita disebut negara adil makmur sejahtera, itu dimulai dari keluarga yang saleh dan bahagia.”



Konsep ajaran Islam itu indah, dan penuh penghormatan. Anak harus menghormati orangtua, orangtua menyayangi yang lebih muda; antar-tetangga, meskipun bukan muslim tetap harus saling menghormati.

Kini di usianya yang telah melewati separuh abad, Habib Ali merasa bersyukur tinggal di tengah masyarakat yang rata-rata muhibin. Untuk itulah ia berusaha melayani mereka semampunya.

Para tetangga mengakui, Habib Ali sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitar. Ia sering kali menjadi pelopor dalam setiap kegiatan. Setiap kali ada tetangga yang meronda atau berjaga di sekitar rumahnya, dengan sigap Habib Ali selalu menyediakan konsumsi, bahkan terkadang ikut menemani.



Habib Ali menyadari, sebagian besar masyarakat sekitarnya adalah golongan ekonomi lemah. Karena itu pula, ia ingin selalu berbagi rezeki dengan mereka. Ia berprinsip, khairur rizqi ma yakfi, sebaik-baiknya rezeki adalah yang bisa mencukupi. Dan merasa cukup itu adalah kekayaan dan keberkahan terbesar manusia. AIS

Maulid ad-Diba`ie

Maulid ad-Diba`ie




Satu karya mawlid yang masyhur dalam dunia Islam ialah mawlid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits iaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Beliau dilahirkan pada 4 haribulan Muharram tahun 866H dan wafat hari Jumaat 12 Rajab tahun 944H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada tolok bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab “Shohih” Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafiz dalam ilmu hadits iaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau akan mengajar hadits dari masjid ke masjid. Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan ramai lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang. Di antara kitab karangannya ialah:-

“Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang mengandungi himpunan hadits yang dinukil daripada kitab hadits yang 6.

“Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membezakan hadits sahih dari selainnya seperti dhaif dan maudhu.

“Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun”.

“Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”.

“Fadhail Ahl al-Yaman”.

Renungilah bahawa kitab mawlid ini bukan karya Tok Dalang wayang kulit atau susunan Pelipurlara zaman dahulu kala atau Tukang Karut dikir barat. Ianya karya seorang ulama terbilang dan menjadi sandaran ilmu dan imannya. Kitab mawlid ini dikarang dengan senikata yang indah dan menawan setiap telinga yang mendengarnya. Kitab yang hampir berusia 500 tahun ini diakui keindahan dan keberkatannya. Keberkatannya tersohor dan menjadi bacaan serta wiridan banyak umat. Majlis pembacaannya diadakan sepanjang tahun, setiap masa di berbagai pelosok dunia Islam. Kiyai Agung berpesan agar setiap muridnya mengadakan majlis pembacaan mawlid ini pada setiap malam Isnin, dan amalan ini diteruskan oleh murid-muridnya sehingga ke masa ini. Dengan hadir di majlis mawlid, diharap tumbuh subur kecintaan kepada Junjungan Nabi s.a.w. Diharap Junjungan s.a.w. yang dipertontonkan oleh Allah s.w.t. segala amalan umatnya sudi memberikan syafaatnya kepada pembaca dan pendengar serta hadirin kerana tidaklah mereka berkumpul melainkan kerana ingatkan baginda dan dalam rangka membesarkan baginda.



Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aalih.

Majlis Maulid

Majlis Maulid




Gemah – Semarang. Ahad 19 Oktober 2008 habis maghrib habib Alwi bin Abdullah Alhasni memulai majlis mingguan pembacaan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror di mushola Attaqwa.



Dengan diiringi angin kencang yang akhir-akhir ini melanda Semarang dan sekitarnya ditambah hujan deras, kami 9 orang yang hadir malam ini mencoba tidak terpengaruh dengan hujan angin di luar. Yang hadir terlihat menikmati alunan syair-syair rotib dan maulid yang dibacakan oleh habib Alwi. Meski tidak banyakyang hadir tapi kami berniat untuk istiqomah.



Di akhir majlis, habib Alwi menyampaikan tentang pentingnya berguru pada orang yang tepat agar kita selamat dunia akhirat. Guru adalah orang mengajarkan ilmu pada kita meski hanya satu huruf. Untuk ilmu agama harus diajarkan oleh orang yang bersambung ilmunya pada Rosulullah Saw.



Dalam pengertian yang lebih luas, menurut habib Alwi, semua yang ada di alam ini bisa menjadi guru kita. Maksudnya adalah dari semua kejadian, orang bahkan dari binatang di sekitar kita pun bisa diambil hikmah untuk memperbaiki diri kita dan untuk menambah kebaikan kita.



Berguru itu butuh adap agar ilmu kita barokah. Barokah itu kalau kita mensyukuri atas semua yang kita miliki dan atas semua apa yang terjadi pada kita. Kita belum punya rumah ya alhamdulillah masih bisa kontrak kamar atau rumah, kita masih jauh lebih enak dibandingkan mereka yang tidak punya penghasilan untuk menyewa kamar seperti kita.



Kita dimaki-maki orang ya alhamdulillah kita masih bisa mendengar yang berarti kita masih punya telinga. Seandainya kita tidak punya telinga maka nikmat mendengar kita pun hilang. Bisa melihat nikmat, bisa bicara nikmat, bisa berjalan juga nikmat, punya apapun nikmat. Kalau begitu semuanya nikmat dan nikmat.



Syukur atas nikmat-nikmat dari Allah Swt adalah wajib bagi yang mengetahui.



Dan, habib Alwi melanjutkan, adap terhadap guru sekarang ini kurang diperhatikan mereka yang menuntut ilmu. Murid sekarang banyak protes sekiranya perintah gurunya tidak sesuai dengan keinginannya.



Guru yang benar-benar guru tentu paham apa yang terbaik bagi muridnya, jadi meskipun menurut murid perintah guru tidak baik tapi sebenarnya itu yang terbaik buat muridnya. Guru paham kalau murid melakukan hal yang dilarangnya maka dia akan dapat kesusahan dan bahkan keburukan saja, tidak akan menyampaikannya pada tujuan.



Guru memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Adalah tambahan nikmat kalau yang kita butuhkan menurut guru tersebut juga merupakan hal yang kita inginkan.

Mawlid adh-Dhiyaa-ul Laami`

Mawlid adh-Dhiyaa-ul Laami`


Mawlid adh-Dhiyaa-ul Laami`



Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim BinHafidz Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, ulama kontemporari yang sudah tidak asing lagi di rantau kita. Karya mawlid beliau mula mendapat tempat dalam masyarakat berkat kegigihan anak – anak murid beliau menyebarkannya di sini. Tambahan pula, karya beliau yang diberi nama “adh-Dhiyaa-ul Laami’” disusun dengan gaya nazam yang indah. Walaupun ringkas tetapi kandungan sarat dan padat dengan sirah serta pujian kepada Junjungan Nabi SAW. Karya ini menambahkan lagi kemeriahan kutubkhanah karya-karya mawlid yang disusun oleh para pencinta Junjungan Nabi SAW. Mawlid ini amat mudah dan ringkas untuk diamalkan, tak sampai pun 1 jam jika dibaca. Mudah-mudahan ianya dapat dijadikan amalan bagi menyuburkan lagi kecintaan serta kerinduan kita kepada Junjungan Nabi SAW dan moga ianya juga menghilangkan karat di hati-hati kita. Ingatlah akan pesanan yang mulia Habib ‘Umar dalam mawlidnya tersebut:-







Demi Allah, berulang-ulanglah menyebut sifat Nabi Muhammad;

Agar hilang daripada segala hati akan kekaratannya

Penulisan Kitab Maulid Nabi saw

Penulisan Kitab Maulid Nabi saw




Dalam kitab Kasyf al-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad saw dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi saw serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari peringatan-peringatan maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi saw kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 hijriyah.



Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi saw oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi saw sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan maulid Nabi saw, sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabiul Awal.



Imam Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari maulid Nabi saw dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.



Imam Taqiyuddin al-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi saw, bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi saw, akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.



Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad saw. Ia memandang hari maulid Nabi saw sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam al-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap hari maulid para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.



Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan maulid Nabi saw ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, di samping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi saw dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.



Imam al-Mujtahid Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Kemuliaan hari maulid Nabi saw dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah saw.’



Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan maulid Nabi saw yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari maulid Nabi saw menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->. Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi saw dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau saw.



Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab maulid Nabi saw, di antaranya Sayid Muhammad Shalih al-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan maulid Nabi saw sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.



Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid al-Diba’i, maulid al-Azab dan maulid Burdah. Di samping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya. Di antara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan maulid Nabi saw :



1. Al-Imam al-Muhaddis al-Hafiz Abdul Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.



2. Al-Imam al-Muhaddis al-Musnid al-Hafiz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir al-Nadzir.



3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafiz al-Muhaddis al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri al-Syafi’e (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu al-Ta’rif bi al-Maulid al-Syarif.



4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddis al-Hafiz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774H). Ibn Katsir menyusun kitab maulid Nabi saw yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih al-Sayyid Muhammad bin Salim Bin Hafidz, mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddis al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.



5. Al-Imam al-Kabir al-Syahir, Hafiz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhaddisin al-A’lam, al-Hafiz Abdul Rahim ibn Husain bin Abdul Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafiz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.



6. Al-Imam al-Muhaddis al-Hafiz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi al–Dimasyqi al-Syafie, yang terkenal dengan al-Hafiz Ibn Nasiruddin al-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya:



- Jami’ al-Atsar Fi Maulid al-Nabi al-Mukhtar (3 Jilid)

- Al-Lafdzu al-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq.

- Maurid al-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.



7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafiz al-Syahir Muhammad bin Abdul Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafiz al-Sakhawi (831-902H) yang mengarang kitab al-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid al-Nabawi.



8. Al-Allamah al-Faqih al-Sayyid Ali Zainal Abidin al-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan Al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.



9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie, yang terkenal dengan Ibn Dibai’e. beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H, dan meninggal dunia pada hari Jumaat, 12 Rejab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia (maulid Dibai’e). Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan hadisnya oleh al-Muhaddis as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.



10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam al-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama al-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Saiyidi Waladi Adam.

Al-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar“



11. Al-’Allamah al-Faqih al-Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.



12. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid al-Faqih al-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid al-Rawi Fi al-Maulidi al-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh al-Muhaddis al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.



13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid al-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Mazhab al-Syafi’e di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebahagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid al-Nabiy al-Azhar.



14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan al-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah al-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri (wafat tahun 1277H)



15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddis al-Musnid al-Sayyid al-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.



16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Syeikh Yusuf al-Nabhani (wafat tahun 1350H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.

Syaikh Abdul Hamid Kudus

Syaikh Abdul Hamid Kudus




Ulama besar yang menjadi imam mazhab Syafi`i di Maqam Ibrahim ini asal-usulnya dari Kudus, Jawa Tengah, kelahiran Mekah. Syeikh Abdul Hamid Kudus lahir di Mekah, dalam “Mukhtashar Nasyrun Naur waz Zahar” dinyatakan lahir 1277 H/1860 M, dan dalam “Siyar wa Tarajim” dinyatakan lahir 1280 H/1863 M. Beliau juga wafat di Mekah tahun 1334 H/1915 M. Nama lengkap ialah Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus / Kudus bin Abdul Qadir al-Khathib bin Abdullah bin Mujir Qudus / Kudus.

Syeikh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan asas pertama sekali dari lingkungan keluarganya yang ramai menjadi ulama. Sejak kecil menghafaz al-Quran dan terlatih dengan banyak matan pelbagai bidang ilmu. Matan-matan yang dihafalnya sejak kecil ialah Matn al-Ajrumiyah, Matn al-Alfiyah, Matn ar-Rahbiyah, semuanya dalam bidang ilmu nahu. Matn as-Sanusiyah tentang ilmu akidah. Matn as-Sullam dan Matn az-Zubad, kedua-duanya meliputi akidah, fikah dan tasawuf. Para ulama besar yang terkenal dan menjadi guru beliau ialah Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayid “Utsman Syatha dan saudaranya Sayid Abu Bakri Syatha. Dalam bidang khusus mengenai ushul fiqh, hadis, tafsir dan tasawuf Syeikh Abdul Hamid Kudus memperdalamkannya kepada Sayid Husein al-Habsyi. Syeikh Abdul Hamid Kudus pula adalah orang kepercayaan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, mufti Makkah, dalam bidang keilmuan setelah Syeikh Ahmad al-Fathani. Hubungan antara Syeikh Abdul Hamid Kudus dengan Syeikh Ahmad al-Fathani sangat rapat. Syeikh Abdul Hamid Kudus selain dilantik sebagai salah seorang pentashih kitab beliau seringkali diutus oleh Syeikh Ahmad al-Fathani ke Mesir dalam urusan cetak mencetak kitab, terutama hubungan dengan Syeikh Mushthafa al-Halaby, pemilik syarikat cetak kitab yang terbesar di Mesir pada zaman itu.

Daripada ulama-ulama tersebut, Syeikh Abdul Hamid Kudus memperoleh ijazah khusus dan umum, dan mereka pula memberikan keizinan kepada beliau mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya. Manakala Syeikh Ahmad al-Fathani merintis jalan mulai belajar di Masjid Jamik Al-Azhar (tahun 1290 H/1872 M) Syeikh Abdul Hamid Kudus mengikuti langkah Rais thala’ah (Ketua tela’ah atau tutor)nya itu belajar di tempat yang sama (1300 H/1882 M). Syeikh Abdul Hamid Kudus merupakan generasi kedua mahasiswa dunia Melayu yang belajar di al-Azhar sesudah Syeikh Ahmad al-Fathani, sejak itu beliau sentiasa pulang pergi antara Mekah dan Mesir dalam urusan tertentu yang ada kaitannya dengan kerja-kerja Syeikh Ahmad al-Fathani. Sebenarnya Syeikh Abdul Hamid Kudus telah mengarang pelbagai judul dalam banyak disiplin ilmu, semuanya dalam bahasa Arab. Walau bagaimana pun pada judul artikel ini saya sebut bahawa beliau adalah “pakar ilmu arudh dan qawafi”. Kedua-duanya termasuk dalam bidang ilmu kesusasteraan Arab. Dengan ilmu ini dapat diketahui bagaimana timbangan-timbangan syair dan nazam dalam bahasa Arab. Setakat ini informasi yang ada hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang menulis dalam kedua-dua ilmu tersebut. Seorang lagi ialah Syeikh Ahmad al-Fathani `Rais Thala’ah’ bagi Syeikh Abdul Hamid Kudus.

Antara karangan Syeikh Abdul Hamid Kudus adalah sebagai berikut:

“Irsyadul Muhtadi ila Syarh Kifayatil Mubtadi”, diselesaikan sesudah Zuhur, hari Khamis, 3 Muharam 1306 H. Kandungannya membicarakan akidah dan ia merupakan syarah daripada karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus. Dicetak oleh Mathba’ah al-Maimuniyah, Mesir, Ramadan 1309 H. Di bahagian tepinya dicetak matan karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus tersebut. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi.

“Al-Anwarus Saniyah `alad Duraril Bahiyah”, diselesaikan pertengahan Rabiulakhir 1311 H. Kandungannya membicarakan akidah, fikah dan tasawuf. Merupakan syarah daripada karya gurunya Sayid Abi Bakar Syatha. Cetakan pertama, Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah Mekah, 1313 H.

“Fat-hul Jalilil Kafi bi Mutammimati Matnil Kafi fi `Ilmayil `Arudh wal Qawafi”, diselesaikan pada hari Isnin, 19 Rabiulawal 1313 H. Kandungannya membicarakan ilmu arudh dan qawafi atau kesusasteraan Arab. Dicetak oleh Mathba’ah al-Husainiyah al-Mashriyah, milik Muhammad Abdul Lathif Khathib, 1325 H. Kata pujian oleh Sayid Ahmad Bik al-Huseini, Muhammad Musa al-Bujiraimi as-Syafi’ie di al-Azhar, Muhammad al-Halaby as-Syafi’ie di al-Azhar dan Ahmad ad-Dalbasyani al-Hanafi di al-Azhar. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi.

“Al-Futuhatul Qudsiyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah”, diselesaikan pada Zuhur, akhir Muharam 1322 H. Kandungan pada muqaddimahnya pengarang menyebut bahawa beliau adalah penganut Mazhab Syafie dalam fikah, Mazhab Abu Hasan al-Asy’ari dalam akidah, dan penganut Thariqat Khalwatiyah. Sebab-sebab beliau menulis kitab ini adalah atas permintaan Qadhi Muslimin Negeri Surakarta ibu kota Jawa, beliau ialah Al-’Allamah al-Hamam asy Syeikh Raden Tabshirul Anam, supaya menulis syarah matan Al-Qashidatur Rajziyah yang bernama Jaliyatul Kurbi wa Manilatu `Arabi. Pada awal perbicaraan pengarang menyebut tentang sanad-sanad thariqat, di antaranya beliau juga mempunyai hubungan dengan Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani. Dicetak oleh Mathba’ah al-Hamidiyah al-Mashriyah, 1323 H. Taqriz dinyatakan ramai ulama tetapi yang dapat disebut pada akhir karangan hanya dua orang ulama saja ialah Syeikh Jami’ Al-Azhar, bernama Syeikh Abdur Rahman asy-Syarbaini asy-Syafi’ie dan Syeikh Muhammad Thumum al-Maliki Al-Azhari.

“Lathaiful Isyarat ila Syarhi Tashilit Thuruqat li Nazhamil Waraqat fil Ushulil Fiqhiyah”, diselesaikan pada hari Isnin, 12 Rabiulawal 1326 H. Kandungannya membicarakan ilmu ushul fiqh. Terdapat berbagai-bagai edisi cetakan, di antaranya Mathba’ah Dar at-Thiba’ah al-Mashriyah, 54-60 Baserah Street Singapura (tanpa tahun).

“Kanzun Najahi was Surur fil Ad’iyatil lati ila Tasyarruhis Shudur”, diselesaikan pada hari Jumaat, bulan Safar 1328 H. Kandungannya membicarakan berbagai-bagai amalan wirid, doa, zikir dan lain-lain. Cetakan pertama oleh Mathba’ah At-Taraqqil Majidiyah al-’Utsmaniyah, Mekah, 1330 H. Kata pujian oleh Syeikh Muhammad Sa’id bin Muhammad Ba Bashail, Mekah, Sayid Husein bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, Sayid Umar bin Muhammad Syatha, Sayid Muhammad ibnu Sayid Muhammad ibnu al-Faqih Sayid Idris al-Qadiri al-Maghribi al-Hasani, Syeikh Muhammad bin Syamsuddin, Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, dan Syeikh Umar Hamdan.

“Risalah fi al-Basmalah min Nahiyah al-Balaghah”.

“Manzhumah fi al-Adab wa al-Akhlaq li al-Islamiyah”.

“Thali’us Sa’di ar-Rafi’ fi Syarh Ilm al-Badi’”.

“Fiqh Rubu’ `Ibadat”.

“Nubzah fi at-Tashawwuf”.

“Ad-Durrah ats-Tsaminah fi al-Mawadhi’ allati tusannu fiha ash-Shalah `ala Shahib as-Sakinah.”

“Tasythir al-Mudharriyah fi ash-Shalah `ala Khairil Bariyah”.

“Majmu’ Bulugh al-Maram fi Maulid an-Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam”

“Raja’ Nail al-As’ad wa al-Qabul fi Madah Saiyidatina az-Zahra’ al-Batul”.

“Bulughus Sa’di wa al-Amniyah fi Madah Umm al-Mu’minin al-Mabra-ah ash-Shiddiqiyah”.

“al-Jawahir al-Wadhiyah fi al-Adab wa al-Akhlaq al-Mardhiyah”.

“az-Zakhair al-Qudsiyah fi Ziyarah Khairil Bariyah”.

“At-Tuhfah al-Mardhiyah fi Tafsir al-Quran al-’Azhim bi al-’Ajamiyah”

“Dhiyausy Syamsi ah-Dhahiyah”.

“Maulidun Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam”.

“Kanzul `Atha fi Tarjamah al-’Allamah as-Saiyid Bakri Syatha”.



Jangan mudah memandang ulama dahulu sebelah mata. Niat mereka ikhlas, biar tak dikenal di dunia, taqwa kepada Allah yang diutamakan. Mudah-mudahan patah tumbuh hilang berganti. Al-Fatihah.

Merayakan Mawlid – Mufti Mesir

Merayakan Mawlid – Mufti Mesir






Sesungguhnya menyambut dan merayakan Mawlid Junjungan Nabi s.a.w. dengan niat untuk ingat kepada baginda dan membesarkan baginda adalah satu amalan yang besar dan dipandang utama oleh para ulama kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Para ulama kita menyatakan bahawa amalan ini adalah satu qurbah kepada Allah s.w.t dan kekasihNya s.a.w. Memandangkan kebanyakan umat Islam di dunia ini adalah pengikut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, maka kelahiran Junjungan Nabi s.a.w. terus dimuliakan dan diingati, alhamdulillah. Dakyah puak-puak Wahhabi dengan jagoan mereka antaranya Bin Baz terus tenggelam ditelan kebenaran. Fatwa-fatwa yang menyesatkan perayaan dan sambutan Mawlidur Rasul hanya tinggal fatwa-fatwa yang tak bernilai, fatwa yang hanya menghabiskan kertas dan dakwat sahaja. Fatwa yang dikeluarkan oleh mufti yang dah tak ada benda lain lagi yang nak difatwakannya. Biaq pilah kat depa.

Syaikh ‘Ali Jum`ah, mufti Mesir, adalah antara ulama kontemporer yang memandang baiknya amalan memperingati Mawlid Junjungan Nabi s.a.w. Dalam karya beliau “al-Bayan” pada halaman 164 beliau menyatakan, antara lain:-





Mengadakan sambutan-sambutan peringatan Mawlid Junjungan Nabi s.a.w. adalah daripada seutama-utama amalan dan sebesar-besar qurbah, kerana bahawasanya ia adalah luahan atau ungkapan atau ekspresi atas kegembiraan dan kecintaan kepada baginda s.a.w. Cinta mahabbah kepada Junjungan Nabi s.a.w. adalah satu dasar daripada dasar-dasar keimanan. Dan telah shohih sabdaan Junjungan Nabi s.a.w. yang menyatakan :- “Demi Tuhan yang diriku dalam kekuasaanNya, tidaklah beriman seseorang daripada kamu (yakni tidak sempurna iman) sehinggalah jadi aku paling dikasihinya berbanding ayah dan anaknya”. Dan bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. bersabda:- “Tidak beriman seseorang daripada kamu (yakni tidak sempurna iman) sehinggalah jadi aku yang paling dikasihinya berbanding anaknya, ayahnya dan manusia sekaliannya.”



Allahu … Allah, wahai ikhwah, hendaklah kita membesarkan majlis-majlis memperingati Mawlid Junjungan Nabi s.a.w. dengan menjaga segala adab dan etika demi memuliakan makhluk Allah yang paling agung, Baginda Nabi Muhammad s.a.w. Perhatikanlah wahai ikhwah akan kata-kata Syaikh `Ali yang menyatakan bahawa majlis-majlis peringatan mawlid Junjungan Nabi s.a.w. adalah min afdhalil a’maal wa a’dhzamil qurubaat. Maka biaq pilah kat mereka-mereka yang mencemoh peringatan Mawlid Junjungan s.a.w. Apa yang terlebih pelik adalah ada manusia yang sanggup berbelanja untuk meraikan hari kelahiran dirinya atau isterinya atau anaknya, tetapi dalam masa yang sama memandang serong terhadap orang yang merayakan hari kelahiran Junjungan Nabi s.a.w. Apa punya orang ni aaa!!!!! Nabi punya dia kata bid`ahsesat, sendiri punya nape sibuk nak rayakan?? Siap buat kat hotel plak, ada ati nak bid`ahkan orang. Allahu … Allah, dunia dah nak kiamat kot.



Sumber : Bahrus Shoffa

Program Penghayatan Bulan Kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di Masjid Darul Ehsan, Taman TAR, Ampang

Program Penghayatan Bulan Kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di Masjid Darul Ehsan, Taman TAR, Ampang




Sila klik pada pster untuk paparan lebih jelas

JADUAL MAJLIS ILMU & MAULIDUR RASUL 1431H

JADUAL MAJLIS ILMU & MAULIDUR RASUL 1431H

08 Februari 2010

JADUAL MAULIDURRASUL BERSAMA HABIB ADNAN AL-HADDAD

JADUAL MAULIDURRASUL BERSAMA HABIB ADNAN AL-HADDAD




1) DI MASJID AL-FALAH USJ 9

Khamis , 25 Feb (11 R' Awal)

6.30 petang



2) DI MASJID AL-BUKHARY ,

JLN HANG TUAH, KL

(Berhampiran Stesyen Monorel

Jln Hang Tuan, KL)

Jumaat , 26 Feb (12 R' Awal)

Lps Maghrib

info : 012-343 8074 (Imam Mohd)



3) KOMPLEKS AL-JENDERAMI,

KG JENDERAM HILIR, DENGKIL.

Sabtu, 27 Feb (13 R' Awal)

Maghrib



4) RUMAH BEN ALAWI ,

KEMENSAH HEIGHTS , HULU KLANG

Ahad, 28 Feb (14 R' Awal)

Maghrib

info: 019-669 3887 (Ben Alawi)



5) KG KUALA TEKAL ,

TEMERLOH, PAHANG .

Isnin , 1 Mac (15 R' Awal)
http://pondokhabib.wordpress.com/

Majlis Sambutan Maulidur Rasul 1431

Majlis Sambutan Maulidur Rasul 1431




Majlis Sambutan Maulidur Rasul 1431-H akan diadakan di Pusat Pengajian Baalawi Kuala Lumpur. Butiran lanjut majlis adalah seperti berikut :



Tarikh : 14 Rabiulawal 1431H (Ahad) / 28 Februari 2010



Masa : Selepas solat Asar





Explore posts in the same categories: Majlis Ilmu

This entry was posted on 8 Februari 2010 at 12:21 pm

03 Februari 2010

MAULIDUR RASUL SAW 1431 -MASJID AL FALAH

Selasa, Februari 02, 2010






MAULIDUR RASUL SAW 1431

DI MASJID AL-FALAH USJ 9

pada :





KHAMIS , 25 FEB 2010

(11 RABIUL AWAL 1431)

BERMULA JAM 6.00 PETANG





BERSAMA

HABIB ADNAN BIN ALI BIN HABIB AHMAD MASYHUR BIN TOHA AL-HADDAD*





JUGA BERSAMA

SYEIKH FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI

DAN KUMPULAN HADRAH NYA DARI BANJARMASIN





* Habib Ahmad Masyhur Toha al-Haddad (gambar di atas) adalah pendakwah terkenal yang mengislam kan ratusan ribu rakyat benua Afrika ; khususnya negara Tanzania ... Habib Adnan adalah cucu nya akan hadir bersama abahnya Habib Ali , di masjid al-Falah. Biodata lengkap Habib Adnan akan kami susuli nanti ,... insya Allah





KAMI BERBESAR HATI MENJEMPUT ANDA SEKELUARGA KE MAJLIS INI ...
http://pondokhabib.wordpress.com/

25 Januari 2010

Majlis Ta'lim Darul Murtadza pimpinan al-Habib 'Ali Zainal 'Abidin al-Hamid akan mengadakan Majlis Maulid Bulanan:

Majlis Ta'lim Darul Murtadza pimpinan al-Habib 'Ali Zainal 'Abidin al-Hamid akan mengadakan Majlis Maulid Bulanan:




Tarikh: 13 Shafar 1431/29 Januari 2010 (Jum'at)

Masa: 8.30 - 11.00 malam

Lokasi: Masjid Baitul Aman, Jalan Damai, Off Jalan Ampang, KL



Aturcara:

- Sholat Isyak

- Bacaan Maulid adh-Dhiya al-Laami'

- Bacaan Qasidah

- Syarahan oleh al-Habib 'Ali Zainal 'Abidin al-Hamid

- Doa

- Jamuan



Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir
http://pondokhabib.wordpress.com/

22 Januari 2010

Pengajian Kitab Dipimpin Ustaz Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari an-Nadwi al-Maliki

Pengajian Kitab Dipimpin Ustaz Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari an-Nadwi al-Maliki




Tarikh: 7 Shafar 1431/ 23 Januari 2010 (Sabtu)

Lokasi: 15, Jalan Vista 2/1, Desa Vista, Salak Tinggi

Masa: 8.30 pagi - 12.00 t'hari

Kitab: Ya Bunayya dan Peristiwa Akhir Zaman

(Makumat lanjut hubungi: 0196689885 - Pak Su)



Tarikh: 8 Shafar 1431/ 24 Januari 2010 (Ahad)

Lokasi: Masjid al-Falah, USJ 9, Subang Jaya

Masa: Bermula jam 9.00 pagi

Kitab: Siyarus Salikin



Tarikh: 8 Shafar 1431/ 24 Januari 2010 (Ahad)

Lokasi: Pusat Pengajian Ba'alawi, No.9, Jalan UP 2A, Prima Ukay, Saujana Melawati, 53100 Kuala Lumpur (belakang Zoo Negara)

Masa: Bermula selepas sholat Maghrib

Kitab: Majlis Pengkhataman Kitab Bekal Akhirat

http://pondokhabib.wordpress.com

12 Januari 2010

Mengapa Orang Bukan Islam Tidak Berhak Menggunakan Kalimah ALlah: Tanggapan Terhadap Golongan Yang Membenarkan

Mengapa Orang Bukan Islam Tidak Berhak Menggunakan Kalimah ALlah: Tanggapan Terhadap Golongan Yang Membenarkan


Dimasukkan oleh IbnuNafis

Label: Artikel Pilihan Jom Faham, Soal Jawab Aqidah



oleh Dr Khalif Muammar



Kedudukan Masalah





Setelah isu ini dibahas hampir dua tahun masih ramai lagi yang keliru tentang penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam. Antara sebabnya ialah wujudnya pandangan yang diberikan oleh beberapa cendekiawan yang digelar ulama’ yang mengatakan bahawa terdapat dalil dalam al-Qur’an yang membenarkan hal tersebut. Dan tiadanya dalil yang menyokong larangan penggunaan oleh bukan Islam. Penulis telah berkesempatan untuk mengikuti isu ini dan memberi tanggapan sejak dari awal lagi dan menghasilkan 3 artikel sebelum ini yang boleh dicapai dalam khairaummah.com. Dalam makalah terakhir ini penulis cuba menjawab keraguan-keraguan yang ditimbulkan dan memberikan hujah-hujah yang muktamad agar kecelaruan tidak berterusan dan kepentingan umat Islam dapat dipertahankan. Dengan penjelasan yang terbaik yang penulis dapat paparkan ini mudah-mudahan terbuka hati dan bertambah yakin orang-orang yang inginkan kebenaran berdasarkan hujjah dan biarkanlah tertutup hati orang-orang yang tidak mahu menerima kebenaran walaupun datang dengan hujjah.





Sebelum pergi jauh perlu difahami terlebih dahulu maksud persoalan di atas. Ia bukan persoalan tentang siapakah Tuhan orang bukan Islam, kerana jelas bagi kita Tuhan bagi semua umat manusia hanya satu iaitu Allah. Ia juga bukan berkaitan dengan orang Arab bukan Islam di negara-negara Arab kerana persoalan ini muncul dalam konteks Malaysia, dan hanya relevan dengan negara-negara bukan Arab. Maka maksud persoalan di atas adalah merujuk kepada orang bukan Islam di Malaysia bukan di negara-negara Arab. Perbezaan konteks ini sangat penting kerana ia juga bermakna perbezaan bahasa yang digunakan oleh bangsa yang berlainan. Orang bukan Islam di Malaysia tentunya bukan orang Arab. Dari sini sahaja dapat disimpulkan bahawa penggunaan nama Allah bagi orang bukan Islam di Malaysia tidak relevan kerana mereka tidak pernah menggunakannya bahkan tidak mengerti pun maksudnya. Orang bukan Islam di Malaysia tidak mengenal bahasa Arab, maka perkataan Allah adalah perkataan yang asing dalam kehidupan mereka.





Perlu juga ditegaskan dengan kalimat ‘menggunakan’ di atas yang dimaksudkan adalah menamakan atau menggunakan nama Tuhan orang Islam bagi merujuk Tuhan mereka. Di sini dapat disimpulkan bahawa faham pluralisme agama terkandung dalam usaha ini. Daripada perkataan ’menggunakan’ di atas maka tidak timbul isu sekadar penyebutan nama Allah oleh bukan Islam dengan maksud merujuk kepada Allah sebenar. Tidak sepatutnya timbul pernyataan apa salahnya orang bukan Islam menyebut nama Allah kalau yang dimaksudkan itu benar. Mereka boleh sahaja menyebut, membaca, nama Allah yang menjadi persoalan di sini adalah penggunaan istilah yang sama / pemberian nama yang sama bagi Tuhan yang berlainan.





Jika persoalan telah jelas difahami dengan betul maka jawaban terhadap persoalan juga diharapkan akan lebih terfokus. Untuk memudahkan lagi orang awam boleh juga dipertanyakan dalam bentuk yang sedikit berbeza iaitu bolehkah orang bukan Islam menamakan Tuhan mereka Allah?





Terdapat kecenderungan di kalangan umat Islam, tidak terkecuali ulama’nya, untuk menyederhanakan persoalan rumit dan besar ini. Bagi sesetengah orang ini hanyalah persoalan perebutan nama. Atau ia hanyalah berkaitan dengan sebutan, luaran yang tidak perlu dihubungkaitkan dengan persoalan Akidah dan keyakinan umat Islam. Menurut prof. Wan Mohd Nor walaupun kelihatan masalah nama dan bahasa ini sederhana tetapi melalui bahasalah pandangan alam (worldview) terbentuk. Perubahan pada bahasa dengan merubah maknanya akan memberi kesan yang besar kepada perubahan pandangan alam dan seterusnya keyakinan dan amal ibadah orang Islam.



Tentang Orang Arab Bukan Islam Yang Menggunakan Nama Allah



Untuk menjawab persoalan ini pertama sekali perlu dijelaskan bahawa konteks masyarakat Melayu dengan masyarakat Arab berbeza. Perkataan Allah adalah perkataan Arab yang telah wujud sebelum kedatangan Islam oleh nabi Muhammad saw. Orang bukan Islam yang datang ke negeri Arab, baik Yahudi mahupun Nasrani, telah menggunakan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan mereka selama lebih 1400 tahun yang lalu kerana bahasa Arablah bahasa yang mereka gunakan. Jika orang bukan Islam dalam masyarakat Arab hari ini masih menggunakan nama Allah maka hal ini wajar dalam konteks tersebut, kerana mereka tidak mengalami Islamisasi dan sehingga ke hari ini masih mengguanakan bahasa Arab. Dalam konteks Malaysia yang bahasanya bukan bahasa Arab, dan orang bukan Islam yang bukan orang Arab, maka penggunaan nama Allah oleh mereka adalah sesuatu yang janggal. Sesuatu yang dipaksakan, yang sengaja ditimbulkan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Oleh itu jika di negara-negara Arab hal ini dibenarkan, melihat kepada fakta sejarahnya, ia tidak boleh dijadikan ukuran untuk membenarkan hal yang serupa berlaku di Malaysia dan di negara-negara bukan Arab.





Sesetengah orang Islam yang keliru dalam menanggapi isu ini berhujah bahawa dalam al-Qur’an ada disebutkan bahawa orang Yahudi mendakwa ‘Uzair itu anak Allah’, dan orang Nasrani mendakwa bahawa ‘al-Masih itu anak Allah’ (lihat surah al-Tawbah: 30). Sebenarnya jika diperhatikan dengan teliti dan dengan mengambil kira perbezaan bahasa, yang mereka katakan sebenarnya tidaklah betul-betul sama seperti itu, kerana dalam bahasa mereka, iaitu bahasa Ibrani, perkataan yang mereka gunakan sebenarnya adalah Uzair itu anak Tuhan (Yahweh/ Elohim), dan al-Masih itu anak Tuhan (Yahweh/ Elohim), tidak ada perkataan Allah dalam bahasa mereka. Al-Qur’an sebenarnya menterjemahkan kata-kata mereka yang tentunya bukan dalam bahasa Arab tetapi dalam bahasa mereka sendiri, iaitu Ibrani, untuk difahami oleh orang Arab atau orang Islam. Oleh kerananya perkataan yang digunakan adalah Allah kerana Allah dari segi bahasa adalah Tuhan. Penggunaan dalil seperti ini oleh golongan ini menunjukkan sikap yang sembrono dan kurangnya kehati-hatian.





Sememangnya Allah adalah Tuhan semua nabi dan rasul. Tetapi Allah bukanlah Tuhan yang disembah oleh orang Yahudi dan Nasrani. Dengan penyelewengan yang berlaku dalam agama tersebut mereka tidak lagi beriman kepada Allah. Jadi mereka tidak boleh mendakwa diri mereka beriman kepada Allah. Maka dari itu sesuatu yang melambangkan ketidakcerdasan dan kenaifan apabila ada sesetengah orang berkomentar dalam isu ini “al-hamudillah, akhirnya orang bukan Islam percaya Allah itu Tuhan mereka”. Di sinilah pentingnya kita memahami iman, Islam dan Din dengan mendalam. Sebagaimana ditegaskan oleh al-Attas, iman dan Islam tidak hanya cukup dengan dakwaan percaya kepada Allah tetapi mestilah tunduk dan patuh dengan sebenar-benarnya (real submission and true obedience) kepada perintah dan suruhan Allah dengan mengikuti Rasulullah saw (al-Attas, Prolegomena: 54-56).





Untuk memahami dengan baik ayat-ayat al-Qur’an berkaitan nama Allah, perlu difahami terlebih dahulu bahawa dalam al-Qur’an ada dua bentuk penggunaan perkataan Allah, pertama yang umum merujuk kepada maknanya dari segi bahasa; kedua yang khusus merujuk kepada penggunaannya secara teknikal (istilahi). Hal ini tidak ekslusif pada kalimah Allah sahaja tetapi juga kalimah-kalimah lain seperti solat, bahkan kufur juga. Penggunaan yang umum biasanya merujuk kepada masyarakat bukan Islam. Sedangkan penggunaan yang khusus merujuk kepada pemahaman masyarakat Islam yang telah dibentuk akidah mereka. Penggunaan yang khusus lebih banyak daripada penggunaan yang umum, ini selaras dengan banyaknya ayat-ayat yang turun merujuk kepada tahap intensif Islamisasi. Tahap Islamisasi yang intensif sebenarnya berlaku di Makkah lagi apabila konsep-konsep mendasar dan penting dijelaskan dengan panjang lebar. Dalam konteks inilah ayat-ayat seperti dalam surah al-Ikhlas, al-Kafirun, ayat Kursi dll. diturunkan agar konsepsi yang jelas tentang Tuhan dapat difahami dan dihayati oleh kaum Muslimin.





Umat Islam yang telah mengalami proses Islamisasi, baik di Arab mahupun di alam Melayu, mempunyai konsepsi yang jelas tentang Allah. Konsepsi yang jelas ini adalah kesan proses Islamisasi selama lebih 1400 tahun di Arab dan lebih kurang 1000 tahun di alam Melayu. Islamisasi berlaku apabila nama-nama atau istilah-istilah yang telah wujud sebelum Islam diberikan makna baru. Proses Islamisasi ini telah menjadi garis pemisah antara Islam dengan kufur. Dalam konteks nama Allah ini Islamisasi telah memisahkan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain. Walaupun ia adalah sebuah nama bagi Tuhan, tetapi ia bukan sembarangan nama kerana maknanya sarat dengan perbezaan teologi yang mendasar dengan nama-nama tuhan yang lain. Adalah sesuatu yang malang jika umat Islam membenarkan orang bukan Islam, sedangkan ia berkuasa untuk melarangnya, konsepsi tentang Allah ini menjadi dangkal kembali. Jika ini berlaku bermakna umat Islam hari ini telah membenarkan berlakunya deislamisasi. Suatu langkah mundur 1000 tahun ke belakang. Kalimah la ilaha illa Allah yang bermaksud tiada tuhan melainkan Allah, dengan pendangkalan makna di atas maka kalimat tauhid ini akan bermaksud tiada tuhan melainkan Tuhan, walaupun bukan ini yang dikehendaki dalam Islam dan oleh para ulama’nya tetapi inilah maksud yang sah pada mata umum. Dengan demikian kalimah Tawhid yang seharusnya mempunyai kesan dan implikasi yang besar dalam kehidupan seorang Muslim akan menjadi bertindih, wujud percanggahan (incoherence) dan tidak memberi makna yang signifikan.



Masyarakat Jahiliyyah yang Menyebut Allah.



Golongan literal dan tekstualistik ini juga menyandarkan hujah mereka kepada ayat al-Qur’an Surah al-Zumar: 38 yang bermaksud “Dan Demi sesungguhnya! jika Engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah Yang mencipta langit dan bumi?" sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah".”





Memang pada zahirnya ayat tersebut menyatakan bahawa orang Quraish jahiliyyah pada hakikatnya percaya bahawa Allah adalah Tuhan mereka. Namun sebagaimana disebutkan di atas yang dimaksudkan dengan kalimah Allah di atas bukan kata khusus tetapi kata umum. Faktanya, kalimah Allah telah digunakan oleh masyarakat Jahiliyyah sejak sebelum Islam, maka tidak mungkin al-Qur’an menggunakan perkataan lain bagi merujuk kepada Tuhan. Jadi ketika ia menceritakan apa yang dipercayai oleh orang bukan Islam maka al-Qur’an mengatakan bahawa mereka percaya akan wujudnya Tuhan, bahawa Tuhan lah yang menciptakan segalanya. Ini kerana secara alamiahnya konsep Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak mereka dilahirkan di dunia. Tawhid datang melalui para Rasul untuk mengajarkan umat manusia siapa Tuhan itu sebenarnya. Dengan risalah Tawhid ini manusia dibebaskan daripada kepercayaan politeisme, dinamisme dan animisme. Kedatangan nabi Muhammad saw walaupun sebagai kesinambungan dari nabi-nabi sebelumnya tetapi juga untuk meluruskan penyimpangan akidah dalam agama Yahudi dan Nasrani. Jadi penggunaan nama Allah oleh masyarakat Jahiliyyah adalah penggunaan yang umum yang hanya bermaksud Tuhan kerana demikianlah erti Allah dari segi bahasa. Tetapi setelah kedatangan Islam penggunaan umum ini tidak relevan bagi masyarakat Islam dan masyarakat bukan Islam yang bukan Arab pada hari ini. Maka ayat di atas sebenarnya tidak sama sekali membenarkan orang bukan Islam di negara ini menggunakan nama Allah untuk Tuhan mereka. Kerana Arab jahiliyyah telah memiliki kalimah Allah ini sebelum Islam datang sedangkan orang bukan Islam di negara ini, dan di negara selain Arab, tidak mengenal kalimah ini. Kesimpulannya adalah satu pembohongan apabila ada yang mengatakan bahawa terdapat dalil yang membenarkan orang bukan Islam menggunakan nama Allah.



Bahaya Pendekatan Literal dan Tekstualistik



Terdapat kekeliruan yang besar apabila sebahagian ilmuwan dan orang awam cenderung mempertanyakan dalil atau nas bagi setiap persoalan yang timbul. Kelompok literal dan rigid ini ketika melihat ada sebahagian ayat al-Qur’an yang secara literalnya seolah-olah membenarkan penggunaan nama Allah oleh bukan Islam maka secara terburu-buru tanpa meneliti dengan mendalam maksud ayat-ayat tersebut dan perbezaan konteksnya lalu terus mengambil kesimpulan bahawa orang bukan Islam boleh menggunakan nama Allah.





Perlu dijelaskan bahawa tidak semua persoalan perlu ditanyakan apakah dalilnya, jika ada nas maka barulah sesuatu dapat diperkatakan jika tidak maka ia hanyalah pandangan yang relatif, boleh ditolak atau diterima. Hakikatnya selain nas, ada ilmu yang diwariskan oleh para ulama. Inilah yang dimaksudkan bahawa ulama itu pewaris nabi. Bahawa mereka itu mewariskan ilmu yang diperolehi oleh nabi (hadith). Kelebihan ilmu ini jugalah yang membezakan si jahil dengan orang alim. Orang jahil boleh sahaja berhujah dengan ayat dan hadith tetapi dia tidak tahu pasti bagaimana ayat dan hadith itu difahami dan digunakan.





Kita tahu bahawa ayat-ayat al-Qur’an terhad dan permasalahan yang timbul sentiasa bertambah. Seorang mujtahid, ulama atau pemikir, perlu dapat memberikan jawapan bagi setiap persoalan berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadith yang terhad itu. Di sinilah letaknya kedinamikan Shari’ah, sehingga ia sesuai diterapkan sepanjang masa. Mereka harus dapat merumuskan prinsip-prinsip baik tersurat mahupun tersirat daripada al-Qur’an dan Sunnah. Berdasarkan prinsip-prinsip inilah mereka cuba menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang timbul. Oleh itu kemampuan yang perlu ada pada seorang mujtahid bukanlah mengeluarkan ayat-ayat atau hadith dalam menanggapi sesuatu persoalan tetapi kebijaksanaan yang terbit dari kefahamannya yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Sunnah serta karya-karya ulama terdahulu (al-Turath).





Malangnya hari ini yang berpandukan kepada kewujudan dalil bukan hanya orang awam tetapi mereka yang mendabik diri mereka ulama. Mereka mencari dalil, walhal ini adalah persoalan baru yang memerlukan pemikiran yang mendalam. Sepatutnya yang ditanyakan bukan apakah dalilnya tetapi apakah hujahnya? Ketika suatu persoalan itu tidak ada dalil yang qat’i mengenainya tidak bermakna kita tidak memiliki hak untuk memberikan kata putus dalam hal tersebut. Oleh kerana itu dalam persoalan nama Allah ini ulama fiqh bukan pakarnya. Mereka terbiasa dengan pencarian dalil dalam mengistinbatkan hukum. Ini persoalan usuluddin atau ilmu tawhid. Seseorang yang ingin membahas isu ini perlu menguasai teologi, ilmu kalam, epistemologi Islam, falsafah Islam dan metafizik Islam. Persoalannya bukan apakah hukumnya halal atau haram tetapi lebih penting dari itu apakah kesannya terhadap akidah seorang Muslim? Walaupun sepatutnya mujtahid menguasai kedua bidang ini, Shari’ah dan Usuluddin dengan baik, namun realitinya pada hari ini jarang hal itu berlaku.



Kepentingan Ilmu Kebijaksanaan



Menyedari kerumitan masalah ini dan skopnya yang melampaui hukum-hakam, maka ilmuwan Fiqh bukanlah orang yang patut menjadi rujukan dalam persoalan ini. Kecenderungan hari ini menampakkan bahawa ulama fiqh dapat menjawab segala persoalan. Ataupun semua persoalan adalah persoalan fiqh. Hakikatnya tidak semua persoalan dapat dikategorikan sebagai hukum hakam dan bukan semua persoalan dapat dipecahkan dengan kaedah fiqh. Persoalan nama Allah ini menunjukkan bahawa ada perkara-perkara yang memerlukan kepada kekuatan hujah yang memerlukan perenungan, kefahaman yang mendalam dan kebijaksanaan yang tinggi dan bukan hanya pencarian dalil dan pemahaman yang literal.





Tampak jelas bahawa terdapat kecenderungan yang meluas ketika ini sikap literal dan tekstualistik dalam memahami Islam. Golongan ini kononnya mengikuti hanya al-Qur’an dan al-Sunnah dan tidak merasa perlu untuk mengikuti pandangan para ulama. Golongan pseudo-salafi ini mengatakan jika tiada nas atau dalil maka apapun yang diutarakan hanyalah pandangan yang relatif kerana ia berdasarkan kepada akal fikiran manusia yang boleh ditolak dan boleh diterima. Sebenarnya dalam banyak hal kita perlu menggunakan kebijaksanaan kita dan bukan bersikap literal dan tekstualistik. Tidak semua perkara perlu dikemukakan soalan apakah ada dalil atau nas tentang hal itu? Jika tiada maka kita tidak berhak mengatakan ianya tidak boleh. Kalau ada dalil, yang secara zahirnya membenarkan, tanpa perlu melihat maksud dan konteksnya maka keputusan terus diambil tanpa berfikir panjang. Tidak wajar ditanyakan contohnya apakah dalilnya pluralisme agama haram, liberalisme, feminisme dsb? Sikap literal dan tekstualistik ini menyebabkan sebahagian orang bersikap ekstrim dan rigid (kaku) contohnya segolongan mengongkong isteri mereka dari keluar rumah, dengan alasan adanya nas al-Qur’an yang memerintahkan seperti itu. Ada yang berpandangan bahawa kerana ilmu itu milik Allah, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, maka cetak rompak dan plagiarisme dibenarkan. Bahkan golongan ekstrimis yang banyak melakukan keganasan juga menggunakan ayat al-Qur’an yang menyuruh membunuh orang kafir tanpa memahami konteksnya dan dalam keadaan apa ayat itu berlaku. Semua pendekatan ini sangat bersalahan dengan suruhan al-Qur’an dan di samping itu akan memberi kesan negatif kepada kebijaksanaan orang Islam.





Islam memberi tempat yang sewajarnya kepada akal fikiran (human intelligence). Yang dimaksudkan di sini bukanlah reason dan hubungannya denga rasionalisme falsafah yang berkembang di Barat. Mengenai rasionalisme Barat yang menjadi pegangan golongan liberal dan modenis ini penulis telah jelaskan dalam buku tersendiri (Lihat Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, 2006 dan 2009). Adapun kedudukan dan kepentingan akal dalam Islam telah dijelaskan oleh ulama’-ulama muktabar. Imam al-Ghazali antara lain mengatakan:



“Akal itu umpama penglihatan yang selamat dari cacat cela, dan al-Qur’an itu umpama matahari yang menyinari jagat raya, dengan keduanya seseorang dapat memperolehi hidayah. Seorang yang mengambil salah satunya tergolong dalam orang-orang yang bodoh, orang yang menolak akal hanya cukup dengan cahaya al-Qur’an sama kedudukannya dengan orang yang mendapatkan cahaya matahari tetapi menutup hati, maka tidaklah berbeza dia dengan orang yang buta. Maka akal dengan Shara’ adalah cahaya di atas cahaya”. (Al-Iqtisad fi al-I’tiqad: 4).



Kecenderungan golongan pseudo-salafi yang anti akal ini sebenarnya tidak mempunyai akarnya dalam tradisi Islam. Bahkan Ibn Taymiyyah yang mereka angkat sebagai imam Salafiyyah tidak mempunyai sikap sedemikian. Ibn Taymiyyah sepakat dengan al-Ghazali tentang kepentingan akal ini. Ibn Taymiyyah mengatakan:



“Akal itu syarat dalam mencapai ilmu pengetahuan dan kesempurnaan amal soleh, dengannya akan sempurna ilmu dan amal. Ia seperti kuatnya penglihatan bagi mata maka ketika bertemu dengan cahaya iman dan al-Qur’an maka umpama bertemunya cahaya mata dengan cahaya matahari dan api dan jika mencukupi dengan salah satunya tidak akan dapat seseorang itu memahami segala sesuatu”. (Majmu’ Fatawa: 3:338).



Bahkan ulama’-ulama usul fiqh sendiri mengiktiraf penggunaan akal apabila mereka menjadikan qiyas, istislah, istihsan, masalih mursalah, dan sadd al-zari’ah sebagai sumber hukum sekunder. Di sinilah bermulanya perbezaan antara golongan pseudo-salafi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah di mana golongan pseudo-salafi ini cenderung rigid terhadap nas dan menolak penggunaan akal dan kebijaksanaan.





Kelompok yang membenarkan orang bukan Islam menggunakan nama Allah kemudian mengenakan syarat kepada orang bukan Islam supaya tidak menyalahgunakan kebenaran tersebut untuk mengkristenkan orang Islam. Ada juga yang memberikan panduan bagaimana orang bukan Islam menggunakan nama Allah. Justeru ini membuktikan adanya kecelaruan (incoherency) dalam cara berfikir mereka.





Pertama sekali tidak ada alasan orang bukan Islam untuk mendengar nasihat kelompok ini, kerana mereka sendiri tidak mewakili umat Islam apalagi untuk mempengaruhi orang bukan Islam. Kedua, sesuatu yang tidak masuk akal, melihat sejarah kristianisasi yang begitu dahsyat di alam Melayu ini, mereka akan akur dengan nasihat orang yang dikatakan ‘ulama’ ini. Orang Kristian telah memperjuangkan isu ini dengan bersungguh-sungguh dan mereka amat gembira apabila keputusan mahkamah tinggi memihak kepada mereka, sebahagiannya dikeranakan wujudnya perbalahan di kalangan ilmuwan Islam sendiri. Kemenangan ini bagi mereka menunjukkan kebenaran dakwaan mereka bahawa semua agama pada hakikatnya sama, menyembah Tuhan yang sama. Maka kebenaran menggunakan nama Allah akan menjadi satu pencapaian besar bagi orang Kristian. Hakikatnya ia akan memudahkan lagi proses kristianisasi orang-orang Islam. Kristianisasi ini walaupun tidak dibenarkan dari segi undang-undang tetapi telah berjaya memurtadkan ramai golongan remaja di negara ini.







Bagi umat Islam ia adalah satu kerugian yang sangat besar. Islam tidak akan rugi, berkurang atau rendah kerana hal ini tetapi umat Islam akan semakin terhimpit. Kefahaman masyarakat terhadap akidah Islam akan semakin menipis. Kekeliruan akan semakin merajalela. Kerana dari bahasa pandangan alam akan berubah. Deislamisasi banyak berlaku melalui proses pendangkalan makna. Pendangkalan seperti Islam hanya kepada berserah diri, iman hanya menjadi percaya kepada Allah. Oleh kerananya ramai orang bukan Islam mengaku diri mereka muslim dan mukmin (dengan m kecil), kerana mereka juga berserah diri dan percaya kepada Allah, yang kini cuba didangkalkan maknanya hanya bermaksud Tuhan.





Kecelaruan dalam masalah ini timbul kerana ulama’ fiqh yang tidak berautoriti terburu-buru memberikan pandangan mereka berdasarkan pengetahuan dan kemahiran mereka yang terbatas itu. Seharusnya mereka dapat menahan diri mereka dari memperkatakan sesuatu yang mereka tidak pasti, dan mengakui keterbatasan ilmu yang mereka miliki. Pandangan yang sembrono ini dapat merugikan umat Islam dan menimbulkan lebih banyak kekeliruan. Mereka juga sepatutnya menghormati pandangan ilmuwan yang lebih berautoriti, dan berwibawa dalam bidang yang lebih relevan iaitu ilmu usuluddin, atau ilmu tawhid. Tidak seperti zaman dahulu, pengkhususan yang menjadi ciri pendidikan hari ini menyebabkan ulama fiqh tidak menguasai dengan baik ilmu usuluddin, begitu juga sebaliknya. Kerana itu penting untuk setiap ilmuwan memahami keterbatasan bidang masing-masing dan menyerahkannya kepada orang yang lebih layak untuk dirujuk. Inilah yang disebut sebagai adab, yang bukan sahaja perlu ada pada penuntut ilmu tetapi juga pada para ilmuwan kepada ilmuwan yang lebih tinggi derajatnya. Jelas bagi saya bahawa kecelaruan dalam masalah ini menunjukkan semakin parahnya fenomena kehilangan adab di kalangan umat Islam tidak terkecuali golongan cendekiawannya.





Perlu juga ditegaskan penekanan kepada adab di sini bukan untuk menghalang ijtihad di kalangan ilmuwan tetapi menegaskan peri pentingnya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang ilmuwan yang memberikan pandangan dalam hal yang bukan kepakarannya tidak sama sekali dapat disebut sebagai ijtihad. Pandangan yang diberikan oleh ulama seperti ini sebenarnya bukan ijtihad. Pandangan seseorang ulama dikatakan ijtihad jika ia memiliki ilmu yang mencukupi dalam bidang tertentu dan berusaha dengan sebaik mungkin untuk memahami sesuatu persoalan sampai ke dalam dalamnya, barulah apabila dua syarat ini dipenuhi maka ia dikatakan ijtihad, jika tidak ia hanya boleh dianggap pandangan seperti pandangan orang awam. Hanya ijtihad sahaja yang jika salah sekalipun mendapat satu pahala, sedangkan pandangan yang mengelirukan boleh mendatangkan dosa khususnya apabila pandangan itu diberikan tanpa hati-hati, tanggungjawab moral dan ketaqwaan.









Penutup







Telah banyak pandangan ulama' besar dikemukakan. Al-Attas sejak tahun 80an, Wan Mohd Nor yang banyak dikutip oleh penulis, dan baru-baru ini Siddiq Fadzil dan Haron Din telah menjelaskan isu ini. Sepatutnya kewibawaan tokoh-tokoh ini sudah cukup untuk menjadi ukuran dalam memahami persoalan ini dan bukan populariti sesetengah orang yang dikatakan ulama’ itu. Isu ini adalah isu Akidah dan kedaulatan Islam. Ia lebih besar daripada isu politik. Perbezaan ideologi politik tidak harus membutakan hati nurani kita daripada mengenali kebenaran.



Isu penggunaan nama Allah oleh bukan Islam bagi saya melambangkan betapa seriusnya fenomena kehilangan adab di kalangan umat Islam, tidak terkecuali golongan intelektualnya. Adab di sini bukan hanya suatu sikap yang perlu ada bagi penuntut ilmu kepada gurunya, atau dari orang bawahan kepada orang atasan, tetapi yang paling mendasar adalah memahami dengan baik dan meletakkan sesuatu termasuk diri sendiri dan orang lain pada tempat yang yang wajar dan tepat. Agar yang tidak tahu menyedari ketidaktahuannya lalu mahu tahu dengan merujuk orang yang betul-betul tahu. Kita lihat bagaimana isu ini diperbincangkan tanpa merujuk kepada ilmuwan-ilmuwan yang berautoriti/ berwibawa dalam bidangnya. Ilmuwan-ilmuwan kecil yang cuba ber'ijtihad' tanpa menyedari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Terdapat ilmuwan yang mencampur adukkan politik dengan urusan agama sehingga kecenderungan politiknya mempengaruhi pandangannya dalam hal ini. Memang tidak mudah menahan diri dari mendapatkan political mileage apabila kemenangan pilihanraya banyak ditentukan oleh undi orang bukan Islam. Kerana itu ulama’-ulama’ muktabar tidak mahu terlibat dalam politik dan kepartian. Ramai juga yang cuba memperkatakan sesuatu dengan merujuk kepada sumber-sumber yang tidak jelas (seperti google, wikipedia dll), dan pengalaman bangsa asing, lalu mendakwa diri mereka tahu sesuatu dan menunjukkan diri mereka faham agama dan menghukum ulama’ yang berhati-hati sebagai kolot, tidak toleran dsb. Ada juga segolongan ilmuwan yang menangkuk di air keruh, ilmuwan palsu yang diangkat kerana rapat dengan penguasa, yang tidak dapat mempertahankan kebenaran ketika ia diserang dari pelbagai penjuru tetapi mendapat pujian dan pengiktirafan atas sesuatu yang bukan hasil usahanya. Jika kita umat Islam sendiri tidak jujur kepada Allah dan diri sendiri, mengapa mengharapkan pertolongan Allah dan ingin musuh-musuh Islam bersikap adil kepada umat Islam.



Setelah umat Islam bingung, keliru dan hilang pedoman maka dengan mudah faham-faham asing seperti sekularisme, liberalisme, pragmatisme, sinkretisme, pluralisme agama, neo-sofisme, saintisme, dll memasuki relung fikiran dan jiwa umat Islam. Faham-faham ini apabila telah merasuk diri sebahagian umat Islam akan menyebabkan mereka hilang keyakinan terhadap kebenaran Islam, skeptis terhadap Islam, merendahkan dan curiga terhadap para ulama’, bahkan tidak jarang juga yang memilih untuk menjadi ateis, agnotis atau murtad. Di sinilah tragedi bermula dan semuanya berpunca daripada kegagalan kita bersikap adil dan beradab terhadap Allah, agama-Nya dan diri kita sendiri.





** Penulis merupakan Felo Penyelidik di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia.





Rujukan





Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972. Dan syarahan beliau sepanjang penulis berguru di ISTAC.







________. Islam and Secularism, diterbitkan oleh ABIM pertama kali pada 1978. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.







________. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 1995.







Al-Ghazali, Abu Hamid. al-IqtiÎÉd fi al-I‘tiqÉd. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1983.







Ibn Taymiyyah, Ahmad Abd al-Halim. Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah. Kaherah: Dar al-Fikr, 1983.







Khalif Muammar. Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, cetakan ke-2. Bangi: Institut Alam dan Tamadun Melayu, 2009.







________. “Isu Herald: Ketika Agama Diheret Untuk Kepentingan Politik” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=236&Itemid=105 (20 Januari 2008)







________. “Isu Nama Allah: Isu Akidah Bukan Perebutan Nama” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=246&Itemid=170 (14 Mei 2008)







________. ”Why Non Muslim Cannot Use the Word Allah” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=275&Itemid=1(2 Mac 2009)







Rahmah Ghazali, “Haron Speaks for Himself” dalam http://www.malaysiakini.com/news/121161







Siddiq Fadzil. ”Kontroversi Pemakaian Kalimat Allah: Suatu Pernyataan Keprihatinan” dalam http://www.wadah.org.my/kenyataan-media/54-info-wadah.html







Wan Mohd Nor Wan Daud. Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Pemikiran Bangsa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006. Juga perbincangan peribadi dengan beliau yang dilakukan hampir setiap hari.





Sumber : Http://Khairaummah.Com

05 Januari 2010

Ratib Al Attas & Asmaul Husna

Ratib Al Attas & Asmaul Husna


Jumaat mlm Sabtu Minggu ke 2

Masjid Al Mukarramah, Bandar Sri Damansara

Website: http://www.masjidalmukarramah.org/

Habib Hussein Al Attas



Ratib Al Attas & Asmaul Husna

28/01/2010

Surau Al Syakirin, Bandar Utama

Habib Ali Al Sagoff

Website: http://www.suraualsyakirin.com/

Kufur Jika Sokong Guna Kalimah Allah - Haron Din

Kufur Jika Sokong Guna Kalimah Allah - Haron Din
Oleh ARIFFUDDIN ISHAK




BANGI: Mana-mana umat Islam yang menyokong keputusan Mahkamah Tinggi membenarkan penggunaan kalimah 'Allah' dalam akhbar mingguan Herald-The Catholic Weekly dalam penerbitannya boleh membawa kepada kekufuran.



Timbalan Mursyidul Am PAS, Datuk Dr Haron Din berkata, menyokong kepada sesuatu perkara yang salah di sisi Islam juga secara tidak langsung boleh menyebabkan berlakunya kekufuran dan syirik.



"Saya menyeru kepada sahabat-sahabat saya supaya mempertimbangkan semula pendirian mereka.



"Kalau kita sokong perkara yang kufur, kita pun secara tak langsung akan kufur sama," katanya dalam sidang media di kediamannya di sini hari ini.



Tokoh agama itu turut melahirkan kekesalannya terhadap beberapa penulis blog termasuk di kalangan beberapa pemimpin parti-parti politik yang menyatakan sokongan mereka kepada keputusan berkenaan.



"Saya harapkan orang-orang ini boleh bersatu pandangan, memanglah setiap orang itu ada kebebasan bersuara.



"Kalau hal politik memanglah ada banyak pandangan, tapi kalau hal agama, kita perlu balik kepada kaedah agama.



"Kalau kita berpuas hati dengan perkara yang syirik ia akan membawa kepada kekufuran," katanya tanpa menyebut secara khusus blog-blog berkenaan.



Baru-baru ini Yang Dipertua PAS Shah Alam, Khalid Samad dalam blognya menyatakan sokongan terhadap keputusan membenarkan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan sebuah akhbar mingguan katolik.



Pandangan beliau itu menimbulkan reaksi negatif daripada banyak pihak termasuk Ahli Parlimen Kulim-Bandar Baharu, Zulkifli Nordin yang menggesa Ahli Parlimen Shah Alam itu supaya keluar PAS.



Khamis lalu, Mahkamah Tinggi membenarkan Herald-The Catholic Weekly menggunakan kalimah Allah dalam penerbitannya atas alasan ia mempunyai hak dalam Perlembagaan.



Hakim Datuk Lau Bee Lan menegaskan, KDN telah bertindak secara salah ketika mengenakan larangan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan akhbar mingguan itu.



Pada 16 Februari lalu, Ketua Paderi Roman Katolik Kuala Lumpur, Tan Sri Murphy Pakiam, sebagai penerbit akhbar itu memfailkan permohonan semakan kehakiman bagi menuntut deklarasi bahawa keputusan Menteri Dalam Negeri melarangnya menggunakan perkataan Allah adalah haram dan perkataan itu bukan eksklusif bagi agama Islam.



Dalam pada itu, Haron din turut meragui niat akhbar berkenaan yang bertegas mahu mendapatkan kebenaran menggunakan kalimah Allah dalam penerbitan mereka.



"Kenapa sekarang nak gunakan nama Allah? Saya yakin mesti ada niat yang tersurat dan tersirat.



"Kalau niat mereka baik, saya nasihatkan supaya jangan gunakan kalimah itu kerana ia tidak baik untuk kita umat Islam... sesuatu yang mendatangkan keburukan mestilah dicegah," katanya.



Selain itu Haron Din berkata, pada masa akan datang perkara yang melibatkan hal agama sepatutnya dibicarakan di Mahkamah Syariah.



"Hal Allah ini adalah hal agama, jadi tempat penyelesaiannya adalah di Mahkamah Syariah.



"Kenapa nak bawa kes ini ke Mahkamah Sivil? Saya menyeru kes ini supaya kes ini diselesaikan di Mahkamah Syariah," katanya.



Beliau juga meminta semua pihak termasuk kerajaan dan Majlis Raja-Raja supaya segera menyelesaikan isu berkenaan.



"Saya merayu Raja-Raja Melayu supaya jangan memandang ringan perkara ini, selesaikan dengan cara setiakawan dan faham memahami perasaan masing-masing," katanya.MSTAR
http://dupahang.wordpress.com/

04 Januari 2010

Pengajian Kitab bersama Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam

Pengajian Kitab bersama Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam




SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI





Kitab Sairus Salikin 1

karangan SYAIKH ABDUS_SHAMAD AL FALIMBANI

Bertempat Dewan Solat MAF USJ 9

Tarikh Ahad , 24 Jan 2010 (09 Safar 1431)

JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR





http://pondokhabib.wordpress.com